
Setelah menghabiskan makan siangnya, Luna menatap ponselnya. Luna membuka aplikasi whatsapp pada ponselnya, dan menatap sebuah nomor asing yang pernah beberapa kali menghubunginya, sebelum kejadian tempo hari. Lalu seminggu kemudian nomor itu mengirimkan pesan 'hai'. Hanya itu.
Luna melihat kembali profil nomor itu, seperti sebuah siluet, seperti profil yang sering dipakai oleh Juna.
Mungkin, Juna ingin memberitahu, bahwa itu nomor barunya, namun dia masih ragu.
Luna masih berpikir. Dia terngiang oleh nasihat Kak Dewi.
"Kalian masih saling mencintai satu sama lain. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Ingatlah akan bayi yang ada dalam kandunganmu, dia masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya yang utuh."
Luna menatap nomor asing itu kembali, lalu memantapkan hatinya untuk mengirimkan pesan.
"Hai, ini Luna. Jika ini benar kamu. Aku ingin bertemu. Aku ingin kita bicara dari hati ke hati berdua. Hanya berdua, tanpa campur tangan dari pihak lain. Nanti malam kita bertemu pukul 8, di tempat favorit kita."
Luna mengirim pesan itu ke nomor asing yang menurut instingnya adalah nomor ponsel Juna yang baru.
Toh, seandainya benar itu nomor Juna, dia pasti akan datang. Itu kata hati Luna.
Namun, Luna sudah pasrah, jika sebaliknya. Luna tetap berharap instingnya benar dan Juna benar benar datang menemuinya nanti malam sepulang kerja.
*
Juna membaca pesan yang baru masuk.
Dia tersenyum saat mengetahui siapa yang mengirimkan pesan itu. Luna mengajaknya bertemu nanti malam, di tempat favorit mereka.
Juna sangat ingin menemui Luna, dia sangat merindukan istrinya itu.
Ketika hari sudah mulai gelap, dan pekerjaan mulai selesai. Juna merapikan mejanya dan keluar dari kantornya.
Ia kembali termangu di depan pintu masuk halte busway. Dalam hatinya, dia sangat ingin bertemu dengan Luna, untuk memperbaiki kembali pernikahan mereka.
Namun, di sisi lain hatinya. Juna merasa bimbang, karena masih merasa trauma dengan kejadian kemarin.
Juna masih merasa takut dan khawatir, bagaimana, jika ini adalah semacam jebakan saja untuknya?
"Mas, kalau tidak mau masuk, jangan ngalangin jalan, dong!" Tegur ibu ibu yang ada di belakang Juna sambil menatapnya dengan kesal.
"Oh, maaf." Spontan Juna menjauh dari pintu masuk halte.
Juna merutuki dirinya sendiri, mengapa melamun di tempat umum.
__ADS_1
Semenjak, Juna tidak bersama Luna. Dia selalu naik transportasi umum. Terkadang Juna naik ojek online, namun, karena jaraknya lumayan jauh, biayanya jadi membengkak jika terus terusan.
Lagian transportasi umum Jakarta, sudah bagus saat ini.
Jika beruntung, saat Papi tidak memakai mobilnya, Juna meminjamnya. Namun, hanya sekitar dua kali, sejak pulang dari Solo, kemarin.
Juna telah belajar menyetir, dan pertama kali meminjam mobil Papi, dia sangat berhati-hati sekali, karena ternyata suasana jalan kota Solo dan Jakarta itu jauh berbeda.
Saat itu, terngiang kembali ucapan Roni saat mereka bertemu tempo hari.
"Kalian itu saling melengkapi satu sama lain. Segala kekurangan ditutupi oleh masing masing. Kalian hanya perlu saling instrospeksi diri, dan memperbaiki sikap masing masing, untuk kebaikan hubungan kalian."
Tiba tiba ponsel Juna bergetar. Juna mengambil ponselnya di saku kemejanya.
Juna melihat nama yang tertera di layar.
Ayu.
DEG!
Jantungnya berhenti sejenak.
Juna menjawab panggilan itu.
"Oh, ya, Ayu. Tentu ingat. Apa kabar?" Juna menjawab dengan tergagap. Bagaimana bisa dia melupakan Ayu.
"Baik, Pak. Saya lagi di Jakarta, loh! Mau ketemu malam ini? Saya bawa oleh oleh dari Solo. Tenang saja, bukan untuk masalah kerjaan, kok. Gimana, Pak? Pukul delapan malam ini? Di hotel langganan kantor?" Ujar Ayu.
