Usai Pesta

Usai Pesta
Keputusan


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu?" Roni menatap istrinya.


"Seperti yang kamu lihat."


"kamu masih cantik, dan akan selalu terlihat cantik." Roni menatap Dewi lekat lekat, seolah tak ingin kehilangan kembali istrinya.


Roni mengambil tangan Dewi, dan menggenggamnya. Getaran perasaan cinta yang pernah hilang selama beberapa saat, mulai terasa kembali.


Roni dan Dewi menikmati makan malam mereka dengan penuh ketenangan. Mereka mencoba untuk saling memahami satu sama lain yang ternyata masih saling membutuhkan dan mencintai.


Roni memeluk Dewi sesaat sebelum mereka masuk ke mobil. Dewi terdiam, menikmati setiap hela napas Roni yang ia dengar saat dalam dekapan suaminya itu.


Getaran yang sudah lama sekali tidak ia rasakan, malam ini kembali lagi.


"Terima kasih, Dewi. Untuk semuanya. Maafkan aku." Ucap Roni.


Dewi menarik diri dari pelukan Roni, dan menatap suaminya itu.


"Ya, sama sama." Dewi tersenyum. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Roni mengantar Dewi kembali ke rumah mertuanya.


"Maaf, aku tidak bisa mampir ke dalam." Ucap Roni saat tiba di depan rumah mertuanya.


"Ya, tidak apa apa."


"Aku akan menjemput kalian. Aku janji."


Dewi tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Ia memeluk kembali Roni dan mengecup bibir suaminya dengan lembut, merasakan kembali kehangatan yang ada di antara mereka berdua.


Dewi tahu, Roni telah kembali padanya, pada keluarganya. Dewi akan memberi kesempatan kembali pada suaminya, dan berusaha untuk menyembuhkan sakit mental yang mulai menggerogoti dirinya.


Dewi berjanji pada dirinya sendiri, akan berusaha untuk sembuh dan memperbaiki hubungannya dengan suami, demi keutuhan keluarga mereka.

__ADS_1


Dewi turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada suaminya. Ia menatap kepergian suaminya, hingga mobilnya menghilangkan di tikungan.


Roni kembali pulang ke rumah.


Sampai di rumah, Roni duduk di sofa sejenak. Lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja.


Roni memejamkan mata sejenak, pikirannya terpecah pada seseorang yang selama ini menemani hari harinya saat mulai merasakan kejenuhan dalam masa masa pernikahannya bersama Dewi.


Tidak mudah untuk membuat sebuah keputusan. Namun, dia harus memutuskan salah satu untuk masa depannya.


Roni mengingat kembali saat saat pertama kali dia bertemu dengan Dewi. Dewi yang bersemangat, ambisius, ceria, penuh dengan gairah untuk melakukan banyak hal. Hal itulah yang menyebabkan dirinya jatuh hati pada gadis yang akhirnya menjadi istrinya, dan telah melahirkan dua buah hati mereka saat ini.


Roni mengehela napas panjang, dalam pikirannya terpampang wajah Dewi dan Rosa bergantian, dan bagai halaman halaman kisah kasih mereka selama ini secara bergantian.


Roni mulai mengetikkan beberapa baris kalimat untuk seseorang.


Ini semua sudah berakhir bagi kita. Kamu dan aku sudah berakhir. Aku telah menikah, dan telah menjadi seorang ayah. Aku adalah penyebab kekacauan dalam keluargaku. Maaf, aku harus memilih keluargaku. Sekali lagi, maafkan aku. Hubungan kita telah selesai sampai di sini.


Setelah itu Roni menghela napas lega. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu ia merebahkan kepalanya pada bantalan sofa.


*


*


Rosa membuka pesan yang masuk dari ponselnya yang bergetar. Saat ini, ia sedang berkumpul bersama teman temannya.


Ia tahu, Roni mulai menjauh dari dirinya, sejak peristiwa percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh istrinya.


