Usai Pesta

Usai Pesta
Cuti


__ADS_3

Luna berjalan keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ibu yang kebetulan sedang menyiram tanaman menatap Luna, dengan heran.


"Lun, kamu nggak ke kantor?" Tanya Ibu.


"Nggak, Bu. Hari ini aku sedang cuti." Sahut Luna buru buru, sambil berjalan kembali ke dalam kamar, sebelum ibunya curiga dan bertanya macam-macam pada dirinya.


Hari ini dia sedang bersemangat karena akan membeli perlengkapan bayi untuk anak dalam kandungannya.


Luna senyum senyum sendiri membayangkan keseruan yang akan terjadi nanti saat berbelanja.


Luna sangat bersemangat hari ini.


Saat ini, Luna dan Juna sama sama berusaha untuk memperbaiki perkawinan mereka. Mereka berdua bertekad harus berusaha keras untuk menjadi lebih baik. Demi keluarga kecil mereka. Bukan hanya Luna, bukan hanya Juna, tapi, keduanya harus sama sama berusaha dan berjuang. Demi buah hati mereka.


Ponsel Luna berbunyi, Juna menghubunginya dan mengabarkan bahwa dia telah dekat.


Luna bergegas menyiapkan diri.


Luna dan Juna janjian bertemu di sebuah jalan kecil di dekat rumah Luna. Mereka tidak mungkin berangkat dari rumah Luna. Ibunya tentu tidak akan mengijinkan.


Dress shabby motif bunga, berwarna biru muda yang dikenakan oleh Luna bergoyang tertiup angin saat dia sedang berjalan perlahan-lahan menuju tempat mereka janjian bertemu.


Luna celingukan mencari sosok Juna. Namun, dia hanya melihat beberapa mobil terparkir di pinggir jalan. Tak tampak sedikit pun bayangan suaminya itu.


Luna mengeluarkan ponselnya dan menghubungi suaminya.


"Halo, Sayang? Kamu di mana?" Tanya Luna sesaat setelah panggilan tersambung.


"Di sini." Sahut seseorang dari dalam sebuah mobil yang terparkir di sebelah Luna. Hampir saja ponselnya terjatuh, terlepas dari genggaman karena saking terkejutnya.


Di depan matanya, Juna duduk di belakang kemudi.


"Kamu? Kamu kok di situ duduknya? Di mana sopir kamu? Kamu pasti bawa dia, kan?" Luna berusaha berpikir positif.


"Nggak!" Sahut Juna sambil terkekeh.


"Sudahlah, ayo sini, naik! Kita beli perlengkapan buat buah hati kita!" Juna memberikan isyarat supaya Luna segera masuk dalam mobil.


Luna berjalan masuk ke dalam mobil dengan ragu ragu.


"Yakin kamu sudah bisa? Sudah belajar?" Luna manatap Juna dengan khawatir.


"Tenang saja! Kamu bisa lihat nanti." Jawab Juna berusaha meyakinkan Luna.


"Bagaimana bisa?" Tanya Luna secara tak sadar. Dia masih belum percaya Juna bisa menyetir.


Saat ini, Juna meminjam mobil papi nya yang sedang menganggur di garasi rumah.


Luna masuk ke mobil dan dan menoleh ke arah Juna.

__ADS_1


"Oke. Yuk kita berangkat! Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu."


Juna menganguk dengan gugup. Saat ini dia berhasil membawa mobil itu dari rumah ke tempat Luna dengan lancar.


Kini, tantangannya berbeda. Karena ada lahan parkir di pusat perbelanjaan. Belum lagi dia kini membawa Luna dan buah hatinya yang ada dalam kandungan Luna. Juna harus ekstra hati-hati.


"Bismillah.."


Juna dengan berhati-hati dan perlahan-lahan mulai menjalankan mobil dan mengemudi.


Luna tersenyum dan terus memperhatikan suaminya, yang kini mulai mau berubah untuk kebaikan mereka bersama.


"Wah, kamu hebat sekali!" Ucap Luna sambil memeluk dan mencium pipi Juna.


Juna tersenyum dengan bangga. Sudah lama sekali dia ingin menyenangkan istrinya seperti saat ini.


Juna dan Luna kini berada di sebuah pusat perbelanjaan.


"Yuk, kita lihat ke dalam!" Seloroh Luna sambil menggamit lengan Juna masuk sebuah toko perlengkapan bayi.


Suasana toko itu sangat menyenangkan. Ada dua bagian dalam toko itu, bagian bayi perempuan yang didominasi dengan warna pink, dan bagian bayi laki-laki, yang didominasi warna biru muda.


