Usai Pesta

Usai Pesta
Aku harus bagaimana?


__ADS_3

Pada jam makan siang, Dewi pergi ke sebuah kafe di mall besar. Sebuah kafe dengan menu masakan Nusantara, dengan ornamen dibuat seperti sebuah rumah jaman dahulu. Saat masuk, atmosfernya telah berbeda. Rasanya seperti masuk di sebuah rumah. Padahal kafe terletak di dalam mall.


Dewi memilih tempat di sudut ruangan. Saat itu jam makan siang, namun tak banyak yang menikmati makan di kafe dan restoran itu.


Hanya beberapa meja yang terisi, dan kebanyakan mungkin pebisnis dengan level yang tinggi.


Terlihat juga di sudut lain, beberapa orang yang menikmati makan siang sambil menghadap layar laptopnya masing masing.


Dewi mengambil ponselnya, dan melirik, sudah setengah jam dari jam makan siang. Wanita itu belum datang. Dewi memainkan ponselnya untuk mengisi waktu luangnya.


"Halo..." Ujar seorang wanita, yang berdiri menjulang di depannya.


Dewi menghentikan kegiatannya, lalu menatap wanita itu.


Wajahnya cantik, seperti yang sudah pernah dia lihat di foto sosial media Roni.


Rosa pun mengukur Dewi dengan tatapan tiga detiknya dari atas ke bawah.


Dewi berdiri dan mengangguk ringan. Hanya itu.


Tidak ada kabar tangan, apalagi senyuman. Keadaan menjadi tegang.


Rosa mengambil tempat di depan Dewi, meja memisahkan mereka. Dewi memang sengaja memilih meja untuk dua orang yang berhadapan.


Mereka kini duduk berhadapan dan saling menatap.


"Mungkin, kamu sudah mendengar tentang saya dari keluhan keluhan Roni selama ini. Istri yang buruk dan tidak mempedulikannya." Dewi membuka pertemuan mereka.


Seorang pelayan datang dengan membawa daftar menu. Mereka dengan cepat memesan minuman. Karena ini akan menjadi pembicaraan yang panjang.


Rosa menghela napas panjang dan menghembuskan perlahan. Lalu menatap ke arah Dewi.


"Ya. Kenyataannya, hanya itu lah yang selalu dibicarakan oleh Roni sepanjang waktu. Curhatan mengenai dirinya, pekerjaannya, istrinya, anak anaknya, keluarganya..." Sahut Rosa perlahan-lahan sambil tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu, mengapa kamu merebutnya dari saya?" Tanya Dewi. Dia berusaha agar nada suaranya tetap tenang. Namun, getaran emosi sudah terlanjur merambati.


"Dia sendiri yang datang padaku. Merayuku. Karena kamu telah menyiapkan nyiakan dia selama ini. Kamu tidak bisa menyalahkanku!" Sahut Rosa dengan dahi berkerut.


"Lalu, sekarang, dia telah kembali padamu, lantas apa yang kamu inginkan dariku lagi? Aku tidak pernah mengganggu kalian. Dan aku bisa bahagia dengan arah tanpa Roni! Titik!" Sahut Rosa dengan ketus.


Rosa menatap tajam ke arah Dewi.


"Tapi, kamu sungguh telah mengganggu pikiran kami. Semua belum berakhir bagi pikiran kami. Kamu harus bantu kami untuk menghilangkan kamu dari sini!" Jawab Dewi sambil menunjuk kepalanya.

__ADS_1


Nada suara Dewi terdengar tajam. Ini merupakan sebuah pengakuan besar baginya. Mengakui bahwa selama ini dia memikirkan wanita itu.


Dewi juga tahu, Roni masih berusaha keras untuk menghilangkan Dosa dan kenangan kenangan bersama wanita itu dari pikirannya.


Rosa hanya terpana. Dia tak menyangka akan mendapat pernyataan itu dari Dewi sendiri.


"Itu urusanmu!" Sahut Rosa sambil mendengus.


"Ya. Hal ini memang urusanku." Ujar Dewi dengan suara melemah.


"Tapi, aku tahu, Roni masih merasa penasaran padamu. Karena kamu tidak menghubunginya lagi dengan apa pun itu curahan perasanmu. Mungkin dia merasa sangat bersalah. Saya tahu." Dewi mengambil jeda sejenak.


"Kita bertiga hanya korban dari keadaan. Bisa tolong kami. Untuk mengirimkan pesan pada Roni. Bahwa kamu telah move on dengan hidupmu, dan kamu bisa berjalan kembali tanpa masalah. Ya, seperti yang tadi kamu bilang padaku. Dapat hidup tanpa Roni. Aku rasa itu akan sangat membantunya untuk melepaskan kamu dari pikirannya." Ucap Dewi kemudian.


Rosa hanya bisa menghembuskan napas kuat kuat dan melempar tubuhnya ke kursi kafe yang empuk.


"Aku tidak tahu." Jawab Rosa tak pasti.


Dewi menunduk. Lalu mereka tidak berbicara apa apa lagi hingga Rosa memutuskan untuk pamit dan pergi meninggalkan Dewi.


Mereka membayar minuman yang mereka pesan sendiri sendiri dan pergi dengan arah yang berlawanan.


