Usai Pesta

Usai Pesta
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Luna, kamu nggak boleh bicara seperti itu! Juna dan Roni beda orang. Mungkin Juna perlu sedikit waktu untuk bisa mendekati Ayah dan Ibu." Ucap Kak Dewi menenangkan adiknya dengan pelukan.


Mata Dewi menerawang. Ia teringat betapa sulitnya ia tidur tiap malam, rasa cemas berlebihan, migrain yang terus mengganggu. Ia pun merasa tersiksa dan hanya dapat menangis di bawah kucuran shower tiap usai bercumbu dengan Roni, suaminya.


Ia selalu merasa ada yang kurang, meskipun pernikahan mereka baik baik saja. Ada sesuatu yang seakan tak terisi di antara kesempurnaan mereka yang terlihat di mata orang lain.


Kekosongan itu, mungkin yang membuat Roni berpaling darinya. Dewi tak ingin menanyakannya. Ia terlalu takut menghadapi dan menerima kenyataan buruk yang akan terjadi, bahkan mungkin telah terjadi selama ini.


Dewi tak ingin Roni menjadi berang, dan membuangnya. Rumah tangga mereka memiliki dua anak yang menakjubkan, dan Dewi hanya ingin mempertahankan keadaan dan reputasi keluarganya.


Pada saat seperti itu, Dewi hanya merasa memerlukan Prozac. Obat anti depresan, yang tentu akan sangat membantunya menenangkan pikiran. Paling tidak, untuk saat ini.


***


Di tempat lain, di sebuah mall di pusat kota Jakarta.


"Hai, nggak apa apa, kan, ketemu hari Minggu seperti ini?" Tanya Matt, kakak ipar Juna. Dia kembali menyesap cappuccino nya. Mereka sedang duduk berdua di sebuah kafe di Sarinah. Interiornya sangat nyaman, dan enak untuk mengadakan temu janji.


Dulu, Juna dan Luna sering menghabiskan waktu di sini. Suasana di hari Minggu tampak sepi. Mungkin orang orang lebih memilih untuk tinggal di rumah bersama dengan keluarga, menikmati hari Minggu yang cerah.


"Nggak masalah." Sahut Juna sambil menggelengkan kepalanya.


Ia membayangkan berada di rumah bersama keluarga mertuanya yang mengerikan, membuatnya langsung bergidik.


Seorang pelayan menawarkan mereka untuk memesan makanan, tapi, keduanya belum tertarik untuk makan.


"Jadi, Matt... Bisnis apa yang akan kamu tawarkan untukku?" Tanya Juna. Ia memang datang ke situ atas permintaan Matt. Saat ini, Matt punya kesempatan bisnis yang ingin ditawarkan kepada Juna.


"Bisnis tambang." Jawab Matt sambil menyunggingkan senyum meyakinkan.

__ADS_1


"Prospeknya sangat cerah, dan keuntungan yang berlipat." Imbuhnya.


Juna agak ragu ragu. Gajinya sebagai seorang staf tidak akan mampu menjangkau untuk berbisnis tambang seperti yang pernah ia baca majalah bisnis.


"Wah, bisnis mahal, dong?!" Sahut Juna tidak yakin.


"Ah, kamu, kan, keluargaku. Tenang saja, ini tidak semahal yang banyak orang kira. Cukup kamu masukkan uang sebesar dua puluh juta dulu sebagai modal awal. Habis itu, beres deh. Kamu tinggal tunggu, hasilnya. Minimal bulan depan kamu sudah bisa dapat lima jutaan. Dan bisa jadi, tiga hingga empat bulan bisa balik modal. Jaman sekarang tambang batubara lagi rame. Listrik juga dipasok menggunakan batubara. Ini jangka waktu investasi sekitar satu tahun, jadi hasil bulan bulan berikutnya merupakan keuntungan murni buat kamu. Ini investasi yang bagus, loh, Juna!" Matt berbicara dengan menggebu gebu, tetapi tetap terlihat dan terdengar sopan.


Juna hanya menatap dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Matt. Ia masih tercenung. Ia tak punya uang sebanyak itu.


"Tapi, Matt, saat ini aku lagi lagi banyak kebutuhan. Istriku lagi hamil, dan.." Belum selesai Juna bicara.


"Nah, justru itu! Karena Luna sedang hamil, kamu akan memerlukan uang yang lebih banyak lagi. Terutama setelah anakmu lahir! Mending, kamu menginvestasikan uang dari sekarang!" Matt langsung memotong ucapan Juna.


