
"mas rian kenapa diam saja di tampar wanita itu?" ucap salah satu perawat yang menyaksikan kejadian tersebut.
"tidak apa-apa hanya salah faham saja". Ucap rian yang sedang menyembunyikan kebenarannya.
di meja kerjanya, rian termenung memikirkan perkataan bu ratih kepadanya. Sedalam apa luka yang telah ia berikan kepada intan hingga bu ratih begitu membencinya.
Ternyata sejak rian kembali dari ruangan intan, kepala perawat terus memperhatikannya. Sikap rian yang sedikit aneh hari ini membuat rekan kerjanya bertanya-tanya karena sebelumnya rian tak pernah terlihat begitu murung dan sedih.
"mas rian kenapa?" kepala perawat menepuk pundak rian yang masih saja melamun sambil mengaduk gelas minuman yang ada di tangannya.
"eh kenapa kenapa? Ada pasien baru ya?" Rian tersadar dari lamunannya dan terlihat seperti orang linglung.
Kepala perawat geleng-geleng kepala melihat rian yang sangat aneh hari ini.
"mas rian istirahat saja, sepertinya keadaanmu sedang tidak baik, biar saya saja yang berjaga di sini, toh juga tidak terlalu banyak pasien dan sebentar lagi yang lain juga datang.
Kepala perawat menyuruh rian untuk beristirahat sejenak, karena takut rian hilang fokus dan bisa berpengaruh dalam menangani pasien.
Kemudian rian menuju ke ruangan istirahat perawat, ia tidur sejenak dan mencoba melupakan apa yang baru saha terjadi.
Rian mencoba memejamkan matanya namun tetap saja tidak berhasil, lalu ia coba menelpon istrinya melalui video call dan meminta untuk melihat anak pertama mereka.
Rian mencoba segala cara menenangkan dirinya dari rasa bersalah, beruntungnya setelah melihat putri pertamanya ia menjadi sedikit lebih tenang.
__ADS_1
akhirnya rian bisa memejamkan matanya walau hanya 30 menit.
Selama setahun rian berusaha menyembunyikan identitas istri dan pernikahannya, namun secara tidak sengaja terbongkar dengan sendirinya.
Di ruangan rawat inap intan kini di temani oleh ibu dan ayahnya. Intan menceritakan hal yang baru saja dia alami bersama rian.
" bu, ayah, intan ngga mau lagi tinggal di desa ini please bawa intan pulang ke rumah kita.
Intan menangis di hadapan kedua orang tuanya.
"iya sayang, setelah kamu sembuh, ibu akan bicara sama nenek untuk membawa kamu pulang, sekarang kamu istirahat ya sayang.
Intan kemudian membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur.
Dengan mata sembab habis menangis, pak wira membelai rambut intan hingga intan tertidur.
Setelah intan memejamkan mata dan tertidur, pak wira menasehati istrinya agar tidak berperilaku kasar terhadap rian. pak wira mengajak bu ratih untuk berbicara di halaman puskesmas.
"bu, ayah mau bicara sama ibu, tapi kita keluar dulu biarkan intan istirahat di sini.
"mau bicara apa yah?" bu ratih terlihat penasaran.
"sudah ikut saja sama ayah, kita bicara di luar". Pak wira kemudian menggandeng bu ratih untuk berbicara di luar ruangan.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju halaman puskesmas yang teduh karena di kelilingi dengan pepohonan yang membuat suasana di pedesaan itu terasa sangat sejuk.
" mau bicara apa sih yah sampai harus sembunyi-sembunyi gini?". Bu ratih bertanya kepada pak wira namun di balas dengan senyuman oleh suaminya.
"bu, ayah ngerti ibu sangat marah dengan rian, ayah sangat mengerti! Tapi ibu tidak seharusnya menampar rian, apalagi di depan rekan kerjanya bu"
Pak wira mulai menasehati istrinya. sementara bu ratih hanya diam dan menyadari kesalahan yang ia perbuat tadi.
"maafkan ibu yah, ibu hanya tidak tahan melihat anak kita terus terusan seperti ini.
Pak wira membelai rambut istrinya dan berkata.
"bukankah ibu yang minta intan tinggal di sini? kita tidak pernah tahu rian juga tinggal di sini, jadi pertemuan intan dan rian termasuk tidak di sengaja bu, ini semua hanya salah faham saja. Lagian hilangnya intan bukan salah rian juga bu ini murni karena intan yang tidak tau arah pulang.
Pak wira mencoba untuk memberi penjelasan kepada istrinya bahwa semua yang terjadi kepada putri mereka hanya kebetulan, dan tidak selalu ada sangkut paut rian di dalamnya.
"maafkan ibu ya yah". Bu ratih menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada pak wira.
"tidak bu, ibu tidak perlu meminta maaf sama ayah, minta maaflah sama rian bu mungkin dia malu tadi ibu menamparnya di depan rekan kerjanya.
Pak wira meminta bu ratih untuk minta maaf kepada rian, meskipun berat hati tapi bu ratih akhirnya pergi menemui rian dan meminta maaf atas kesalahannya tadi.
...****************...
__ADS_1