Usai Pesta

Usai Pesta
Kuncinya ada di hati


__ADS_3

Ayu memandangi bosnya yang sedang menyetir mobil siang itu. Wangi parfum yang semerbak dari tubuh kokoh, lelaki itu seakan akan menggodanya.


Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat itu, karena mereka hanya berdua saja di mobil, tanpa sopir, tanpa rekan kerja yang lain. Hanya berdua.


Ayu mengagumi Juna. Sejak pertama bertemu, Ayu melihat kesedihan, bahkan terlihat lebih kepedihan di raut wajah Juna. Ingin rasanya wanita itu menghibur dan membuatnya tersenyum. Terselip sebuah perasaan yang sulit untuk ia ungkap saat itu.


"Jadi, ke mana kami akan membawaku hari ini?" Tanya Juna dengan riang. Ia benar-benar berusaha untuk bersenang-senang dan menikmati hari itu, melupakan sejenak masalah yang menimpa rumah tangganya. Ia sudah hampir lupa rasanya bersenang senang.


"Aduh! Bapak sendiri yang harus menentukan, Bapak mau ke mana tujuannya!" Ayu mengernyitkan tak habis pikir dengan jalan pikiran Juna.


"Tapi, saya tidak tahu apa pun tentang kota ini!" Elak Juna.


"Ya,tapi, kan, Bapak yang tahu apa yang Bapak inginkan!" Balas Ayu.


Juna terdiam sejenak. Kadang kadang Ayu bisa sangat filosofis.


"Di mana saya bisa bertemu dengan orang yang mengerti baik dan buruk, bahagia, dan kesedihan, waktu tepat dan tidak tepat?" Sahut Juna nggak kalah filosofis.


"Maksud Bapak, pembaca primbon?"


"Apa itu?" Juna mengernyitkan.


"Primbon itu, perhitungan baik dan buruk, tentang waktu yang tepat dan tidak tepat, seperti ramalan, namun ini berdasarkan perhitungan dan tulisan dari leluhur. Kebanyakan orang Jawa percaya primbon, Pak." Ayu menjelaskan.


"Entahlah. Apakah sesuai dengan kriteria keinginan saya."


"Betul! Kita ke Radya Pustaka saja, Pak." Ajak Ayu.


"Apa itu?" Juna menepikan mobilnya, sejenak sebelum mereka mengambil arah yang tepat.


"Itu museum tertua di kota Solo, Pak."


"Museum? Memangnya menarik?" Tanya Juna sambil mengerutkan keningnya.


Ayu tertawa mendengar pertanyaan Juna.


"Sebenarnya, orang orang ke sana tidak untuk melihat lihat koleksinya. Mereka ke sana untuk menemui seorang ahli primbon. Untuk menanyakan peruntungan, hari baik dan hari buruk menurut primbon. Itu kan, yang Bapak cari?" Cetus Ayu.


Juna terdiam, ia mulai memikirkan ucapan Ayu saat itu. Mungkin saja ini yang dia cari. Ia memang perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri selubung pekat hidupnya dan mulai bisa menghubungi Luna.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi ke sana!" Ucap Juna.


Ia mulai mengemudikan mobil perlahan.


Kini, dia mulai bisa menghilangkan fobia yang selama ini menyelimutinya.


Juna memarkir mobilnya di depan gedung Museum Radya Pustaka. Di depan halamannya, ada patung setengah badan yang menurut Ayu adalah patung Ronggowarsito, pujangga Keraton Surakarta, yang akhirnya menjadi ikon dari Museum Radya Pustaka.


Museum yang didirikan pada 28 Oktober 1890 ini disebut sebut sebagai museum tertua di Indonesia.


Ayu bercerita bahwa di sana memiliki koleksi ribuan naskah Nusantara dan ratusan arca berharga. Beberapa di antaranya adalah arca perunggu.


Orang orang yang datang ke sana kebanyakan datang untuk konsultasi primbon di halamu belakang museum. Termasuk Juna dan Ayu.


"Dulu, museum ini sempat geger, Pak. Karena ada lima arca yang hilang dari museum!" Terang Ayu sambil berjalan bersisian dengan Juna.


"Oh ya? Siapa yang kurang kerjaan mengangkat arca yang berat itu?" Sahut Juna spontan yang segera di sambut tawa berderai oleh Ayu.


"Ada oknum yang tak bertanggung jawab. Salah satu yang akhirnya divonis penjara adalah kepala museumnya sendiri. Orang yang selama ini didatangi untuk menanyakan hari baik dan hari buruk!" Tukas Ayu.