Selama ini, Rosa masih menaruh harapan pada Roni, setelah banyak hal yang telah mereka lalui selama ini. Namun, membaca sendiri keputusan akhir yang dikirim oleh Roni, membuat Rosa bagai menelan pil pahit yang dia pilih sendiri.


Selama ini Rosa telah menemani Roni untuk beberapa lama. Mendengarkan semua keluh kesahnya, baik mengenai urusan pekerjaan, bahkan masalahnya dengan istrinya. Membelai dan memberikan kasih sayang saat Roni membutuhkannya. Bahkan Rosa telah menyerahkan tubuhnya pada Roni. Tak jarang Roni menginap di apartemennya saat merasa jenuh dengan istrinya.


Lalu kini, dia dihempaskan begitu saja, dibuang dan dilupakan bagai sampah. Rosa benar benar merasa sangat marah, karena dipermainkan oleh Roni yang telah memberikan janji janji manis padanya selama ini.

__ADS_1


Dari awal, Rosa memang telah mengetahui, bahwa Roni telah berkeluarga, telah memiliki istri dan anak. Tapi, Roni sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan dengan istrinya tidak bahagia. Cepat atau lambat pernikahan mereka akan berakhir, ia dan istrinya akan berpisah dengan perceraian.


Roni bahkan telah merencanakan beberapa hal mengenai masa depan bersama Rosa. Roni merencanakan pernikahan di tempat yang indah di pulau Bali, dan bulan madu bersama Rosa.


Semua mimpi mimpi telah dibuat dan direncanakan oleh Roni dan Rosa. Bahkan mereka telah merencanakan untuk tinggal di Eropa hanya berdua menikmati masa depan bersama.


Rosa terduduk lemas. Ia merasa sendirian di tengah keramaian hingar bingar dentuman musik yang dimainkan oleh DJ.


Yang jelas, ia sibuk menata hatinya dan merencanakan apa yang akan ia sampaikan pada Roni.


Mengemis Roni untuk kembali memang bisa dilakukannya. Tapi, yang ada saat ini di hatinya hanyalah kemarahan. Rasa sakit telah tertipu oleh janji manis Roni. Rosa merasa dirinya tak pantas diperlakukan seperti itu, setelah apa yang telah ia berikan pada Roni. Ia merasa tak pantas dicampakkan begitu saja. Ia merasa tak terima akan perlakuan Roni padanya. Tapi dia bisa apa saat ini.


"Rosa, kamu tidak apa apa?" Tanya seorang teman.


"Nggak."


"Jangan bohong! Jika sakit, sebaiknya kamu pulang saja. Apa perlu aku antar?" Seorang teman terlihat khawatir melihat wajah Rosa yang terlihat pucat.


"Ah, nggak apa apa. Kepalaku hanya sedikit pusing, mungkin karena pekerjaan tadi." Sahut Rosa sambil mencoba tersenyum.


"Bener ya."


Rosa menjawab dengan anggukan.


Rosa tersenyum kecut setelah itu. Tak mungkin ia menceritakan hal ini pada teman temannya. Mereka pasti hanya akan bilang, "Kamu sih, bermain main dengan api! Sudah tahu di pria beristri, masih saja didekati!"


Mengganggu rumah tangga orang lain sama sekali tidak masuk dalam rencana hidup Rosa selama ini. Dan kini, dia merasa menjadi korban dari keadaan.


Malam ini, tiba tiba Rosa ingin minum sebanyak banyaknya. Berusaha menggerus perasaan sakitnya dengan meneguk minuman. Dan berharap, saat dia sadar keesokan harinya, semua masalahnya hilang tak berbekas.


Kini Rosa telah duduk di bar, tempat aneka minuman diracik. Rosa mulai meraih dan meneguk gelas demi gelas yang diberikan oleh bartender padanya. Ia seolah tak peduli lagi ketika beberapa teman memintanya untuk berhenti meneguk minuman dari gelasnya.


Rosa benar benar ingin melenyapkan semua masalahnya dengan minuman ini. Rosa benar benar sangat sedih dan marah.

__ADS_1


__ADS_2