
Roni duduk termenung memandangi, pemandangan, Jakarta di sore hari dari ruangan kerjanya. Ia terbenam dalam kursi kerjanya yang besar dan empuk. Sudah hampir tiga puluh menit, dia tak bergerak dari posisinya saat itu. Ia sengaja meminta sekretarisnya memblokir semua telpon atau tamu yang hendak menemuinya. Tiba tiba, sore itu, dia ingin sendiri.
Hari ini, hari ulang tahunnya. Tidak ada kue atau kejutan dari istrinya seperti biasa. Semua berjalan normal.
Hari ini tak ada yang berusaha mengingat hari ulang tahunnya atau sekedar mengucapkan selamat padanya.
Sejak kejadian percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Dewi, istrinya. Roni tiba tiba merasa takut luar biasa. Ia takut menghadapi kenyataan. Ia takut bertanya langsung pada istrinya. Ia takut menanyakan, apakah dirinya penyebab rasa sakit tak tertahankan itu? Ia takut jawaban Dewi akan menyudutkannya. Ia takut semua orang menyalahkannya.
Semua itu berawal tidak sengaja. Ia tidak merencanakan kekacauan yang terjadi selama ini.
Bermula dari kebosanan yang terjadi dalam perkawinannya.
Dewi, sang istri mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk dapat fokus mengurus rumah tangganya.
Awalnya, Roni mengira hal itu akan menjadi hal yang baik. Kejadian buruk dari pembantu yang lalai, yang hampir menyebabkan hilangnya nyawa Miko.
Hal itu membuat mereka semua menjadi super khawatir dan protektif kepada anak. Keputusan Dewi untuk mengurusi rumah tangga saat ini didukung sepenuhnya oleh Roni.
Namun, setelah menjalani semuanya untuk beberapa saat, terutama sejak Dewi melahirkan anak kedua mereka.
Dewi terlihat seperti terobsesi. Sepanjang hari, Dewi menghabiskan waktu untuk mengurus semua tentang rumah dan anak anak.
Roni merasa, Dewi seperti menempatkan diri sebagai seorang pelayan rumah tangga, bukan sebagai istri. Dewi seolah tak punya ambisi lagi seperti dahulu.
Dewi tak punya ide atau masukan saat Roni meminta bantuan diskusi untuk mengambil keputusan dalam kantor. Dulu, Dewi sangat antusias saat bercerita tentang pekerjaan, tak jarang mereka sering berdiskusi berbagai hal.
Dewi terlalu sibuk berbicara mengenai dirinya sendiri. Ia juga lupa merawat penampilan luarnya. Rambut bahkan nyaris jarang disisir. Mengenakan daster batik, dan obat jerawat putih seperti topeng bagai sahabat setia Dewi kala di rumah. Roni merasa frustasi melihat penampilan dan tingkah Dewi.
Suatu malam, untuk menghilangkan penat. Roni mencoba pergi untuk mencari hiburan di sebuah klub malam. Untuk kali pertamanya, ia menyentuh, menatap, dan benar benar berbicara dengan wanita lain.
Roni merasakan sensasi yang berbeda. Degup jantung yang tak sama. Chemistry yang sempat hilang saat bersama dengan seorang wanita, dan Roni pun mulai ketagihan.
Wanita itu bernama Rosa. Dia selalu berada di tempat yang sama. Duduk sendirian, ditemani minumannya. Terkadang ada, terkadang tiada. Lama kelamaan, Roni mulai mengikuti jadwal Rosa melenggang mencari hiburan di klub malam itu. Mulanya berkenalan, saling mengobrol. Kadang kadang saling menyentuhkan tangan untuk menekankan topik pembicaraan mereka.
Semakin lama, Roni mulai menunggu kehadiran Rosa. Sulit untuk memikirkan hal lain selain dirinya. Perselingkuhan mereka dimulai dengan sebuah ciuman. Ringan saja, saat mereka saling berpisah, menuju jalan hidup masing masing, lalu besok mereka bertemu kembali.
Suatu hari Roni memberanikan diri melingkarkan tangan ke pinggang Rosa, lalu dengan sukacita Rosa menerima dan membalas setiap sentuhan yang diberikan oleh Roni. Lalu, saat Rosa menawarkan untuk mampir ke apartemennya, bagai gayung bersambut, Roni menerima tawaran Rosa, dan mereka mulai melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman.
Roni merasa sangat puas saat itu melampiaskan semua hasrat kerinduannya selama ini di manja dalam permainan ranjang bersama wanita. Dewi, istrinya pun tidak pernah melakukan hal yang seliar itu selama mereka menjalani rumah tangga.
__ADS_1
Roni dan Rosa mulai sering bertemu bukan hanya sekedar bersenang senang di klub malam, namun, tak jarang mereka makan bersama, dan di akhiri dengan permainan liar mereka di atas ranjang di apartemen Rosa.
Hingga suatu malam, saat Roni bertemu Juna di klub, memergokinya saat sedang bersama Rosa. Roni merasa tertampar, kembali ke realitas. Bahwa ia telah memiliki kehidupan lain, selain gemerlapnya malam. Roni telah memiliki keluarga.