Juna hanya terdiam. Menimbang nimbang semua alternatif kemungkinan yang ada. Uang sebanyak itu memang ia tak punya. Tapi, mereka punya tabungan bersama. Dan, Juna bisa mengakses uang itu kapan saja.


"Bagaimana? Investasi ini hasilnya lebih bagus dari pada bermain saham, loh!" Cetus Matt sambil tersenyum meyakinkan.


Tiba tiba, kerongkongan Juna terasa mengering. Ia berdehem sebelum menjawab.


"Oke, Matt. Aku ikut!" Ucap Juna.


Matt tersenyum lebar dan segera menjabat tangan Juna dengan kencang.


"Bagus! Nanti kita urus lagi detailnya!"


****


"GEMPAAA.....!!"

__ADS_1


Luna menjerit. Ia terloncat dari tempat tidurnya dan berguling ke bawah. Lantai kamarnya seperti bergelombang, mempermainkan semua yang ada di atasnya.


Luna menyeret tubuhnya mendekati pintu. Pintunya terkunci. Ia sebenarnya menaruh kunci di atas meja yang tak jauh dari situ. Namun, gelombang gempa membuatnya begitu sulit untuk berdiri ke posisi itu.


Tiba tiba, langit langit kamar runtuh. Ada beberapa serpihan meluncur langsung menghujani tubuhnya. Luna hanya duduk meringkuk. Ia berusaha melindungi kepalanya. Ia menangis histeris.


"Juna... Juna... Junnnaaa....!" Luna hanya bisa memanggil manggil nama suaminya.


Lalu tangannya meraba perutnya. Kedua sisi perutnya terlihat mengeluarkan darat. Luna sangat panik. Ia harus melakukan sesuatu pada perutnya yang robek. Ia berlari ke sana kemari. Lalu ia terjatuh, karena gempa yang telah berhenti.


Ia berpikir harus menemukan sesuatu untuk menghalangi laju darah yang terus mengalir dari perutnya. Ia ingin menjahit luka ini. Menutupinya dengan rapi. Namun, kenyataannya, ia hanya bisa menutupi dengan kedua tangan. Air matanya menetes karena panik.


"JUNNNNNAAAAA.....!!"


Luna terduduk di atas tempat tidurnya. Napasnya terengah-engah. Ternyata ia hanya mimpi. Dan mimpi yang sangat buruk. Ia mengelus perutnya yang mulai membesar. Mengucapkan kalimat yang memuji kebesaran nama Tuhan.


Di sampingnya, Bude Seno tertidur dengan pulas tanpa menyadari apa yang sedang terjadi. Luna menghembuskan napas lega.


Ia mengingat pembicaraan dengan budenya sesaat sebelum mereka tertidur. Bude seperti memberi pesan sponsor dari ibunya tentang bagaimana kehidupan perkawinan Luna, tentang suaminya, dan tentang kehamilannya saat ini.


Dan semua wejangan, kritik, dan saran dari budenya itu tampaknya sangat membekas di hati Luna. Sampai sampai ia mengalami mimpi buruk.


Perlahan-lahan, Luna menuruni tempat tidur. Ia memandang ke jam dinding dan menyadari sudah pukul 12 malam. Ia bertanya tanya apakah suaminya sudah pulang. Dengan langkah tertatih, ia menuruni tempat tidur, lalu mengenakan selop merahnya, dan mulai menggeser langkahnya ke luar kamar.


Ia tercenung melihat suaminya tertidur di sofa ruang tamu. Itu artinya, Juna telah mengintip ke dalam kamar dan melihatnya tidur bersama Bude Seno. Sambil tersenyum ia mengusap rambut suaminya.


Ke manakah angan suaminya mengembara saat ini? Apakah ia telah menemukan yang ia cari? Tak disangka, menjadi istri ternyata lebih sulit daripada kelihatannya. Banyak hal yang harus dikompromikan bersama. Termasuk, cara menangani hubungan dalam berkeluarga.


Saat menikah, mereka tidak tahu banyak soal ini. Ia hanya berpikir kerumitan berumah tangga paling hanya sekedar masalah baju baju yang berserakan, handuk yang lupa dijemur, atau kompromi soal siapa yang mematikan lampu di malam hari.

__ADS_1


Sekarang, setelah ia menikah, dan menjalani semuanya. Luna menyadari, masalah keluarga lebih daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Sekarang, ia agak menyesal. Ia berharap segalanya tak terlanjur ruwet dan rumit bagi mereka berdua.


__ADS_2