Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Aku mencintaimu Arvie


__ADS_3

Wanita mungil itu perlahan mulai membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan pelan setelah 4 hari tak sadarkan diri. Bibirnya tersenyum saat melihat Felly tidur disampingnya sambil memegang tangannya.


Matanya perlahan menjelajahi seisi ruangan, hanya dinding putih dengan beberapa selang infus dan selang oksigen ditubuhnya, badannya terasa sangat lemah.


Kini raut wajahnya berubah menjadi sedih, saat pria yang ia harapkan tak ada disampingnya, ia kembali mengingat kejadian terakhir sebelum ia kecelakaan parah.


Perlahan bulir bening jatuh dipipinya.


"Arvie apa kamu sudah tidak peduli lagi padaku, bahkan saat aku seperti ini kamu masih tetap memutuskan pergi..."batin Alice.


Alice mulai menggerakkan tangannya sontak Felly terbangun.


"Alice kamu sudah sadar, berhentilah membuat aku khawatir Alice, kamu bahkan tega membuat aku tersiksa menunggumu..."gerutu Felly terharu.


Alice tersenyum.


"Maafkan aku, tapi aku baik-baik saja..."lirih Alice sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh Felly.


"Bagaimana bisa kamu bilang baik-baik saja sedangkan tubuhmu penuh dengan luka seperti ini, ada apa denganmu Alice, aku sahabatmu kan, ceritalah..."gerutu Felly.


Senyum dibibir wanita itu perlahan sirna dan menampilkan raut wajah sedih.


"Bahkan saat keadaanku selemah sekarang, Arvie tidak peduli padaku, dan dia tetap pergi kan?ini yang kamu bilang bahwa ia menyukaiku..."

__ADS_1


Felly tersenyum, ia sekarang mengerti, seperti apapun bibir Alice berkata bahwa ia tidak menyukai Arvie tetap saja hatinya tidak akan berbohong.


"Kamu tahu Felly, ia bahkan membuat ku sangat spesial waktu itu dan sekarang ia membuat aku sangat tidak diinginkan..."ucap Alice lagi.


Felly menghembuskan nafas pelan.


"Kamu menyukai Arvie?..."


Mata Alice kini perlahan menatap mata Felly.


"Tidak,bahkan aku tidak peduli lagi padanya..."ucap Alice datar.


Felly tertawa kecil.


"Kamu tau betapa hancurnya ia melihat keadaan mu yang terbaring lemah seperti ini, ia menyuruh ku untuk menjagamu, dan mengabari nya setiap hari tentang kondisimu, ia bahkan sangat khawatir, sekarang bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa ia tidak peduli lagi..."lanjut Felly.


Alice menangis terisak-isak mendengar cerita Felly.


"Tapi kenapa ia tetap pergi, kenapa tidak menemaniku disini..."tanya Alice disela isaknya.


Felly lagi-lagi tersenyum.


"Ia terpaksa pergi Alice, ia sudah janji pada ayahnya, tapi percayalah ia sangat mencintaimu, aku selalu melihat ketulusan dimatanya saat berbicara padamu..."

__ADS_1


Alice masih saja menangis, ada penyesalan dihatinya. Sekarang ia tak bisa lagi membohongi perasaannya.


"Aku mencintainya Felly..."lirih Alice.


Felly senang mendengar itu.


"Kejar ia Alice, jangan sampai kamu kehilangannya..."saran Felly.


Tiba-tiba handphone Felly berbunyi.


Tertera nama Elena disana.


"Felly kenapa Alice tidak bisa dihubungi, dia baik-baik saja kan?..."rasa khawatir menyelimuti Elena sang ibu.


"Dia baik-baik saja, hanya ada kecelakaan kecil, dan HPnya rusak jadi tidak bisa ditelpon..."jelas Felly.


"Kecelakaan? apa yang terjadi padanya?..."Elena sontak meninggikan suaranya.


"Tenang saja bu, hanya kecelakaan kecil saja, dan sekarang sudah baik-baik saja, ia sedang istirahat..."Felly mencoba meyakinkan.


Elena sedikit lega.


"Baiklah saya akan pulang besok, tolong kabari saya jika terjadi sesuatu pada Alice..."

__ADS_1


"Baik bu..."panggilanpun berakhir.


__ADS_2