Juna menghela napas dalam-dalam. Dia menyandarkan tubuhnya pada rangka halte busway dengan lelah. Beban hidupnya sudah terlalu berat untuk menerima satu tawaran lagi.
Tawaran yang benar benar menarik.
Hidup dan perkawinannya sedang kacau dan di ambang kehancuran. Lalu, kini, Ayu, wanita Jawa nan rupawan dengan pengabdian tinggi, mengajaknya bertemu? Kening Juna sontak berkerut.
"Pak? Halo?" Suara Ayu terngiang, bertanya. Rupanya Juna terdiam terlalu lama, hingga Ayu mulai merasa canggung.
"Ya." Sahut Juna.
"Kalau nggak bisa, nggak apa apa kok. Maaf, saya baru ngabarin ini. Besok subuh saya sudah harus kembali ke Solo lagi. Jadi -"
"Bisa. Oke. Saya bisa. Nanti malam di hotelmu, ya?" Juna memotong ucapan Ayu.
__ADS_1
"Oke, Pak. Sampai ketemu, ya!" Ayu menjawab dengan riang.
Juna berjalan pelan pelan keluar dari halte busway menuju jalan besar. Dia duduk sejenak pada pembatas taman yang ada pada trotoar. Juna masih terdiam. Wajah Luna dan Ayu berkelebat di otaknya.
Juna berjalan perlahan pada trotoar. Pikirannya berkecamuk.
Di hadapannya terlihat sebuah gerai pizza ternama yang mendunia.
Tiba tiba matanya terus tertuju pada gerai itu, dan melangkahkan kakinya masuk ke gerai pizza.
Juna memesan menu cheese pizza dengan pinggiran sosis, ukuran paling besar, dan memesan dua es lemon teh.
Lalu setelah menunggu sekitar 15 menit, Juna memesan taksi online. Menuju ke Taman Menteng.
Juna telah menentukan pilihannya. Pilihan untuk tetap setia bersama istrinya yang telah bersusah payah menjaga anak mereka di dalam kandungan.
Juna turun dari taksi online di depan Taman Menteng, yang terlihat ramai anak anak bermain di arena bermain.
Dengan menenteng cheese pizza kesukaan Luna, Juna berjalan mengitari taman, mencari sosok istrinya. Ia tahu, Luna pasti akan ke sini. Inilah tempat pertama mereka bertemu dan saling bertukar pandang.
Pertemuan mereka cukup aneh. Waktu itu, mereka sama sama sedang berkencan dengan orang lain. Namun, masing masing tidak nyaman dengan pasangan mereka.
Saat itu mereka tengah di jodohkan dalam kencan buta melalui aplikasi perjodohan.
Waktu itu, lelaki yang bersama Luna sedang membeli minuman, dan wanita yang bersama Juna sedang menelpon, Juna mencuri waktu. Mereka bertukar pandang sekian lama, dan mereka tahu, bahwa mereka sudah saling suka saat itu juga.
Juna memberikan kode dengan isyarat untuk menghubungi dengan tangannya sambil memberikan selembar kertas berisi nomor ponselnya.
Tentu saja, Luna tidak pernah menghubungi. Dia tak ingin dianggap wanita murahan. Hari hari berlalu. Masing masing sudah melupakan insiden di taman itu.
Tetapi, nasib mempertemukan mereka kembali di sebuah pertemuan di perpustakaan kampus.
Seperti di film film, tangan mereka bersentuhan saat saling berusaha mengambil buku yang sama.
Mereka saling terpana, tak menyangka akan bertemu lagi. Mereka sama sama tertawa. Tak menyangka, jika mereka satu kampus, dan selama itu baru bertemu.
Lalu hubungan mereka berlanjut hingga sampai sekarang.
Juna melihat jam tangannya. Ini sudah pukul 8.30 dan dirinya sudah berkeliling Taman Menteng hingga beberapa kali, tetapi belum menemukan sosok Luna. Keningnya berkerut.
"Apakah Luna berbohong?" Gumam Juna. Saat ini dia merasa menjadi lelaki paling bodoh sedunia.
__ADS_1
Juna memutuskan untuk duduk di bangku taman. Dia menaruh pizza di sampingnya. Ia menunduk, tangannya menutupi wajahnya. Tubuh dan batinnya lelah. Baru kali ini, dia benar benar merasakan kesedihan yang luar biasa. Matanya berkaca-kaca. Hatinya hancur saat ini.