Usiaku Semakin Dewasa Tapi Aku Takut Menikah

Usiaku Semakin Dewasa Tapi Aku Takut Menikah
story part 27


__ADS_3

Intan dan fatih terus berjalan menuju ke rumah siti.


Tak terasa mereka sudah hampir sampai di rumah siti. Intan kemudian mengucap salam dan mengetuk pintu rumah siti yang terlihat sepi.


"assalamu'alaikum mba siti!


" assalamu'alaikum mba ini intan mba!


Fatih masih menemani intan dan belum mau pergi sebelum intan bertemu dengan siti, meskipun keadaannya saat itu sangat kotor dengan blangkon di kepalanya. Berhubung rumah siti dan fatih berdekatan.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu namun tak mendapat jawaban, akhirnya fatih mengajak intan untuk mengunjungi warung siti yang pernah ia datangi malam itu.


"mungkin siti lagi di warungnya intan, bagaimana kalau kita cari ke warung aja?


intan merasa tak enak hati karena telah merepotkan fatih untuk membantunya mencari siti.


"tapi mas fatih ngga apa-apa nih nemenin intan? jadi ngga enak ngerepotin mas.


Fatih tersenyum dan berkata " mas malah senang nemenin intan kemanapun intan mau, asalkan intan ngga malu jalan sama mas yang jelek ini.


Intan sedikit tersipu malu dengan rayuan fatih, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke warung kopi milik siti yang tak jauh dari sana.


fatih merasa percaya diri dan ingin menjadi diri sendiri di hadapan wanita yang ia sukai, ia berharap kelak intan bisa menyukainya dengan apa adanya.


Di perjalanan menuju warung kopi milik siti, langkah mereka kembali terhenti ketika melihat rian dan istrinya sedang melintas di hadapan mereka menggunakan sepeda motor.


Untuk pertama kalinya intan melihat secara langsung wanita yang dulunya menjadi penghancur hubungannya dengan rian.


Dada intan terasa sesak dan hampir sulit bernafas, rian terlihat sangat bahagia bersama wanita itu.


mata mereka bertemu ketika rian tepat berada di depan intan, namun rian seolah tidak mengenal intan sama sekali, rian hanya fokus bercanda dengan istrinya yang sedang memeluknya dari belakang.


Melihat sikap rian, intan kemudian mempercepat langkahnya dan semakin meninggalkan fatih, tanpa sadar intan berjalan melewati warung siti yang hendak dia kunjungi.


"intan, kamu mau kemana? Kita udah sampai.


Fatih bertanya kepada intan yang masih saja terus berjalan. Ia seakan tak perduli fatih yang menemaninya sejak tadi.


Tanpa pikir panjang fatih mengejar intan dan menggapai tangan intan namun berhasil di tepis oleh intan.


Hal itu membuat fatih sedikit kecewa hingga akhirnya ia membiarkan intan berjalan ke arah yang intan saja tidak tahu pasti apakah itu jalan menuju ke rumahnya atau bukan.


Fatih akhirnya kembali ke rumahnya untuk. Berganti pakaian dan hendak mengambil sepeda motornya.


"mungkin dia malu jalan denganku yang kotor ini, sebaiknya aku berganti pakaian dulu.


fatih berbicara lirih di dalam hatinya.


Intan terus berjalan hingga sampai di sebuah hutan yang sama sekali belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Intan melihat di sekelilingnya hanya terdapat pohon-pohon besar dan semak belukar.


Intan berusaha mencari jalan keluar namun tak kunjung ia temukan. ia mencoba kembali dan mencoba mencari jalan keluar dengan kembali berjalan melalui jalanan yang tadinya ia lewati.

__ADS_1


Namun sayangnya intan tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya, dia hanya fokus berjalan dengan kesedihan di dalam hatinya yang membuatnya seperti orang linglung.


sementara di rumah neneknya jamilah, mereka semua mencari keberadaan intan yang pergi tanpa kembali.


Intan sempat berpamitan kepada neneknya akan pergi ke rumah siti, dan mengatakan sudah hafal jalan menuju rumah siti. Namun pada akhirnya sampai jam 1 siang intan tak kunjung pulang ke rumah dan membuat semua orang khawatir.


Muzakir mencari intan di rumah siti, namun tak seorang pun yang melihat intan pernah kesana, akhirnya zakir memilih kembali pulang.


Disaat mereka sedang kebingungan mencari intan, disaat itulah fatih datang dengan sepeda motornya hendak mencari muzakir dan mengajaknya nongkrong di ladang sambil melihat-lihat tanaman mereka.


" bro, jadi ke ladang ngga?" fatih menyapa muzakir yang sedang mondar-mandir di teras rumahnya.


"Intan hilang bro, gua ngga tau dia kemana lo ada lihat ngga?" Muzakir bertanya kepada fatih.


Saat itu juga fatih mengetahui bahwa intan ternyata belum sampai di rumah, lantas tadi ia berjalan kemana? fatih pun kini merasa cemas dan merasa bersalah karena tidak mengikuti intan pergi.


