Usai Pesta

Usai Pesta
Membuka Diri


__ADS_3

Hari ini, Luna memutuskan untuk tidak masuk ke kantornya. Ia meminta ijin untuk membawa kakaknya ke rumah sakit.


Kak Dewi dalam kondisi baik. Wajahnya sudah tidak pucat. Ia tak lagi melamun. Ia sudah bisa memasak, merajut, dan melakukan kegiatan kegiatan ibu ibu rumah tangga normal. Ia ingin kembali ke rumah, menemani suaminya. Tapi, ibu belum memperbolehkan. Ibu belum yakin dengan kestabilan emosi Kak Dewi.


Dokter meminta Kak Dewi untuk berkonsultasi rutin dan menemui psikolog untuk membicarakan apa pun itu yang ada dalam pikirannya. Tapi, Kak Dewi menolak mentah mentah saran ke psikolog.


"Aku tidak gila, Bu!" Ucap Kak Dewi dengan tegas.


Di dalam mobil menuju rumah sakit, Luna dan Kak Dewi akhirnya mempunyai kesempatan untuk bicara berdua saja, setelah sekian lama.


Bagi keduanya, ini adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu untuk melepaskan segala kelelahan batin yang mereka simpan selama ini.


"Kak, nanti sekalian ketemu sama psikolog, ya?" Tanya Luna hati hati. Kak Dewi hanya melengos.


"Mendingan aku bicara sama kamu saja daripada sama psikolog. Sudah orang asing, mahal, belum tentu dapat solusi! Tau apa dia tentang aku!" Tampil Kak Dewi.


Luna mencoba tersenyum. Ia meremas tangan kakaknya.


Luna berharap kali ini, dia bisa mendengar langsung permasalahan yang menghimpit kakaknya. Meskipun dirinya sendiri juga sedang menghadapi masalah besar dengan Juna.


Luna mengesampingkan masalahnya kali ini. Ia melihat kepedihan di mata Kak Dewi. Luna merasa keadaan kakaknya lebih penting daripada apapun saat ini.


"Ya sudah, kalau begitu mau cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi selama ini Kak?" Tanya Luna masih dengan hati hati, takut menyinggung perasaan Kakaknya itu.


Kak Dewi terdiam lama, menatap jalanan di luar jendela mobil.


Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai kembali pembicaraan.


"Rumah tanggaku bermasalah." Ujar Kak Dewi pelan.


"Kami tak seharmonis dan tak sesempurna yang selama ini kami perlihatkan di depan orang lain. Semua hanya palsu, Lun." Ucapan Kak Dewi terdengar sinis, seolah menyindir dirinya sendiri.


Sontak, Luna terkejut. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan terus mendengarkan semua curahan hati kakak tercintanya itu.


"Aku mencintai Roni dan anak anak. Selama ini, aku mengorbankan karir dan memutuskan berada di rumah untuk mereka. Tapi, mungkin itu belum cukup membuatku menjadi ibu dan istri yang baik." Lanjut Kak Dewi dengan ekspresi yang datar. Matanya memandang lurus ke depan, pada hamparan kemacetan di pagi hari.


"Aku telah meminum obat anti-depresan, sejak anak keduaku lahir. Entah kenapa, aku merasa suamiku semakin menjauh dari genggaman. Aku merasa gagal menjadi istri yang baik untuknya." Kak Dewi masih tanpa ekspresi menatap ke depan.


Luna menggeleng kepala lemah. Ia tak menyangka, kakaknya yang selalu terlihat baik baik saja, bahagia dengan kehidupannya. Ternyata menyimpan sesuatu yang seharusnya dia sampaikan dan ungkapkan pada orang lain. Kak Dewi hanya tak ingin menyusahkan siapa siapa, bahkan tak ingin membuat khawatir ibu dan ayah.


"Roni selalu terlihat lelah. Kadang kadang dia seolah seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, aku tak banyak bertanya padanya. Aku pikir dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Memang kedua anak kami membutuhkan banyak biaya saat ini. Untuk biaya sekolah, kebutuhan harian kami, dan lain lain. Lalu aku, tidak dapat membantunya sepeser pun. Aku hanya bisa di rumah! Menghabiskan semua uang dari suamiku!" Kak Dewi terdiam sejenak, mengambil napas menjeda.

__ADS_1


"Tidak seperti kamu. Kamu bekerja di kantor dan dapat menghasilkan uang untuk keluarga." Imbuhnya lirih terdengar getir.


Luna hanya diam mendengarkan semua ucapan Kak Dewi. Ia tak ingin membantah atau pun mengiyakan semua ucapannya, Luna ingin menjadi pendengar yang baik bagi Kakaknya.


"Jelas jelas rumah tanggaku juga bermasalah, Kak. Ibu bekerja atau Ibu rumah tangga itu sama saja. Sama sama bertujuan mulia untuk menopang rumah tangga dan keluarganya. Semua itu pilihan, Kak." Ucap Luna dalam hatinya. Ia tak berani mengucapkan saat ini pada Kakaknya.


"Lelah itu biasa, Kak. Semua orang mengalaminya. Bukan berarti tidak bahagia." Sahut Luna.


