Usai Pesta

Usai Pesta
Tragedi, Salah Paham


__ADS_3

Luna, masuk ke kamarnya, merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Perutnya yang kian membesar, membuatnya merasa cepat lelah.


Luna mengelus perutnya dengan sayang. Usia kandungannya telah masuk 18 Minggu.


Dokter bilang, anaknya sudah dapat beraksi terhadap suaranya dan mulai dapat menghisap jempol. Luna tersenyum mendengar setiap penjelasan dokter saat memeriksakan kandungannya.


Saat memeriksakan kandungannya, ia sendiri saja, terkadang ditemani oleh ibu.


Bagi ibu hamil yang sensitif seperti dirinya saat ini. Tentu saat saat seperti ini sangat menyedihkan.


Tanpa kehadiran sang suami, Juna, semua rasanya tak sama. Namun, dia berusaha menguatkan dirinya. Luna selalu menahan kuat kuat air matanya yang berkumpul di matanya, supaya tidak tumpah, dan pecah dalam tangisan.


Sayup sayup, Luna mendengar suara kegaduhan di ruang tamu. Tamu yang ditunggu tunggu telah tiba.


"Luna, mereka telah tiba." Bisik ibunya sambil membuka pintu kamarnya.


Luna menjawab dengan anggukan. Cepat cepat, dihapusnya titik air mata yang sempat jatuh. Ia harus tegar menghadapi semua ini.


Luna, merapikan bajunya yang kusut. Mematut diri sebentar di depan cermin, kemudian perlahan lahan keluar dari kamarnya.


Ia merasa seperti seorang gadis yang akan dilamar. Namun, kali ini ceritanya berbeda.


Yang pertama Luna lihat saat keluar ruangan adalah banyaknya orang yang duduk di ruang tamu rumahnya.


Luna tak menyangka, jumlahnya melebihi dari yang diperkirakan oleh dirinya.


Lalu terlihat di antara kumpulan keluarga besarnya Luna, duduk Juna dan kedua orang tuanya. Mereka bertiga tampak terlihat dengan bingung. Mereka seolah olah seperti akan disidang.ereka terlihat tidak nyaman saat itu.


Luna mengambil tempat di samping ayah dan ibunya. Juna menatapnya lekat lekat saat ini. Luna hanya membuang muka. Ia tak tahan memandang wajah Juna lagi. Seperti yang maminya bilang, bagi Juna, semua sudah berakhir.


Ayah Luna mulai membuka suara untuk pertama kali.


"Terima kasih atas kedatangan Anda kemari. Seperti yang kita ketahui bersama, Juna telah berminggu-minggu lamanya meninggalkan istrinya, tanpa alasan yang jelas." Ayah mulai berbicara.


"Tapi, Yah ...." Juna siapa siap memotong ucapan ayah.


"Mohon untuk tidak memotong perkataan saya, dan jika kamu masih menghormati saya sebagai tuan rumah di sini." Sahut ayah dengan nada suara yang dingin.

__ADS_1


Luna menatap Juna dengan cemas. Wajah suaminya terlihat mengernyit seolah seperti menahan sakit.


"Kami sebagai orang tua dari Luna sangat prihatin dengan sikap Juna yang tidak bertanggung jawab. Istrinya ditinggalkan begitu saja dalam keadaan hamil. Terus terang saja, dengan kedatangan Anda kemari, mudah mudahan dapat menyelesaikan masalah." Ujar ayah, lalu menatap ke saudara saudaranya, juga ke Pak RT, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dengan begitu, kami ikhlas perkawinan Luna dan Juna disudahi sampai di sini saja." Sambung ayah.


"Ayah!" Juna berdiri dengan kaget.


Semua orang yang di sana menyaksikan semua itu sambil menahan napas.


"Saya datang kemari untuk meminta maaf! Ayah harus dengarkan penjelasan saya dulu sebelum bicara apa pun tentang perpisahan!" Wajah Juna merah padam menahan amarahnya.


Luna terperangah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia ternyata salah sangka. Ternyata, Juna berniat baik saat ini. Luna merasa sangat merasa bersalah. Luna telah salah sangka selama ini. Dia mengira Juna akan sama dengan mami, yang berpandangan negatif pada dirinya.


"Penjelasan apa yang cukup baik untuk menerangkan penderita Luna yang telah kami telantarkan selama ini?" Ayah berkata dengan dingin sambil menatap tajam ke arah Juna.


"BAIK." Suara mami Juna terdengar memekik. Mami berdiri di sebelah anaknya.


