
Flashback On
3 tahun yang lalu.
"Hai Arvie, kenapa datang kesini?..."tanya seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan awet muda.
"Hallo tante Siska, Vionanya ada?..."tanya Arvie dengan kotak cincin dan bunga ditangannya.
"Viona sedang tidak ada dirumah, dia bilang ada urusan tadi, ada yang bisa tante bantu Arvie..."ucap Siska.
"Begini Tante sebenarnya kedatangan saya kemari, saya mau melamar anak tante..."ucap Arvie.
Siska seketika tersenyum.
"Tante percaya kamu anak baik Arvie, susullah Viona sekarang, tante dan om akan merestui hubungan kalian..."ucap Siska dengan sumbringah.
"Terimakasih tante, Arvie susul Viona dulu..."Arvie pamit undur diri, Ia sangat bahagia karena niatnya untuk menikahi wanita yang sangat ia cintai akan tercapai sekarang.
Untung saja Arvie diam-diam menaruh alat pelacak dibelakang Handphone Viona, jadi ia bisa mengetahui kemanapun Viona pergi. Bukan untuk apa-apa, Arvie hanya ingin menjaga keselamatan Viona, karena Arvie tidak ingin wanitanya dalam bahaya.
Alat itu menunjukkan bahwa Viona sedang ada di hotel bintang lima, Arvie berpikir mungkin Viona sedang ada urusan bisnis, karena Viona adalah seorang model yang cukup terkenal, badannya sangat bagus dan wajah yang bisa dibilang sangat elok.
Arvie telah tiba didepan hotel besar itu, dengan sigap ia melangkahkan kakinya masuk. Ternyata Viona ada dilantai 2, Arvie pun bergegas memasuki lift dengan senyum yang sangat sumbringah.
Ting, lift sudah sampai dilantai 2. Arvie sudah berdiri didepan kamar nomor 104.
Langkah Arvie terhenti saat telinganya menangkap jelas suara seorang wanita yang sedang mendesah, ia seakan mengenali suara itu, tanpa ragu lagi Arvie membuka pintu kamar itu dengan keras.
__ADS_1
Benar saja Viona sedang bergulat penuh gairah dengan pria lain. Seketika bunga dan kotak cincin yang ada ditangan Arvie terlepas ke lantai
Arvie dengan sigap memukul pria itu tanpa ampun, sedangkan Viona, ia hanya menangis dibalik selimut yang menutupi tubuhnya yang sudah terbuka tanpa sehelai kain pun.
Pria itu tersungkur kelantai tak sadarkan diri, rasa kecewa dan dendam kini menyelimuti hidup Arvie.
"Dasar penghianat, ****** murahan, mulai detik ini jangan pernah memperlihatkan wajah kotormu itu dihadapanku..."teriak Arvie yang kini sudah berlari dengan rasa sakit yang luar biasa.
Sedangkan Viona, ia hanya menangis terisak-isak sambil memanggil-manggil nama Arvie yang kini sudah berlalu.
Flashback off.
.....
Panggilan terhubung.
"Ray gue akan pulang besok, tolong tetap awasi Alice sampai gue tiba disana..."
Panggilan terputus.
Arvie mengusap rambutnya kasar, tangannya penuh dengan perban, Ya, Arvie melukai dirinya sendiri.
"Alice maafkan aku, ini hanya salah paham..."lirih Arvie pelan.
Ia bahkan berpikir sangat keras agar Alice bisa memaafkannya. Ia takut kehilangan wanita mungil ini.
"Aku sangat mencintaimu Alice, sangat, bahkan aku rela mengorbankan hidupku untukmu..."teriak Arvie keras dari dalam kamar.
__ADS_1
Johan yang mengerti dengan keadaan Arvie saat ini berjalan mendekati Arvie yang masih melamun dengan tatapan rapuh.
Johan menepuk bahu Arvie pelan seketika membuyarkan lamunannya, sontak Arvie langsung menengok ke arah Johan.
"Kenapa Arvie, kamu ini pria tangguh, hanya wanita yang bisa membuat kamu rapuh seperti ini, siapa dia, apakah Viona, kamu masih mencintainya?..."
Arvie menghembuskan nafas kasar saat mendengar nama Viona.
"Iya dad, ****** itu kembali padaku, bahkan dialah yang membuat wanitaku salah paham..."
Johan terkekeh.
"Wanitamu? wanita yang mana Arvie, kamu belum mengenalkannya pada ayah, pasti dia sangat cantik bukan..."
Akhirnya senyum terbit dibibir pria yang rapuh itu.
"Ya dad, dia sangat cantik, dia sempurna bagiku, aku sangat mencintainya, aku menemukan kenyamanan saat bersamanya, kenyamanan yang tak pernah aku dapatkan dari orang lain..."
"Berjuanglah untuknya Arvie, jangan sampai kamu membuatnya pergi dari hidupmu, kejar dia, ayah akan selalu mendukungmu..."Johan berusaha menenangkan Arvie.
Benar saja, Johan adalah orang yang bisa menenangkan Arvie disaat Arvie ada masalah, dia sosok ayah yang hebat.
Arvie tersenyum.
"Setelah kita pulang ke Indonesia aku akan mengenalkan nya pada mu dad..."
Johan tertawa kecil.
__ADS_1
"Sekarang istirahat lah, besok pagi kita akan kembali ke Indonesia..."ucap Johan lalu beranjak pergi meninggalkan Arvie.
"Aku akan berjuang untukmu Alice, meski kamu tidak mencintaiku, aku rela jika hanya bisa jadi sahabatmu, walaupun ini sangat berat bagiku..."lirih Arvie.