
Hari ini adalah hari keberangkatan Arvie, sebenarnya hatinya tidak tega meninggalkan Alice dalam keadaan seperti ini. Tapi apa boleh buat, ia sudah berjanji pada ayahnya untuk pergi hari ini.
Kini rasa khawatir itu seakan berontak sambil bersahutan dengan kalimat Alice yang mengatakan bahwa ia hanya pura-pura baik , semua itu selalu mengiang dikepala Arvie.
Arvie mengacak rambutnya kasar.
"Kenapa serumit ini Tuhan..."batin Arvie.
Johan menepuk bahu Arvie yang membuat lamunan pria itu buyar.
"Jangan melamun Arvie, ayo pesawat kita akan berangkat..."
Arvie tersenyum.
"Iya dad..."
Kedua pria itupun berjalan memasuki pesawat dan berangkat.
*****
Kota New York
Kota yang sangat indah, sudah beberapa tahun Arvie tidak pergi ke kota ini, kini mereka telah sampai dirumah besar bak istana milik Johan, rumah itu sengaja ia bangun jika sewaktu-waktu mereka akan pergi kesini.
"Dad aku kekamar duluan ya, capek..."ucap Arvie.
"Emmm..."Johan hanya berdehem mengiyakan.
Arvie bergegas menuju kamarnya, tentu ia sudah hapal dengan susunan rumah ini, mulai dari kamarnya, kamar ayahnya, dan yang lainnya.
Sesampainya dikamar, Arvie sibuk mencari handphone nya, untunglah ia menemukannya, dengan cepat ia mencari nomor Ray dan menelponnya.
"Hay bro, gimana udah nyampe belum di New York, betah gak disana..."ucap Ray diujung telepon.
"Iya udah nyampe nih gue, capek banget, oh iya gue ada tugas buat lo..."
"Alahhh tugas mulu lo, males ah gue kerjaan lo aja udah segini banyaknya..."keluh Ray.
__ADS_1
"Ini penting..."Arvie meninggikan suaranya.
Sontak Ray terkejut, ternyata Arvie benar-benar serius.
"Santai dong bro, gausah ngegas gitu, minta tolong apa?..."
"Alice sekarang dirumah sakit, ia kecelakaan tadi siang, dan sekarang ia belum sadarkan diri, kamu jaga dan awasi dia selama aku disini, kabari semua hal tentang dia..."kata Arvie.
Ray terkejut.
"Alice kecelakaan? Iya oke serahin semuanya sama gue, pokonya aman..."
Arvie memutuskan telepon semaunya, membuat Ray kesal.
"Ni anak semaunya banget nutup telpon..."gerutu Ray.
Tanpa pikir panjang Ray pun bergegas menuju rumah sakit.
.....
"Ini sudah dua hari Alice, bukalah matamu, jangan membuatku dan Arvie khawatir..."batin Felly seraya duduk disamping kasur Alice.
Sedangkan wanita mungil itu masih setia menutup matanya.
"Aku tau kamu pasti mendengar aku, kamu juga tau kan Arvie kemarin kesini, sebenarnya ada apa dengan semua ini Alice, aku tau kamu orang yang sangat berhati-hati dalam menyetir, tapi bagaimana bisa semua ini terjadi..."lirih Felly dengan raut wajah sedih.
Klekk...pintu ruang rawat Alice terbuka, muncullah sosok seorang pria tampan dengan senyum yang terukir indah dibibirnya seraya memegang buah ditangannya. Tentu Felly sudah kenal dengan pria ini.
"Ray masuklah..."sapa Felly.
Ray berjalan mendekati Alice dan Felly masih dengan senyum yang sama.
"Bagaimana keadaannya?..."tanya Ray seraya meletakkan buah itu diatas meja disamping kasur Alice.
Felly menghembuskan nafas pelan.
"Beginilah, seperti yang kamu lihat, sudah dua hari ia belum juga sadarkan diri..."suara Felly melemah, perlahan air mata mulai berjatuhan dipipinya.
__ADS_1
Ray merasa tidak tega dengan wanita ini, sontak ia memeluk tubuh Felly perlahan.
"Tenanglah Felly ia akan baik-baik saja, do'akan yang terbaik untuknya, tenang aku ada disini..."Ray menenangkan.
Deg deg...deg deg...
Detak jantung keduanya menjadi tidak beraturan, sontak keduanya saling melepaskan pelukan mereka.
Felly berusaha mencairkan suasana.
"Terimakasih sudah datang kesini..."ucapnya canggung.
Ray hanya cengar cengir.
"Sama-sama, baiklah aku masih banyak kerjaan, aku kekantor dulu..."ucap Ray dengan senyum termanisnya.
"Oke..."jawab Felly singkat lalu langsung memalingkan wajahnya dari pandangan Ray.
"Aduh pasti pipiku sudah memerah saat ini..."batin Felly.
*****
"Arvie siapkan fisikmu, mungkin beberapa hari lagi kita terpaksa harus menghabisi beberapa penghianat itu, dan kita akan menghabisi mereka di markas mereka, kamu pasti tau mereka bukan orang sembarangan, dia adalah musuh ayah dari dulu, dan untuk soal kemampuan jangan tanyakan lagi, ia sangat ahli dalam hal pertarungan..."jelas Johan.
Arvie menyeringai, seringai yang mematikan.
"Tenang dad, aku akan menghabisi mereka dengan tanganku sendiri, harusnya mereka bersyukur aku mau membiarkan tanganku ini mengenai darah kotor mereka nanti ..."jawab Arvie mengerikan.
Johan menepuk-nepuk bahu Arvie.
"Ayah percaya padamu, tidak sia-sia ayah mengajarimu bela diri dari kecil, bahkan sekarang kemampuan mu sudah melebihi ayah..."Johan terkekeh.
Arvie tersenyum.
"Aku tidak akan mengecewakan mu dad, bila tiba waktunya kota ini akan banjir dengan darah segar..."
Johan terkekeh pelan, Arvie memang selalu bisa diandalkan.
__ADS_1