Luna langsung antusias saat melihat sebuah tempat tidur bayi berwarna putih yang cukup besar. Lengkap dengan selimut bayi, bantal dan guling kecil, dengan gambar Teddy bear dan kelambu untuk melindungi bayi dari nyamuk.


"Aku suka ini!" Pekik Luna di telinganya Juna.


Juna menganguk angguk.


"Ya, ada apa? Saya sudah bilang. Bahwa saya sedang cuti hari ini." Luna berjalan menjauh saat menjawab panggilan itu.


*


Juna masih berdiri di dekat tempat tidur bayi yang dipilih oleh Luna tadi.


"Mbak, berapa harga tempat tidur ini?" Tanya Juna pada pelayan toko yang ramah itu.


"Tujuh juta, Pak. Kebetulan ini sedang diskon 45%." Sahut pelayan toko sambil tersenyum manis.


DEG!


Wajah Juna seketika membeku. Saat ini dia sama sekali tidak memiliki uang sebanyak itu. Tiba tiba dia menjadi resah.


"Mahal banget, Mbak!" Komentar Luna tiba tiba yang baru datang usai menerima panggilan.


Juna tersentak. Luna sangat menginginkan tempat tidur bayi ini.


"Bisa beli pakai kartu kreditku, kok. Kalau kamu mau!" Ujar Juna.


Luna menatap tempat tidur bayi itu sekali lagi.

__ADS_1


"Ah nggak. Menurutku tempat tidur ini kurang tinggi, kita cari yang lain saja dulu!" Ucap Luna berbohong.


Juna hanya mengangkat bahunya dan mengikuti istrinya yang telah melenggang menuju ke pakaian bayi dan memilih milih beberapa potong untuk buah hati mereka nanti.


Usai berbelanja, mereka menuju mobil.


Luna termangu menatap dari balik kaca jendela mobil.


Mr Mark tadi menghubunginya, menyuruhnya untuk segera kembali ke kantor untuk mengikuti rapat sesuai rencana. Jika tidak, dia mengancam akan membwei tahu jajaran manajemen untuk mencopot jabatan Luna. Karena Luna telah melalaikan kewajibannya. Luna juga terancam akan kehilangan pekerjaannya.


Luna merasa tertekan. Namun, saat ini Juna telah mengorbankan waktu hari ini. Tidak mungkin dia meninggalkan Juna begitu saja.


Luna pasti akan mengecewakan suaminya lagi, dan perkawinan mereka adalah taruhannya.


Akhirnya, Luna memutuskan untuk tetap bersama Juna. Jika Mr Mark benar benar mengadukan dirinya pada pihak management, maka semua urusan rejeki, Luna kembalikan lagi kepada Tuhan.


Luna sangat percaya, jika memang masih menjadi miliknya, ia tidak akan pernah kekurangan. Dia percaya itu. Tuhan pasti akan memberi yang terbaik.


"Luna, kemarin aku mendaftar untuk peluang pekerja di luar negeri mewakili perusahaan." Sahut Juna tiba tiba.


"Oya?" Luna menoleh dengan cepat.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Luna selanjutnya.


"Ya, belum sih. Tapi, Rey mendukung penuh. Dan merekomendasikan diriku. Ya mudah mudahan dapat, ya!" Ujar Juna sambil mengusap lembut rambut Luna.


"Aku senang mendengar kabar ini. Aku senang kamu akhirnya bisa berubah untuk lebih maju." Sahut Luna sambil tersenyum.


Kemudian, konsentrasi Juna kembali ke jalanan. Dia mulai berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.


"Akhirnya kamu menyukainya, ya?" Tanya Luna dengan geli.


"Apa? Menyetir? Ya.. aku senang."


Tiba tiba sebuah motor menyalip dari kiri dan meliuk-liuk melewati mobilnya. Juna mengerem mendadak.


"Brengsek! Nggak tahu aturan!" Omel Juna dengan keras.


Juna menoleh pada Luna yang pucat. Hentakan pada sabuk pengaman mungkin membuatnya kaget.


"Sayang, kamu nggak apa apa? Sakit, ya?" Juna bertanya pada Luna dengan khawatir.


"Nggak apa apa, aku nggak apa apa." Luna menjawab dengan senyum kaku.


"Beneran nggak apa apa?" Tanya Juna sekali lagi.


Luna mengangguk meyakinkan.


Sampai di rumah. Luna melihat ada flek akibat peristiwa tadi. Meski sedikit, namun ada.

__ADS_1


Luna memutuskan untuk tidak membuat orang lain menjadi cemas karena dirinya. Maka, dia diam saja dan berdoa sekuat tenaga agar anaknya dapat dilahirkan dengan sehat dan selamat.


__ADS_2