
Juna tiba di depan rumahnya sore itu. Ia ingin beristirahat sejenak malam itu di rumahnya saat ini, setelah itu ingin menemui Luna, istrinya, yang ia rindukan.
Ia bertemu dengan Bi Asih di pintu depan.
Bi Asih, tergopoh-gopoh saat melihat Juna keluar dari sebuah taksi, dan bergegas membukakan pintu untuknya.
Pembantunya yang satu ini, telah mengabdi pada keluarganya, sejak Juna masih bayi. Sebuah pengabdian yang sudah langka terjadi saat ini.
"Baru sampai dari Solo, Mas?" Tanyanya sambil berusaha membawakan koper Juna.
"Iya, Bik. Oya, Mami ada?" Tanya Juna sambil berjalan masuk lewat pintu samping.
"Wah, sedang pergi arisan tadi, Mas!"
"Arisan di mana? Tumben arisannya sampe sore gini. Biasanya juga jalan ke mall." Sahut Juna.
"Iya, Mas. ibu arisan di rumah Bu RT." Jawab Bi Asih dengan sopan.
Juna menganguk, kemudian berjalan masuk ke rumah yang lenggang.
Kata Bi Asih semua sedang pergi keluar rumah. Shasa mengajak anak anaknya jalan ke Taman Mini, belum pulang. Lalu Suaminya, Matt, masih berada di luar kota, katanya mengurus bisnis.
Juna sempat teringat kata kata yang Luna ucapkan saat mereka bertengkar malam itu. Hingga saat ini, Matt belum dapat membuktikan penghasilan yang dijanjikan pada Juna.
Mungkin memang benar, Matt memang telah membohonginya dengan mengambil uangnya, lalu Matt menggunakan uang itu untuk keperluan lain, atau untuk keperluan pribadinya.
Selama ini Juna tidak dapat membuktikan kebohongan Matt, saudara iparnya itu. Tapi, selama ini, ia seolah olah menutup mata akan keanehan keanehan Matt. Mungkin karena selama ini, Juna kasihan pada kakaknya.
Juna mengucapkan terima kasih pada Bi Asih, dan mengangkat sendiri kopernya menuju kamar.
"Mas Juna.." panggil Bi Asih. Wajahnya terlihat gusar.
Bi Asih mengetahui dengan pasti kedatangan Luna ke rumah. Ia juga tahu, saat Luna berlari keluar rumah dan sambil menangis sesenggukan usai berbicara dengan sang mertua.
Bi Asih ingin memberitahukan hal itu pada Juna. Namun, ia takut disangka mau ikut campur urusan orang lain.
Siapa tahu, Nyonya besar sudah menceritakan hal itu pada Juna, anaknya. Akhirnya, Bi Asih memilih untuk bungkam.
Kenapa, Bi ?" Tanya Juna, wajahnya berubah menjadi khawatir.
Bi Asih tak ingin membuat Juna curiga. Akhirnya ia memilih menceritakan hal yang sama mengkhawatirkan yang sedang menimpanya.
"Anu, Mas Juna. Anak saya yang SMK, butuh biaya buat ujian praktek." Sahutnya lemah.
Selama ini, Bi Asih tinggal di rumah Juna bersama dua anaknya. Suaminya berselingkuh di kampung saat ia bekerja di Jakarta.
Setelah ketahuan oleh Bi Asih, mereka bercerai, dan anak anak dibawa ikut tinggal bersama di rumah Juna. Yang paling besar sudah SMK, dan yang kecil SMP.
"Ada biaya praktek juga?" Tanya Juna sambil menatap dengan simpati.
"Anu, Mas. Saat ini kebutuhan bahan pokok sudah pada tinggi, sehingga uang belanja dari Ibu sebenarnya kurang. Saya tidak enak, jika mengadu kurang, takutnya saya mengada ada. Sebenarnya uang sekolah sudah gratis Mas, karena negeri, tapi ada biaya les dan praktek. Nah, itu ternyata butuh banyak biaya. Belum lagi buku dan seragam untuk prakteknya." Cerita Bi Asih.
Juna manggut-manggut paham.
"Bik, kalau uang belanja kurang, nanti coba bicara sama Mami. Ngomong saja baik baik, pasti Mami mau dengar. Nanti aku bantu juga ngomongnya juga untuk hal yang ini. Tolong ingatkan saja ya!" Sahut Juna sambil tersenyum.
Juna berjalan masuk menuju kamarnya, sementara, Bi Asih menghela napas lega.
__ADS_1
Baru beberapa langkah menaiki tangga, tiba tiba Juna tercenung.
"Bik, Luna pernah ke sini nggak selama saya pergi?" Tanya Juna dengan nada suara yang dibuat senormal mungkin.
Ia tak ingin terkesan ingin tahu atau mengharapkan kedatangan Luna. Padahal, ia sangat ingin mendengar apa usaha yang telah dilakukan oleh Luna untuk mencarinya.
Bi Asih terdiam sebentar. Bimbang akan apa yang harus dikatakannya. Ia dapat mencium ada masalah dalam rumah tangga tuannya.
Namun, akhirnya Bi Asih memilih untuk menggeleng.
"Nggak. Nggak ada, Mas. Mbak Luna belum ke sini. Mungkin sedang sibuk." Sahut Bi Asih, sambil senyum dibuat buat. Beberapa rambut jatuh tertiup angin ke pipinya yang berminyak.
Juna, menghela napas dalam-dalam, berusaha menekan kekecewaan dalam suaranya.
"Oke. Terima kasih, Bik." Ujar Juna tersenyum dan berjalan kembali.