"Jika itu yang Anda inginkan. Kami sudah cukup dipermalukan. Kami akan urus perceraian Luna dan Juna segera. Permisi!" Mami menarik tangan Juna dan Papi sambil berjalan keluar dari rumah orang tua Luna.


Juna menatap ke arah Luna dengan panik. Begitu juga dengan Luna, melihat Juna diseret keluar. Dengan kesimpulan pembicara yang gelap gulita bagi kelangsungan hubungan mereka.


Beberapa tantenya dengan sigap menangkap tubuh Luna. Mereka mengamankan Luna masuk ke dalam kamar.


"Sudahlah, Nak. Penderitaan kamu akan segera berakhir. Lalu laki itu tidak pantas untukmu!" Sahut salah satu tantenya.


"Lepaskan, Tante! Tante tidak mengerti!! Kami masih saling mencintai!" Jerit Luna dengan freustasi.


Hari itu, jeritan dan tangisan Luna terus mengalir. Menggulung tubuhnya hingga dia kelelahan dan tertidur di malam hari


Saat ini, Luna benar benar tidak tahu lagi bagaimana menghadapi matahari pagi keesokan harinya


*


*


Luna terus mengurung dirinya dalam kamar seharian.

__ADS_1


Dewi, yang telah berbaikan dengan Roni, dan telah kembali ke rumah mereka, hari ini datang ke rumah. Setelah kemarin ibu menelepon dan menceritakan kejadian di rumah mereka dan yang menimpa Luna.


Tok tok tok...!


Pintu kamar diketuk oleh Dewi. Sekalian lagi Dewi mengetuk pintu kamar adiknya itu.


"Luna. Ini kakak." Ucap Dewi dengan lembut.


"Masuklah, Kak!" Sahut Luna dari dalam kamar.


Dewi membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Dia mendekati Luna yang duduk di tempat tidur dengan wajah yang sayu dan sembab.


"Kak, mengapa harus terjadi seperti ini? Aku tidak ingin seperti ini. Aku telah salah sangka pada Juna. Dan menyebabkan kekacauan yang terjadi kemarin. Aku juga tidak menyangka ayah dan ibu akan berbuat seperti kemarin. Mengumpulkan seluruh keluarga besar, bahkan mengundang Pak RT untuk urusan keluargaku. Seharusnya kami bisa menyelesaikan dengan kepala dingin, bicara baik baik berdua, namun.." Luna menghentikan ceritanya, lalu mulai terisak kembali.


"Seharusnya kami dapat menyelesaikan masalah kami baik baik tanpa campur tangan orang lain." Sambung Luna dengan suara parau.


"Luna, Kakak mengerti perasaanmu saat ini." Ujar Kak Dewi sambil mengelus kepala Luna dengan lembut.


Luna sangat senang, Kak Dewi datang saat ini. Dengan Kak Dewi, Luna dengan mudah menumpahkan segala beban di hatinya, menceritakan semuanya, mencurahkan kegundahan dan kesedihannya saat ini.


Luna hanya ingin menceritakan hal itu berdua dengan kakaknya, ia tak ingin ibu mendengar curhatannya pada Kak Dewi.


"Luna, mungkin kamu bisa menjelaskan pada Juna tentang kejadian kemarin. Semua salah paham yang menimpa kalian selama ini, dan yang kemarin. Lanjut Kak Dewi dengan lembut.


"Entahlah, Kak. Terlalu sulit untuk dijelaskan. Mungkin juga, Juna juga sudah tak mau mendengarkan apa pun dariku lagi." Jawab Luna sambil menggelengkan kepalanya.


Kak Dewi menghembuskan napas berat. Sepertinya, Luna sudah putus asa menghadapi permasalahan yang ia hadapi, rumah tangganya bersama dengan Juna.


Kak Dewi, tidak ingin kejadian yang menimpa rumah tangganyankemarin, terulang kembali pada Luna, adiknya.


"Kamu harus ingat ini!" Ucap Kak Dewi sambil mengelus perut Luna.


"Anak yang ada di dalam kandungannya ini adalah anak kalian berdua. Anak ini berhak mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh!" Ucap Kak Dewi sambil menatap Luna.


Luna tercenung. Dia menggenggam tangan Kak Dewi yang berada di atas perutnya saat ini.


"Tenang saja, semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Ada solusi pemecahannya." Lanjut Kak Dewi pelan dan lembut.

__ADS_1


"Aku ingin bahagia bersama Juna kembali, Kak." Luna menjawab lirih. Wajahnya masih pucat dan sayu karena kehilangan harapan.


"Luna, bersabarlah! Aku tahu kalian masih punya kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Percayalah!" Ucap Kak Dewi meyakinkan Luna.


__ADS_2