Lalu, saat Dewi mengetahui perselingkuhan itu. Roni semakin kalut. Ia tahu bahwa dirinya salah, namun, dia juga seorang pria normal yang membutuhkan kasih sayang dan belaian cinta dari wanita di saat ia lelah setelah bekerja seharian.
Kemudian, kejadian percobaan bunuh diri yang di lakukan Dewi. Semakin membuat Roni hanyut dalam kebimbangan. Ia harus kembali pada istri dan keluarganya. Namun, ia telah terlanjur mengikatkan hati pada Rosa.
Kata kata maaf dan penyesalan saja mungkin tidak cukup untuk membuat perasaan sakit hati dan terluka itu pergi.
Roni menatap cokelat berbentuk hati yang dikirimkan Rosa hari ini. Lengkap dengan pesan menyentuh dan permohonan permohonan agar Roni menghubunginya atau datang kembali ke apartemennya.
Padahal Roni tak kemana mana. Roni masih duduk dalam keremangan klub malam itu.
Memandangi Rosa dari jauh, seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu. Hanya saja, kali ini Roni tidak ingin mendekatinya lagi. Ia masih harus berpikir dengan jernih.
Lalu ia berpikir, tempatnya bukan di sini. Ia tak ingin meneruskan lebih lama lagi.
Roni memijat pelipisnya yang mendadak pusing.
"Aku tidak ingin berselingkuh, tapi aku tidak ingin hidup tanpa gairah."
Roni berpikir, sudah cukup dia dengan Rosa. Ia tak ingin tercebur lebih dalam lagi bersama wanita itu. Roni ingin kembali pada keluarganya lagi. Meski dia tahu, saat ini Dewi masih sangat terluka dengan penghianatannya.
Roni menyadari, dia masih memiliki dua buah hatinya bersama Dewi, yang menjadi sumber kebahagiaan dalam rumah tangga mereka. Roni yakin, mereka pasti dapat melalui masa masa sulit ini.
Roni melirik pada ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Seakan ada yang membimbingnya untuk meraih ponselnya itu, lalu ia membuka pesan yang masuk.
Matanya tertuju pada satu nama yang ada dalam pesan masuk belum dibaca itu.
Selamat ulang tahun, R. Doaku untukmu. Maaf tidak sempat mengirimkan kue hari ini.
Roni terpaku membaca pesan itu. Ucapan ulang tahun dari Dewi. Seketika matanya berbinar dan wajahnya berubah menjadi terlihat ceria lagi, bagai remaja yang sedang jatuh cinta. Dan dia tahu, bahwa ia masih sangat mencintai istrinya itu.
Roni mengetik pesan balasan.
Terima kasih. Kamu di mana?
Lama. Roni menanti balasan dengan tak sabar. Ia ingin menghubungi langsung, namun, dia masih ragu. Jadi dia hanya menunggu balasan dari Dewi.
__ADS_1
Berkali kali di tatapnya layar ponselnya, namun, Dewi tak kunjung membalas.
Lalu sekitar lima belas menit kemudian, ponsel menyala, tanda notifikasi pesan wa masuk.
Aku di rumah sakit.
Detik itu juga, Roni bangkit dan menyambar tas kerjanya. Ia tahu rumah sakit yang dimaksud oleh Dewi. Dan dia akan segera menyusul belahan jiwanya itu. Roni merasa inilah saat yang tepat. Dia tak ingin kehilangan lagi.
*
*
Luna bergegas menuju ruang tunggu dokter tempat Kak Dewi kontrol tadi. Di sana terlihat Kakaknya telah duduk di bangku ruang tunggu sambil menatap ponselnya, dan tersenyum.
Luna menghampirinya dan mengambil tempat di samping kakaknya.
"Sepertinya ada yang senang? Dapat wa dari siapa Kak?" Tanya Luna sambil menebak nebak.
Kak Dewi hanya menggeleng sambil tersenyum. Ada sinar di matanya. Sinar yang seolah hilang beberapa waktu lalu. Luna masih terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ayo kita pulang!" Ajak Kak Dewi.
Luna dan Kak Dewi segera meninggalkan rumah sakit dan berjalan menuju tempat parkir.
Sesampainya di area parkir, di sana telam menunggu sesosok pria tinggi besar. Wajahnya terlihat sedih, ada semburat lelah di wajahnya, terlihat kekhawatiran di matanya.
Kak Dewi maju menghampiri pria itu dan menatapnya. Kak Dewi dan Roni berdiri saling berhadapan untuk beberapa saat.
"Pak, Bu, tolong minggir, jangan di tengah jalan! Mobilnya mau lewat." Teriak tukang parkir menyadarkan mereka berdua dari keheningan.
Kak Dewi mendekati Luna.
"Aku akan pergi bersamanya dulu. Nitip anak anak." Ucap Kak Dewi.
Luna hanya mengangguk.
Lalu Kak Dewi berjalan menghampiri Roni, suaminya. Masuk ke mobil suaminya itu, dan mobil melaju meninggalkan area parkir rumah sakit.
Luna menghela napas panjang, lalu masuk dalam mobilnya kembali.
__ADS_1
Tiba tiba dia sangat merindukan Juna, suaminya.