"Hah..?! Lucu sekali, kenapa dia tidak bisa meramal hari buruknya sendiri?" Kening Juna berkerut.


"Ya, sebenarnya, kemampuan meramal itu, juga berdasarkan buku buku di museum yang berupa primbon, Pakuwon, dan semacamnya. Jadi, meskipun paranormal nya sudah nggak ada, kita masih tetap bisa mengetahui apa yang ingin kita ketahui." Jawab Ayu sambil tersenyum.


Juna tercenung, menatap mata bening Ayu.


"Kuncinya ada di hati, Pak. Tempat ini hanya lah sarana, sebagai tempat untuk membantu proses berpikir Bapak." Ayu merentangkan tangannya.


Puluhan arca yang mengelilingi mereka seakan akan bersinar. Memberi pertanda atas pencarian di hati Juna.


Di pelupuk matanya dipenuhi bayangan Luna dan calon buah hatinya. Bayangan Jakarta, Monas, rumah. Berputar putar dengan cepat menyadarkan Juna jika dia telah lama meninggalkan itu semua dan melupakannya.


Dari museum Juna pergi makan siang nasi liwet di pinggir jalan. Sebenarnya, masih banyak makanan khas Solo lain yang ingin dia coba kembali. Seperti sate buntel, selat Solo, Cabuk Rambak, Tengkleng, Timlo, Srabi Notosuman, dan masih banyak lagi.


"Ayu." Panggil Juna.


Ayu langsung menoleh. Wajah bosnya terlihat bersinar.


"Terima kasih untuk semuanya." Juna menatap mata Ayu. Sehingga membuat gadis itu menunduk malu.

__ADS_1


"Sama sama, Pak." Sahut Ayu singkat. Tiba tiba jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Menebak nebak, apa yang ada di dalam pikiran bosnya itu.


"Saya besok akan pulang." Sahut Juna setelah terdiam beberapa lama.


"Loh?" Ayu menatap bosnya heran. Pekerjaan mereka belum selesai.


"Saya harus menyelesaikan urusan saya di Jakarta dulu." Sahut Juna pelan.


Ayu menghela napas dalam-dalam. Ia sadar, Juna mungkin tidak akan kembali lagi ke Solo. Ayu memberanikan diri untuk menepuk lengan bosnya lembut.


"Hati hati, Pak!" Ujarnya lirih.


Juna menganguk. Ayu hanya bisa menggigit bibirnya yang bergetar. Dalam diam, hatinya seakan teriris iris sedih.


*


*


Juna membiarkan rintik hujan membasahi sedikit baju dan rambutnya saat melangkah keluar dari bandara. Bau udara lembap setelah hujan benar benar ia resapi dalam dalam. Ia sudah sangat ingin kembali ke rumah. Menikmati masakan Ibunya, tidur di rumahnya sendiri, dan yang paling penting. Ia ingin menemui Luna. Ia sudah sangat merindukan istri dan anak dalam kandungannya.


Ia sudah sedikit banyak telah mendapatkan gambaran tentang bagaimana harus bersikap kelak sebagai seorang kepala keluarga. Ia hanya berharap usahanya ini dapat berhasil dengan baik.


Ia segera memesan taksi untuk menuju ke rumah. Tubuhnya terasa letih sekali. Ia ingin segera sampai di rumah saat itu.


Di dalam taksi, saat menghadapi kemacetan jalanan. Juna sudah tak tahan. Ia mengambil ponselnya, untuk menghubungi Luna.


Nada tersambung, namun lama sekali. Tidak diangkat. Mungkin, Luna bingung, karena Juna menggunakan nomor baru saat ini. Ponselnya pun telah ganti. Sebelum dia ke Solo, ia membeli ponsel baru dan nomor baru untuk dibawanya saat ke Solo.


Juna mencoba menghubungi kembali, kali ini melalui sambungan whatsapp.


Lama terdengar nada sambungnya.


"Ya? Halo?" Akhirnya, panggilan diangkat oleh Luna. Suara lembut Luna terdengar lembut di telinga. Sudah hampir dua bulan Juna tidak mendengar suara itu. Untuk sesaat ia menikmati suara istrinya. Ia merindukannya.


"Halo? Halo? Siapa ini?" Suara Luna semakin terdengar mendesak.


Mulut Juna membuka, namun ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Hingga panggilan diakhiri dari seberang.


Juna menghela napas dalam-dalam. Ada apa dengan dirinya? Apakah dia takut menghadapi kenyataan?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2