Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Kebersamaan sesaat


__ADS_3

Restaurants.


Alice melangkahkan kakinya santai memasuki restoran yang bisa dibilang megah dengan 3 lantai itu.


Tiba-tiba, brukkk..Alice terjatuh, Seorang pria tampan baru saja menabraknya.


Pria tampan itu langsung kelihatan cemas dan membungkuk menatap wajah Alice.


"Maafkan saya nona, saya benar-benar tidak sengaja..."ucap pria itu dengan wajah bersalah.


Suara yang tidak asing ditelinga wanita cantik itu, sontak Alice mendongakkan kepalanya menatap siapa yang baru saja menabraknya itu, Ya dia adalah Arvie. Entah semua ini kebetulan atau memang takdir tuhan.


Alice yang sedari tadi meringis kesakitan kini mulai mengeluarkan senyumnya.


"Tidak masalah, aku baik-baik saja..."jawab Alice tenang.


"Bagaimana bisa nona mengatakan baik-baik saja setelah nona jatuh dan kesakitan..."wajah itu terlihat sangat cemas.


Sontak Arvie langsung menggendong tubuh mungil Alice untuk membawanya ketempat duduk tanpa meminta izin.


Seketika mata Alice terbelalak melihat perlakuan manis dari Arvie, pipinya menjadi merona saat beberapa pengunjung bertepuk tangan iri melihat keromantisan mereka.


"Apa yang kamu lakukan Arvie, cepat turunkan aku..."kata Alice sambil memukul-mukul pelan dada bidang Arvie.


"Maafkan saya yang sudah lancang seperti ini nona cantik, tapi kaki mu sakit karena saya, jadi saya harus menolong kamu..."jelas Arvie.


"Tapi aku malu dilihat banyak orang..."gerutu Alice sambil menutup wajahnya.


Arvie hanya terkekeh geli melihat tingkat lucu wanita cantik dihadapannya ini.


"Mereka hanya iri saja nona Alice, sekarang makan lah..."bujuk Arvie.


Keduanya tampak makan bersama dan kelihatan sangat dekat.


"Setelah ini saya akan meeting di kantor mu, bolehkan kita pergi bersama?..."Arvie menawarkan dengan sedikit gugup.

__ADS_1


"Tentu saja boleh..."jawab Alice lantang.


Sontak membuat tawa kedua sejoli itu pecah.


"Sudah selesai dengan makan mu nona, Ayo kita kekantor..."ucap Arvie.


"Sudah...ayo ..."jawab Alice.


Keduanya pun berjalan meninggalkan restoran itu dan mengendarai mobil mereka masing-masing.


.....


Ada apa dengan Arvie, baru kali ini dia bersikap begitu ramah pada wanita setelah sekian lama ia bahkan tidak pernah tersenyum kepada wanita manapun, terlebih lagi Alice adalah wanita yang baru saja ia kenal, namun seakan sudah mampu meruntuhkan pertahanan yang sudah ia bangun dengan kokoh. Arvie tidak pernah peduli dengan wanita manapun, tapi dengan Alice, ada apa ini? secepat ini kah ia menyukai Alice? apakah ini cinta? hanya Arvie dan tuhanlah yang mengetahui jawabannya.


Dan Alice apakah dia sudah bisa menerima laki-laki dalam kehidupannya?apakah dia sudah melupakan masalalu nya?


Jawabannya adalah tidak, Alice hanya berpura-pura ramah pada Arvie karena Arvie sudah banyak membantunya, namun untuk soal perasaan?? Alice bahkan tak pernah sedikitpun berpikir tentang itu.


.....


Sebuah aula besar nan megah kini hanya disinari dengan cahaya dari layar proyektor yang menyala dengan salah satu karyawan kantor yang sedang mempersentasikan tentang perjanjian-perjanjian kerja sama antara Yunata Grup dengan Ackerley Grup.


Seluruh lampu diruangan besar itu menyala menandakan meeting itu sudah selesai.


"Terimakasih untuk kerja samanya nona..."sapa Arvie seraya tersenyum kepada Alice.


"Sama-sama, tak perlu memanggilku nona, panggil saja Alice, dan cukup panggil dengan sebutan aku kamu..."jawab Alice membalas senyuman Arvie.


Arvie terpana dengan pemandangan indah yang ada dihadapannya ini, mungkin seorang bidadari tanpa sayap.


"Jadi bisakah hari ini kerumah ku, untuk ku kenalkan pada mamaku..."ucap Alice mencoba mencairkan suasana.


"Tentu saja..."sahut Arvie cepat dan keduanya langsung meninggalkan aula besar itu dan memutuskan untuk pergi kerumah Alice sesuai rencananya.


.....

__ADS_1


Rumah Alice


Elena terlihat sangat sibuk dengan handphone nya. Tiba-tiba Alice masuk dengan menarik tangan Arvie.


"Hallo mom..."sapa Alice.


"Hai sayang, siapa pria tampan ini..."jawab Elena penasaran.


"Mah dia Arvie Brave Ackerley, dia adalah pacar Alice yang Alice ceritakan kemarin..."jelas Alice.


Arvie hanya diam sambil sesekali terkekeh geli melihat Alice yang menyebutnya sebagai pacar.


"Oh jadi dia pria yang berhasil membuat anak mama yang cantik ini jatuh cinta, ternyata anak mama sangat pandai memilih pasangan, lihat pria ini dia bahkan sangat tampan dan sangat cocok untuk mu Alice..."ucap Elena dengan senyum yang begitu sumbringah.


Arvie tersenyum dengan sombong.


"Mama jangan berlebihan begitu..."pipi Alice merona.


"Tante saya Arvie, senang sekali bisa bertemu dengan tante, dan terimakasih tante..."lirih Arvie pelan namun dapat didengar dengan jelas.


"Terimakasih untuk apa?..."tanya Elena heran.


"Terimakasih karena telah melahirkan bidadari secantik ini di dunia ..."ucap Arvie sembari menatap wajah Alice yang kini sangat merona, Ya, Alice sangat malu dan sontak memukul dada bidang Arvie pelan.


"Aduhhh, kamu nakal sekali ya Alice..."kata Arvie.


Elena hanya terkekeh geli melihat anaknya yang tersenyum lepas, ia berharap Arvie bisa membahagiakan Alice dan membuat Alice melupakan masalalunya yang menyakitkan.


Andai semua ini nyata...


Ya, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.


Karena ini hanyalah sandiwara Alice agar bisa membatalkan perjodohan nya dengan Devan, hanya itu saja.


Menyakitkan bukan? tapi itulah kenyataannya.

__ADS_1


__ADS_2