Kali ini, langkahnya dua kali lebih berat. Ia menjadi bimbang kembali akan keputusannya. Ia takut Luna tidak Sudi lagi menerimanya kembali.
Juna memasuki kamarnya yang jendelanya telah dibuka lebar agar tidak lembab. Debu debu yang berterbangan perlahan lahan mengganggu kinerja hidungnya. Ia bersin berkali kali hingga matanya berair.
Juna menaruh tasnya di lantai, kemudian duduk di pinggir tempat tidur dengan hati yang gamang.
Ia belum mengabari Rey mengenai kepulangannya ke Jakarta. Mungkin, Rey harus mengirim orang lain untuk menggantikan tugasnya yang belum selesai di Solo.
Juna teringat akan Ayu. Dan perasaan perasaan aneh beberapa kali muncul saat bertemu dengan Ayu. Ia tersenyum, rasanya seperti cinta monyet. Ada ,tapi tiada, dan tidak akan pernah ada.
Saat ini, telah kembali pada kenyataan. Sekarang, seharusnya dia sudah bersama Luna.
Juna merutuki rasa pengecut yang sedemikan besar, yang membuatnya takut untuk menghubungi Luna kembali.
Niat Juna sudah mantap. Ia akan segera menyelesaikan masalah kesalahan pahaman yang telah terjadi antara dirinya dan Luna dengan segera. Namun, sebelumnya, dia ingin merebahkan diri dulu.
*
*
Luna, duduk di pinggir air mancur di Taman Menteng. Taman yang terletak di pusat kota. Ada rumah kaca di sana, sering pakai sebagi tempat pameran, atau acara pesta pernikahan.
Tak jarang ada penampilan karya seni di lakukan sekelompok anak muda atau komunitas di Taman Menteng. Luna sangat menikmati berbagai pertunjukan yang ditampilkan oleh komunitas itu.
Dulu, ia sering datang bersama Juna ke Taman ini, sekedar untuk berjalan-jalan, menghirup udara segar dari oksigen yang dihasilkan pohon pohon yang ada di sana, atau sekedar berdiskusi hal hal lainnya.
Usai menikmati Taman Menteng, Luna dan Juna biasanya menikmati tahu gejrot yang enak di sekitar sana. Luna menyukai cita rasa makanan tradisional itu.
Tiba tiba sebuah bola berwarna merah muda menggelinding ke arah Luna dan mengenai kakinya. Luna mengambil bola itu dan menatap sekelilingnya.
Seorang gadis kecil berlari kecil ke arahnya.
Sambil malu malu dia berdiri dan menunjuk bola itu.
"Ini bola kamu, Sayang?" Tanya Luna lembut.
Gadis itu mengangguk.
"Nama kamu siapa?"
"Key." Jawabnya malu malu.
__ADS_1
"Sama siapa tadi ke sini? Yuk duduk sama tente dulu." Luna memberikan bola pink pada gadis kecil itu dan menarik lengannya, untuk duduk di bangku bersamanya.
"Sama siapa tadi ke sini?"
"Mama papa."
"Loh, mana mama papanya?"
Gadis kecil bernama Key tadi hanya menggeleng sambil mendekap bola miliknya.
Luna berdiri lalu melayangkan pandangan ke sekeliling taman Menteng itu, melihat siapa tahu, ada orang tua gadis kecil ini.
"Tadi main di mana?" Tanya Luna masih dengan suara lembut.
Gadis kecil tadi menunjuk arah tempat arena bermain.
Luna menatap arena bermain yang ditunjuk gadis kecil itu.
"Yuk, kita cari papa mama mu!" Bujuk Luna sambil menggandeng gadis kecil tadi. Gadis itu mengangguk dan menggenggam tangan Luna.
Ada perasaan tenang yang aneh saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis kecil itu, lalu perutnya juga seakan bergolak. Seolah olah janin dalam rahimnya mengetahui ada anak kecil sedang bersama mamanya saat ini dan ingin ikut bermain.
Tak lama, seorang wanita setengah berlari kebingungan terlihat dari kejauhan, ia menatap lurus dan tajam ke arah Luna dan gadis itu.
"Key..!" Panggilnya sambil berlari ke arah Luna.
"Mama." Sahut gadis kecil tadi, yang melepas genggamannya dari tangan Luna.
Luna hanya tersenyum melihat adegan mengharukan di depannya. Ibu dan anak saling berpelukan.
Wanita tadi menghampiri Luna dan tersenyum.
"Terima kasih." Ucapnya sambil tersenyum, gadis kecil berusia kira kira empat atau lima tahun itu dalam gendongan ibunya.
"Key, jangan jauh jauh ya mainnya, nanti mama ga tahu. Untung ada Tante yang nemenin Key." Ucapnya pada gadis kecil tadi.
"Terima kasih. Maaf telah merepotkan." Ucapnya dengan sopan.
"Iya, sama sama." Jawab Luna.
"Eh, sudah berapa bulan?" Tanya wanita tadi sambil melihat ke perut Luna.
"Empat bulan."
"Semoga sehat dan lancar sampai hari lahirnya ya."
Luna tersenyum dan mengangguk.
"Saya permisi dulu." Pamit wanita tadi.
"Iya. Bye Key." Luna melambaikan tangan pada gadis kecil tadi. Gadis kecil bernama Key tadi membalas lambaian tangan sambil tersenyum.
Di kejauhan terlihat seorang pria berjalan ke arah Key dan mamanya tadi.
Luna menghela napas. Ia memeriksa ponselnya yang sedari tadi sengaja dimasukkan dalam tasnya. Karena Luna ingin menikmati kesendiriannya.
Ia terhenyak, ada beberapa panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
__ADS_1