"Kalau begitu, kenapa dia selingkuh dengan wanita lain?" Tukas Kak Dewi tajam. Masih ada luka yang mendalam di matanya.


Luna terkesiap.


Ia pernah mendengar tentang ini dari mulut Juna. Namun, tentu saja ia pikir Juna hanya mengada ada, karena iri pada Roni.


"Selingkuh bagaimana, Kak?" Tanya Luna sambil menatap kakaknya tajam.


Saat ini Luna merasa marah luar biasa pada Roni yang telah membohongi kakaknya dan seluruh keluarga.


Berlagak menjadi pria teladan, sosok suami idaman, dan mantu teladan, namun selingkuh dan penuh kepalsuan!


Air mata mengalir keluar dari sudut mata Kak Dewi.


Luna mengerem mendadak mobilnya. Mereka sedang berada di lampu merah. Luna mengelus rambut kakaknya. Ia tak dapat menahan lagi deru tangisnya.


"Maafkan aku, Kak. Aku sungguh tidak tahu semua yang Kakak alami selama ini."


Kak Dewi tak menjawab.


Terdengar suara suara bising klakson si belakang mobil yang menyuruh mereka berjalan kembali, karena lampu telah hijau.


*


*


Akhirnya Kak Dewi menurut untuk menemui dokter di rumah sakit, setelah melihat adiknya, Luna yang meyakinkan dirinya, bahkan merelakan waktunya untuk menemani dirinya saat ini.


Terutama ia telah mengungkapkan semua yang ada di dadanya selama ini pada Luna. Prahara rumah tangganya, yang ternoda karena perselingkuhan Roni selama ini.


Luna memutuskan untuk duduk di ruang tunggu rumah sakit, saat Kak Dewi sedang diperiksa dan melakukan tahap konseling.


Bukan supaya Kak Dewi dapat fokus, bukan! Luna merasa suasana di dalam ruang dokter itu membuatnya merasa mual.

__ADS_1


Di usia kehamilannya yang semakin tua, ia masih terus merasakan mual. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan rasa mual yang sangat menggangu itu.


Sudah hampir tiga puluh menit, Luna menunggu, duduk pada bangku putih yang kasar. Pinggangnya terasa sakit dan posisinya selalu salah, karena perutnya yang semakin membesar. Dengan resah ia Gonta ganti posisi duduk, mencari posisi yang nyaman.


Ia menyapu pandangan ke sekeliling. Ia merasa haus. Lalu ia menemukan tulisan 'Kantin' di sebuah sudut.


Dengan susah payah, Luna bangun dari kursi dan berjalan menuju kantin.


Ia mengambil sebotol air mineral yang terpajang di meja, dan membayarnya.


"LUNA!" Seseorang menepuk pundaknya dengan keras. Seketika, Luna menoleh, dan berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dengan tersenyum.


"Debby? Kamu, kok, di rumah sakit? Mama Rey?" Tanya Luna setelah mereka saling mencium pipi kanan dan kiri.


"Si Rey? Ya di kantor lah, Bu. Aku ke sini mau beli obat muka dulu. Krim pagi sudah habis, nih!" Debby yang bertubuh tinggi langsing dengan wajah porselen itu adalah kekasih Rey.


Juna dan Luna sering melakukan double date dengan Debby dan Rey. Sama seperti Rey, Debby adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, harus beres, jika berurusan dengan Debby.


"Ya ampun, kami hamil? Aku baru tahu!" Kata Debby sambil mengelus elus perut Luna.


"Iya, sudah jalan empat bulan." Sahut Luna sambil tersenyum.


"Pantes, kamu kelihatan lebih gemuk. Naik berapa kilo? Ini pinggul kamu gedean, pasti anakmu nanti perempuan, deh! Siap siaplah nanti kalau punya anak cewe yang susah diatur seperti kita waktu masih ABG dulu, he-he-he." Cerocos Debby.


"Ntar kalau setelah punya anak gimana? Lanjut kerja lagi apa nggak? Sayang, sih, ya, posisimu sudah bagus sekarang! Biaya hidup dan sekolah anak sekarang makin WOW..!" celotehan Debby bagai senapan otomatis.


Tipe tipe orang yang tidak sadar bahwa mereka punya mulut besar yang pahit. Luna hanya tersenyum kecut.


"Oya, apa kabar Juna?"


Pertanyaan Debby yang terakhir benar benar seperti palu yang menghujam ke kepala Luna. Ia tak dapat membuka mulutnya. Debby yang tak sabar, langsung bertanya lagi.


"Rey bilang, Juna di Solo. Ngapain aja dia di sana? Jangan lupa kamu titip batik, deh! Langsung dari Solo. Biasanya bagus bagus motifnya." Sambung Debby.


Luna terkejut.


Solo? Apa yang Juna lakukan di Solo? Apakah dia akan memulai sebuah kehidupan baru di sana? Kehidupan baru tanpa diriku?


Luna terbelalak. Ia tak tahu harus bicara apa lagi.


Kemudian Debby berpamitan dan menjauh. Luna masih berdiri mematung. Otaknya berputar memikirkan segala ucapan Debby. Membayangkan apa yang sedang dilakukan Juna saat ini. Apakah Juna mengingat istrinya, seperti Luna mengingat suaminya?

__ADS_1


__ADS_2