" sepertinya intan pergi ke arah hutan. Tadi aku sempat mengantarnya ke rumah siti, tapi siti ngga ada di rumah dan rencananya mau aku anterin ke warung kopi, tapi intan bertemu seseorang dan sikapnya tiba-tiba aneh.


Muzakir merasa kesal dengan fatih karena membiarkan intan berjalan sendiri tanpa tahu arah.


"lo ngapain biarin dia sendiri? Kenapa ngga lu ikutin sih udah tahu intan daerah sini, gimana sih lu.


Fatih semakin merasa bersalah karena tidak mengikuti intan pergi, dan saat ini hari sudah semakin sore intan belum juga kembali.


muzakir mengajak kawan-kawannya untuk ikut mencari intan di hutan yang merupakan hutan lebat dan dikenal angker oleh warga.


"intan pasti ketakutan di sana, kita harus menemukannya sebelum magrib.


dan mereka mendapat petunjuk berupa jejak sepatu yang mungkin milik intan.


Mereka berlima mengikuti arah jejak sepatu itu yang semakin lama semakin masuk kedalam hutan, sementara hari sudah semakin sore belum juga ada tanda-tanda intan di sana.


Ayah dan ibunya menelfon intan berkali-kali namun nomor telponnya tidak dapat di hubungi.


Nenek jamilah dan bu ratih tak henti-hentinya menangis memikirkan nasib intan yang entah tidak tahu bagaimana.


sampai tepatnya jam 6 sore fatih mendengar suara tangisan perempuan yang berasal dari gubuk kecil di hutan.


"tolong aku, aku takut..


Fatih berlari ke arah sumber suara dan diikuti oleh muzakir dan kawan-kawannya yang lain.


Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati intan tengah terkulai lemas karena belum makan sejak pagi.


Muzakir langsung mengangkat intan dan membawanya keluar dari hutan.


Akhirnya mereka menemukan intan ketika hari sudah semakin gelap dan akhirnya membawa intan ke puskesmas.


Muzakir memeluk erat intan yang sedang lemas, beruntung mereka pergi menggunakan mobil open cup milik zakir.


Setibanya di puskesmas, intan langsung di tangani oleh perawat yang sedang bertugas.

__ADS_1


setelah 20 menit di periksa, ternyata intan mengalami dehidrasi dan asam lambung.


Akhirnya intan di rawat inap di puskesmas tersebut.


Muzakir pulang ke rumah untuk memberitahukan kabar baik bahwa intan sudah di temukan kepada keluarganya. Sementara itu, fatih tetap menemani intan di puskesmas bersama dengan doni.


Intan tertidur ketika muzakir pulang, dan saat ia terbangun intan melihat doni dan fatih di samping kiri dan kanannya.


Dua lelaki yang telah berhasil terpikat oleh kecantikan intan itu memutuskan untuk tetap berada di sampingnya.


"mas doni, mas fatih kok masih di sini? Paman zakir mana?


Intan menanyakan keberadaan muzakir yang tak terlihat olehnya.


"paman kamu sedang pulang mencari orang tua dan nenekmu intan". Fatih menjelaskan kepada intan


"oh begitu ya, baiklah kalau begitu mas pulang saja, intan ngga apa-apa kok sendiri lagian nanti paman sama keluarga intan akan datang ke sini mas, intan ngga mau ngerepotin.


Doni menggapai tangan intan dan berkata " kamu tidak pernah merepotkan untukku intan, aku siap menemanimu sampai kamu sembuh"


Intan tersenyum mendengar rayuan doni, namun ia malah melirik ke arah fatih dan mengucap terimakasih karena telah menemukannya.


"mas fatih makasih ya udah nemuin intan, intan minta maaf atas perlakuan tadi pagi. Sungguh intan ngga bermaksud kasar.


melihat intan lebih memperhatikan fatih, batin doni merasa teriris karena cemburu. Doni mengira intan akan tertarik dengan rayuan gombalnya, tapi pada kenyataannya intan malah melirik fatih.


"iya intan mas juga minta maaf udah ninggalin kamu sendiri.


Meskipun begitu, intan hanya menganggap mereka berdua sebagai seorang kakak dan tidak lebih dari itu.


Intan masih belum bisa membuka hatinya untuk siapapun saat ini.


......................


Tak lama kemudian muzakir dan keluarganya tiba di puskesmas.


Bu ratih dan nenek jamilah menangis lalu memeluk intan yang masih terbaring di ranjang puskesmas.


"kamu kemana saja nak? Kenapa pergi tanpa bilang sama ayah dan ibu?


Intan memeluk kembali ibunya yang terlihat sangat cemas dan sedih.


"maafkan intan bu, nenek, intan ngga bermaksud membuat kalian khawatir.


nenek jamilah membelai rambut intan kemudian mencium kening cucu tersayangnya itu.


"lain kali jangan pergi sendiri ya sayang, kamu tahu betapa berharganya kamu untuk kami?


Intan tersenyum lalu memeluk ibu dan neneknya, ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat perhatian dan sayang kepadanya, meskipun intan belum beruntung dalam hal percintaannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2