Usai Pesta

Usai Pesta
Kelahiran


__ADS_3

Juna setengah berlari memasuki lobi rumah sakit.


"Mbak, di mana ruang operasi untuk ibu hamil?" Tanyanya saat di depan bagian informasi rumah sakit.


Seorang perawat yang bertugas jaga di sana, menunjukkan tempatnya. Dan, usai mengucap terima kasih, Juna dengan tergopoh-gopoh berlari menyusuri koridor rumah sakit, menuju tempat Luna sedang menjalani operasi.


Di ujung lorong rumah sakit yang seolah tak ada habisnya. Juna melihat Ibu dan Ayah, serta Roni dan Kak Dewi berdiri dengan gelisah.


Juna langsung memeluk Kak Dewi saat menemuinya.


Ibu dan Ayah menatap kehadiran Juna dengan perasaan tidak suka.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Luna? Kok, bisa?" Tanya Juna terbata bata.


"Aku juga nggak tahu pastinya. Dia terus menanyakan kamu, seperti mengigau, entahlah. Satpam kantor bilang dia jatuh di tangga darurat. Kenapa dia bisa di situ, aku juga nggak ngerti." Sahut Kak Dewi sambil terisak. Mata Kak Dewi terlihat sembap.


"Ya Tuhan, Luna! Tangga darurat? Bagaimana bisa?!" Tanya Juna dalam hati.


Saat ini dia sudah tak bisa berpikir lagi. Seluruh tubuhnya terasa tegang dan gelisah, menahan rasa khawatir.


"Sekarang, Luna ada di mana, Kak?" Tanya Juna dengan gusar.


"Masih di dalam. Saat ini Dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa keduanya." Sahut Kak Dewi dengan lirih.


Juna manatap pintu ruang persalinan dengan tatapan khawatir. Ingin rasanya dia mendobrak masuk dan mendampingi istrinya, namun, hal itu tidak mungkin.


Juna melihat ke arah ibu mertuanya yang telah memasang wajah anti pati semenjak tadi.


Juna menghela napas dalam dalam, lalu menguatkan hati untuk mendekati mertuanya.


"Ibu." Sapa Juna sambil mengambil tangan ibu mertua dan mencium punggung tangannya.


Dengan kasar, ibu mertuanya menarik tangannya kembali dan menepisnya.


"Kamu seharusnya, tidak perlu ke sini!" Tukas ibu mertuanya dengan ketus.


Orang tua Luna maupun Juna memang belum mengetahui hubungan mereka yang telah banyak mengalami perbaikan.


Setelah peristiwa salah paham itu, Luna dan Juna berusaha memperbaiki hubungan mereka dan menjalani semuanya dengan rukun dan damai.


Brak.!


Pintu ruang persalinan terbuka. Seorang dokter keluar dengan membawa catatan.


"Keluarga dari Ibu Luna?" Tanya sang dokter itu. Semua spontan mengangguk dan berjalan menghampiri mendekati dokter itu.

__ADS_1


"Bayinya lahir prematur, tetapi, sehat. Selamat ya, bayinya laki laki!" Ujar sang dokter.


"Istri saya bagaimana dokter?" Sergah Juna dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Ibu Luna sehat. Tetapi, masih dalam pengaruh obat bius."


Ucapan dokter seperti diucapkan dalam slow motion.


Sehat! Luna selamat! Ibu dan bayinya selamat!


Juna mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan.


Secara spontan, Juna memeluk sang dokter. Matanya berkaca-kaca.


"Terima kasih, Dokter. Anda terlalu menyelamatkan hidup saya juga." Ucapnya dengan tulus.


Saat Juna mengutarakan niatnya untuk masuk ke dalam melihat istrinya, dokter mengijinkan.


Namun, sontak ayah mertuanya menghalangi jalannya.


"Kamu tidak perlu menemuinya lagi! Kamu hanya bisa membuat sakit hati anak saya!" Pekik ayah mertuanya.


Juna hanya terdiam. Dia merasa kalau pun menjelaskan apa yang terjadi saat ini, mertuanya pasti tidak akan dapat percaya.


"Roni! Halangi dia! Jangan sampai dia masuk ke dalam!" Terjadi kegaduhan saat ayah berusaha menghentikan jalan Juna.


"Ayolah, Ayah, biarkan Juna. Nanti aku jelaskan!" Ujarnya dengan tenang.


"Heh! Apa apa kamu, Ron?" Ayah memberontak.


"Dasar menantu kurang ajar!" Pekik ibu mertua di telinga Roni.


Juna menatap Roni dengan tatapan terima kasih. Kemudian, masuk ke dalam ruangan.


Luna terbaring tenang di ranjang ruang persalinan.


Tubuh Luna dibalut pakaian rumah sakit berwarna biru. Wajahnya terlihat lelah. Juna duduk di samping istrinya. Juna meremas lembut tangan istrinya yang dingin dan kaku. Juna mencoba mengalirkan energi energi cinta untuk menguatkan istrinya.


Mata Luna berkedip. Dia baru saja tersadar.


"Juna, ini kamu?" Sahut Luna lirih. Lalu matanya terpejam.


"Iya, ini aki, Sayang." Juna mencium lembut jemari istrinya dengan perasaan sayang.


"Bayi kita selamat?" Tanya Luna dengan suara melemah.

__ADS_1


"Iya, iya. Bayi kita sehat. Bayi laki laki. Jagoan seperti papanya." Saut Juna sambil tersenyum.


Luna menyunggingkan senyum lemah. Kemudian, dia seperti tertidur lagi.


"Ibu Luna masih dalam pengaruh obat bius. Tidak apa apa, Pak. Biarkan saja, supaya dia beristirahat usai melahirkan." Ucap seorang perawat yang membersihkan sisa persalinan Luna.


Juna menganguk.


"Apakah Bapak, mau melihat bayinya?"


Juna sangat antusias, dan perawat tadi hanya tersenyum melihat reaksi Juna.


Juna mengikuti perawat menuju ruang khusus bayi.


Mereka memasuki sebuah ruangan yang dijaga oleh dua suster. Di dalam inkubator, terbaring seorang bayi mungil yang masih merah.


"Ini bayi laki laki, Bapak." Ucap perawat tadi.


Juna menatap bayinya yang masih dihangatkan dalam inkubator dengan takjub.


Ini anakku? Buah hatiku?


Mendadak di kepala Juna ada berbagai macam rencana untuk masa depan keluarga mereka.


Juna sudah tidak sabar lagi untuk memulai lembaran baru keluarga kecilnya.


Bayi yang baru saja dilahirkan ini, akan menjadi pengikat cinta kedua orang tuanya. Memperkokoh pondasi rumah tangga dan menjadi sumber kebahagiaan yang tiada habisnya.


Juna mengelus kotak inkubator seperti mengelus anaknya.


Juna berharap anaknya dapat merasakan kehadirannya.


"Anak pertama, ya, Pak?" Seorang perawat bertanya.


"Dari istri pertama juga, dan terakhir." Canda Juna sambil mengangguk.


Ketegangan yang telah ada sedari tadi membuat seluruh sarafnya merasa tegang.


Perawat tertawa berderai. Sekilas, Juna melihat anaknyaenarok bibirnya seperti tersenyum bersama mereka.


Anaknya seolah mengerti dan senang mendengar Papanya.


Juna langsung memiliki berbagai ide untuk menyenangkan anaknya.


Saat ini, Juna baru menyadari, rumah tangga menjadi tempat yang tepat untuk belajar lebih dalam tentang hidup.

__ADS_1


Keluarga menjadi jawaban untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya benarnya.


__ADS_2