Usiaku Semakin Dewasa Tapi Aku Takut Menikah

Usiaku Semakin Dewasa Tapi Aku Takut Menikah
story part 25


__ADS_3

bu ratih mengira rian membuntuti intan sampai ke desa.


Ketika hendak membaringkan diri di kasur, bu ratih malah mengajak intan keluar dan ikut hadir di pengajian yang telah di selenggarakan di rumah neneknya, tapi sikap keras kepala intan tetap saja ada dalam dirinya. Intan menolak untuk hadir di acara itu dengan alasan takut bertemu lagi dengan rian dan keluarganya, di tambah insiden di puskesmas yang barangkali akan ada orang-orang pengajian yang akan mengenalinya.


"ayo kita keluar nak, kasian nenek kamu sendirian di luar.


bu ratih terus membujuk intan untuk ikut hadir di acara itu, namun intan tetap saja menolaknya, hingga akhirnya bu ratih lelah dan meninggalkan intan sendiri di kamar.


Bu ratih keluar menemui ibunya yang berada di halaman rumah bersama ibu-ibu pengajian dan acaranya pun di mulai.


Para tokoh agama dan tuan guru yang akan memberikan pengajian telah di undang oleh muzakir ketika solat jum'at tadi dan mereka juga sudah ada di lokasi.


Pengajian pun di mulai!


pak wira berada di barisan paling depan pria bersama muzakir, sementara bu ratih bersama ibunya jamilah berada di barisan paling depan perempuan.


Intan mengintip melalui jendela kamarnya sambil melihat-lihat orang-orang yang sedang mengikuti pengajian.


Intan berharap rian akan datang bersama istrinya ke acara itu, namun sejauh ia melihat tidak tampak sedikitpun wajah rian di halaman yang hanya beratap tenda biru.


Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah hampir satu jam acara pengajian itu berlangsung dan intan masih saja berada di kamarnya.


"lama juga ya ternyata acaranya, bosen banget di kamar lama-lama, tapi mau keluar juga takut , jadi aku harus bagaimana ini ya allah.


Intan berbicara dengan dirinya sendiri untuk menutupi kesepiannya.


Tak lama kemudian acara pengajian pun berakhir, kini tersisa acara makan-makan bersama.


Semua orang mengambil bagian mereka masing-masing dengan tertib, dan intan akhirnya keluar juga dari kamarnya dengan dandanan khas orang kota, intan memperlihatkan sisi cantiknya hingga membuat doni dan fatih terpesona dengan kedatangannya.

__ADS_1


Intan merasa dirinya lah yang tercantik saat ini, karena memang saat itu acaranya kebanyakan di hadiri oleh orang tua dan hanya beberapa saja wanita dan pria remaja.


Intan berjalan dengan anggun menuju ke tempat duduk ibu dan neneknya, tentu saja hal terswbut membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir karena tak banyak yang tahu nenek jamilah atau nek ilah ternyata memiliki cucu secantik intan.


Besar harapan intan akan ada rian yang melihatnya tampil cantik saat ini, hingga membuat rian menyesal telah meninggalkan dirinya.


Namun semua itu sia sia saja karena rian dan istrinya tidak hadir di acara tersebut hanya bu susi dan suaminya saja yang berada di lokasi.


Seketika ada seorang warga yang mengenalinya.


Seorang warga yang melihat pertengkaran mereka bertiga ketika di puskesmas.


Ketika hendak mengambil makanan, perempuan tersebut kemudian bertanya kepada intan tentang masalah di puskesmas


"loh ini mba yang tadi di gendong mas rian itu ya yang pingsan di puskesmas? iya kan bener ya mbaknya?


Intan terdiam mendengar perkataan wanita tersebut, muzakir tak tinggal diam dan langsung menghampiri keponakannya.


Muzakir berusaha mengalihkan pembicaraan agar si wanita tersebut tidak bertanya panjang lebar dan membuat intan takut akan di cap sebagai pelakor.


Semua orang di desa sudah mengetahui bahwa rian telah memiliki anak dan istri, bahkan rian dan istrinya di kenal sebagai pasangan yang sangat harmonis meskipun mereka baru tinggal setahun di desa itu.


"oh begitu ya? saya kira mba ini pacarnya mas zakir sampai segitunya membela, ternyata keponakan sendiri toh, ya pantas sih mas zakir seperti itu! Tapi saya lihat mas rian perawat itu pegangan tangan sama mba ini loh tadi.


Masih di situasi ramai, wanita itu malah mempertegas bahwa intan dan rian berpegangan tangan di puskesmas hingga membuat bu susi, bu ratih, dan nek ilah penasaran lalu menghampiri.


Yang bu susi tahu hanya anaknya lah yang berna rian di puskesmas desa itu yang berprofesi sebagai perawat di sana.


Bu susi kemudian menghampiri wanita itu karena nada bicaranya yang lumayan keras dan bu susi bertanya.

__ADS_1


"mohon maaf memotong pembicaraan kalian, tapi saya mau tanya apakah yang anda maksud adalah rian anak saya?


Wanita itu kemudian memandang bu susi dan menyapa.


"eh bu susi, iya bu tadi saya lihat mas rian menggendong wanita ini di puskesmas karena pingsan.


bu susi menjadi semakin penasaran, sementara intan secara tidak sengaja mengetahui bahwa bu susi adalah ibu kandung rian mantan pacarnya yang selama ini terus menunda untuk bertemu.


" Oh jadi wanita ini cucunya bu jamilah ya? Pantas saja kemarin tumben saya lihat di desa ini.


Intan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum paksa.


Bu ratih merasa ada kejanggalan dengan obrolan itu lantas mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.


Muzakir merasa bersalah karena tidak bisa membela intan dan dia gagal mengalihkan topik pembicaraan wanita itu, meskipun begitu muzakir tidak akan pernah meninggalkan intan sendiri.


Situasi menjadi semakin rumit, pak wira terlihat sedang asyik berbincang bersama para ustadz dan tokoh agama.


Wanita itu masih saja membahas tentang intan dan rian si hadapan bu susi setelah intan pergi.


Entah apa yang selanjutnya mereka katakan yang sangat terlihat adalah lama-kelamaan raut wajah bu susi menjadi sedikit berbeda dan terlihat marah.


Ia meninggalkan tempat nek jamilah secara tiba-tiba tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada pemilik rumah hingga membuat suaminya merasa heran.


Sepertinya intan akan menjadi topik pembahasan ibu-ibu pedesaan kali ini, seperti yang intan takutkan sebelumnya sehingga membuatnya enggan keluar kamar.


Namun tak dapat di pungkiri, perlahan semua itu pasti akan terbongkar dan orang-orang akan tahu yang sebenarnya.


Hari semakin sore, perlahan warga mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


satu-persatu mereka berpamitan kepada nek ilah yang di temani oleh pak wira.


...****************...


__ADS_2