Usiaku Semakin Dewasa Tapi Aku Takut Menikah

Usiaku Semakin Dewasa Tapi Aku Takut Menikah
story part 12


__ADS_3

Mereka kemudian sarapan bersama dengan tenang.


Setelah sarapan, seperti biasa intan membantu ibunya untuk membersihkan meja makan sekalian mencuci piring kotor.


Setelah semua selesai, intan kemudian berdiam di ruang tamu sambil menonton televisi.


Di ruang tamu intan memikirkan perkataan ibunya yang menyuruhnya untuk tinggal di rumah nenek ilah di desa. Namun sangat banyak hambatan di hati intan yang membuatnya masih ragu untuk pergi ke desa.


Setelah satu jam berfikir sambil mengotak-atik remote tv namun intan tak kunjung menemukan jawaban apakah ia harus pergi ke desa atau tidak.


Karena merasa sangat bimbang karena belum siap tinggal di rumah neneknya dan jauh dari orang tua. Namun pada akhirnya intan memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatnya widia untuk meminta saran darinya.


Intan berpamitan kepada ayah dan ibunya yang sedang sibuk dengan halaman rumah mereka, bu ratih sedang menyapu halaman, sementara pak wira memotong rumput dan tanaman kemudian menyiraminya.


"yah, ibu, intan mau ke rumah widia dulu ya!"


Intan berpamitan kepada kedua orang tuanya yang saat itu sedang membersihkan halaman rumah.


"mau kemana intan? masih pagi loh ini nak!"


Belum sempat mendengar jawaban intan, dia sudah terlebih dahulu berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang sibuk mengurus tanaman di halaman rumah mereka.

__ADS_1


Pak wira dan bu ratih saling menatap setelah melihat intan yang terlihat sangat buru-buru untuk pergi.


"mau kemana sih pagi-pagi udah kayak orang di kejar maling aja anak ini.


Bu ratih merasa heran namun pak wira tak terlalu memikirkannya karena pak wira sudah menduga bahwa intan pasti akan ke rumah widia. Karena widia satu-satunya sahabatnya yang paling dekat dengan rumah mereka.


"sudah biarin aja bu, palingan juga ke rumah widia dia! mau kemana lagi coba kalau bukan rumah widia?"


Bu ratih kemudian melanjutkan membersihkan halaman, sementara pak wira menyirami tanaman.


Beberapa menit kemudian intan sampai di rumah widia. Namun ketika tiba di sana widia rupanya sedang tidak berada di rumah.


Kondisi rumah widia yang sepi dan pintu tertutup rapi, hingga membuat intan berbalik arah dan kembali ke rumahnya.


Lalu setibanya di rumah, intan kembali bertemu ayah dan ibunya yang ternyata masih berada di halaman rumah. intan kemudian mengucap salam.


"assalamualaikum, intan pulang.


Bu ratih menatap intan yang berjalan fokus sambil melihat tanah, seakan tidak perduli siapapun di depannya yang mungkin saja bisa ditabrak olehnya.


"loh kok cepat sekali baliknya?

__ADS_1


Bu ratih bertanya kepada intan dan kemudian intan menoleh ke arah ibunya.


" widia ngga ada di rumah bu, rumahnya sepi ngga ada orang. Padahal intan mau minta saran sama dia, widia kemana ya pagi-pagi udah hilang aja dari rumah?"


Pak wira kemudian menghentikan aktivitasnya menyirami tanaman dan kemudian menghampiri intan.


"mau minta saran apa sayang? Coba ngomong sama ayah, siapa tau ayah bisa bantu!"


Mereka duduk di halaman rumah yang sudah di bersihkan oleh bu ratih, dan kini terlihat sangat bersih dan rapi.


"ibu sama ayah mau intan tinggal di desa kan? Apa kalian ngga akan rindu sama intan kalau intan jauh di dari ayah sama ibu? lalu intan harus apa di sana? Apa ayah dan ibu sengaja mau bikin intan pergi dan mau datangin adek buat intan? Engga ya intan ngga mau ada saingan.


Bu ratih dan pak wira tertawa mendengar perkataan intan.


"intan sayang! kalau ayah sama ibu rindu, kan kami tinggal datang saja nak sekalian mudik ke rumah nenek. kenapa harus ambil pusing? Di desa kamu bisa menikmati keindahan alam dan kamu juga bisa belajar mandiri sama nenek dan paman mu di sana, tidak ada maksud yang lain sayang!".


Intan terdiam dan kembali bertanya kepada bu ratih dan pak wira.


"tapi kalau nanti rian tiba-toba datang ke rumah cariin intan gimana dong?


Pak wira menghela nafas panjang.

__ADS_1


"jadi masalahnya masih tentang rian? Dengerin ayah ya intan! Lelaki itu bukan cuma rian saja nak, masih banyak lelaki lain yang lebih baik daripada rian. Ayah tidak pernah melarang intan untuk dekat dengan siapa saja asalkan masih dalam hal wajar dan tidak berlebihan. Kamu kira di desa nenek tidak ada lelaki tampan, dan baik di sana? Banyak nak yang kaya juga banyak kok. Ayah yakin, intan pasti bisa lupain rian kalau sudah di sana.


Pak wira menjelaskan panjang lebar kepada intan agar intan berhenti terus berharap kepada rian. Dan pada akhirnya intan menyetujui untuk tinggal di desa.


__ADS_2