Mereka masing masing pergi dengan pikiran mereka sendiri.


Rosa tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jujur, dia masih mengharapkan Roni kembali padanya. Namun, di sisi lain sebagai seorang wanita, dia juga bisa memahami Dewi.


Rosa hanya bisa merutuki kebodohannya dalam memilih pasangan. Kini dia hanya bisa menangis dalam perjalanan kembali ke kantornya lagi.


Di tempat lain, Dewi akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Bahwa dia telah mengatakan semua isi hati, mengenai inti masalah yang selama ini ada. Langsung pada orangnya, yaitu, Rosa. Meskipun ada rasa khawatir, Rosa akan merebut kembali Roni. Namun, entah mengapa, dia yakin, Rosa akan memikirkan kembali cara untuk membantu rumah tangga Roni dan Dewi, supaya menjauh dari keluarganya, terutama Roni.


*


*


Sudah seminggu berlalu, sejak kejadian di rumah Luna. Juna tidak habis pikir, mengapa orang tua Luna sampai harus mengumpulkan keluarga besar mereka, bahkan menghadirkan Pak RT segala.


Juna langsung merasa ditempatkan sebagai terdakwa. Belum lagi tudingan dan akhirnya pemutusan hubungan secara sepihak yang dilakukan oleh keluarga Luna. Hal tersebut membuat Juna stres berat.


Setelah peristiwa itu, Juna mematikan ponselnya. Dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun saat ini.


Dia ingin sendiri dan fokus bekerja dulu. Hingga suatu hari. Secara tiba tiba, ada telepon di kantor untuknya, dari orang yang tak pernah dia duga selama ini.


Roni menghubunginya melalui telepon kantor. Roni kakak iparnya, mengajaknya bertemu di kafe di dekat kantornya.

__ADS_1


Juna sangat heran, bagaimana mungkin? Namun, dia tetap menyanggupi permintaan Roni untuk bertemu di kafe.


Sore hari, usai jam kantor, Juna telah tiba di kafe yang dimaksud oleh Roni.


Juna telah memesan capuccino, dan menyesapnya sambil membaca berita pada ponselnya. Roni belum tiba saat itu.


Setelah sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Roni tiba, dengan menggunakan pakaian kerjanya. Tapi dengan jas dan dasi. Lalu mengambil tempat di depannya.


"Apa yang kamu inginkan, Ron?" Tanya Juna dengan sinis, saat Roni baru duduk.


"Hey, sabarlah! Aku bahkan belum memesan minum." Roni berkata dengan nada datar.


Roni memanggil pelayan dan memesan espresso kesukaannya.


Juna menatap Roni dengan tatapan tidak sabar.


"Jika Luna yang memintamu kemari, aku tak peduli!" Ucap Juna dengan penuh emosi.


"Dewi." Sahut Roni.


"Dewi yang memintaku kemari untuk menemuimu." Ulang Roni menegaskan.


Juna menanggapi dengan tersenyum sinis.


"Untuk apa? Memintamu berbicara denganku soal rumah tangga? Bahkan, rumah tanggamu saja belum beres!" Sindir Juna.


"Juna, tolong kamu dengarkan dulu. Mungkin kamu baru tahu sekarang, jika selama ini Dewi mengkonsumsi obat anti depresi yang membuatnya terdorong melakukan tindakan bunuh diri. Kemarin dia masuk rumah sakit. Dan aku tidak ada di sampingnya. Aku sangat menyesal. Dia melakukan itu karena aku. Dan kini, aku kembali lagi pada Dewi dan keluargaku. Sekarang, aku dan wanita yang kami lihat di klub itu sudah tidak ada hubungan apa apa lagi. Kami sudah selesai! Dan aku benar benar akan selau mendampingi Dewi." Roni nyerocos panjang lebar menjelaskan.


Juna hanya terdiam.


"Selama Dewi terpuruk. Luna yang senantiasa membantunya. Memberi semangat dan mendampinginya. Dewi dan aku telah membaik. Hubungan kami perlahan kembali seperti dulu. Sekarang, Dewi dan aku ingin membantu kalian, agar pernikahan kalian bisa diselamatkan!" Lanjut Roni.


"Kami nggak butuh bantuan kalian! Lagian, sudah tidak ada lagi yang bisa dibantu. Orang tua Luna sendiri yang tidak bisa menerimaku. Apalagi, Papi dan Mami merasa sangat dipermalukan. Rasanya,memang sudah tidak ada lagi masa depan bagi hubungan kami berdua!" Ujar Juna pesimis.


"Juna, jangan buru buru mengambil kesimpulan hanya karena emosi. Bersabarlah! Hubungi Luna. Mungkin saja, ada jalan keluar dari kalian berdua saja. Tanpa campur tangan banyak pihak. Karena pada intinya, ada di kalian berdua. Bukan Papi, Mami, Ayah, atau Ibu. Ini semua tentang kalian berdua." Roni berusaha meyakinkan Juna. Lalu menyesap kopinya perlahan.


Juna terpekur. Ia memegang cangkir kopinya dengan canggung.


"Lalu, aku harus bagaimana?"


*


*

__ADS_1


__ADS_2