
Setelah mengetahui keponakannya mendapatkan teman baru, muzakir juga ikut bahagia apalagi teman yang dimaksud intan adalah gebetannya sejak dulu. Muzakir akhirnya memiliki kesempatan untuk mendekati wanita idamannya.
Wanita itu bernama siti, dia adalah anak dari penjaga warung tempat mereka biasa nongkrong. Dan salah satu alasan muzakir sering nongkrong di sana adalah untuk bertemu dah melihat siti walau dari kejauhan.
Mereka menikmati malam tongkrongan itu dengan obrolan seputar ladang dan panen mereka di hari berikutnya.
Setelah lumayan lama mengobrol dan malam pun semakin larut dan akhirnya muzakir mengajak intan untuk pulang karena esok harinya mereka juga harus bangun pagi seperti biasanya.
"bro gw sama intan pulang duluan ya, takutnya nanti neneknya khawatir sama dia.
Muzakir berpamitan kepada doni dan fatih. Mereka kemudian mempersilahkan muzakir dan intan untuk pulang lebih awal.
Di perjalanan pulang, intan mendapat WhatsApp dari siti yang bertuliskan..
"hay intan! ini nomor ku, aku siti wanita yang tadi di warung.
Intan tersenyum melihat handphonenya sehingga muzakir menjadi sedikit ingin tahu dan mencoba mengintip percakapan intan.
"chat sama siapa sih senyum-senyum terus? Di chat sama mantan ya?
Intan melirik pamannya dan kemudian berkata..
" mantan apanya? Orang ini teman baru intan yang tadi di warung kok paman!"
Muzakir tersenyum karena merasa ada kesempatan untuknya mendekati siti kali ini, sejak dulu dia tidak mempunyai keberanian untuk mendekatinya karena memang muzakir belum pernah berpacaran dengan wanita manapun meskipun usianya yang sudah kepala tiga.
"oh teman baru ya? syukurlah intan punya teman baru, paman senang mendengarnya!"
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.
__ADS_1
Ketika sedang asyik berjalan, muzakir bertanya kepada intan mengenai rian mantan pacarnya yang selingkuh dari intan.
"intan! Paman boleh tanya ngga? Tapi intan jangan marah ya?
Intan melirik muzakir dengan tatapan curiga.
"mau tanya apa memangnya? Kenapa harus izin dulu sih paman?
Muzakir sebenarnya merasa tidak enak hati untuk menanyakan masalah pribadi keponakannya itu, tetapi rasa ingin tahunya sangat besar.
" apa kamu masih menyayangi mantan kamu itu? Intan masih sayang sama lelaki itu sampai susah-susah mengasingkan diri ke kampung hanya untuk melupakan dia?
Intan kemudian terdiam dan menghentikan langkahnya! bukan karena perkataan pamannya, melainkan karena lelaki yang di tanyakan muzakir kini tepat berada di depan mereka dia sedang duduk di teras rumah seseorang yang intan sama sekali tidak tahu apakah itu rumah milik rian atau bukan..
"loh kenapa berhenti intan? Paman ada salah bicara ya? jangan marah dong, maafkan paman ya!"
"intan! Kemu kenapa nangis? Hey kenapa nangis? jawab paman intan jangan bikin paman cemas!"
Kemudian intan menunjuk lelaki itu, dia masih berada di depan intan tetapi tidak melihat intan sama sekali.
"lelaki itu ada di sini paman!"
Intan kemudian berpaling memeluk muzakir yang dari tadi berjalan di sampingnya. Intan menangis tersedu karena sepertinya tujuannya untuk menghindari rian malah membawanya bertemu lagi dengan rian.
"dia ada disini? Mana dia intan? Paman mau samperin dia, berani-beraninya sampai bikin keponakan paman menangis begini.
Intan kemudian menunjuk ke arah rian yang duduk di teras dan saat itu juga belum menyadari keberadaan intan yang ada di depan gerbang rumahnya.
" tidak usah paman, ini sudah malam lebih baik kita pulang saja ya tidak usah dipikirkan!"
__ADS_1
intan mengajak muzakir untuk pulang, karena ia takut muzakir akan membuat keributan malam-malam di rumah orang.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dan intan terus menangis sepanjang jalan serta menyalahkan dirinya sendiri.
"apa salah ku paman? Aku ke desa untuk melupakan dia, tapi kenapa malah bertemu dengan dia di sini? lalu bagaimana aku akan melupakannya paman?
Intan masih menangis namun berusaha di tenangkan oleh muzakir.
"sudah intan, kamu jangan menangisi lelaki yang tidak baik seperti itu, paman sangat yakin masih ada lelaki yang lebih baik dari dia yang pantas mendapatkan kamu intan!
Intan mencoba menghentikan air matanya agar tidak keluar, namun sama sekali tidak bisa ia hentikan. Air matanya terus saja mengalir dengan sendirinya.
Akhirnya muzakir membiarkan intan menangis hingga ia puas di pelukannya.
Tiga puluh menit kemudian intan mulai merasa agak tenang karena pelukan pamannya mampu membuatnya merasa tenang.
"sudah ya menangisnya sekarang kita pulang dulu, nanti nenek kamu khawatir.
Intan kemudian mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan karena rumah nek ilah tinggal beberapa langkah lagi, itu artinya rumah yang di singgahi rian tadi tidak jauh dari kediaman intan saat ini.
Sesampainya di rumah, intan menemukan neneknya sudah tertidur dan ia sangat bersyukur neneknya tidak terbangun saat ia sampai di rumah. karena matanya sedikit sembab bekas menangis tadi.
Lalu muzakir menyuruh intan untuk masuk dan beristirahat di kamarnya.
" sudah kamu istirahat saja sana, besok tidak usah bekerja juga tidak apa-apa, nanti paman yang ngomong sama nenek kamu.
Intan kemudian mengangguk dan masuk ke kamar.
Muzakir merasa sangat khawatir terhadap intan, apalagi dia melihat sendiri tangisan intan ketika bertemu dengan rian.
__ADS_1