
Tiba-tiba pintu ruang kerja Arvie terbuka.
Prakk...
Makanan yang dibawa Alice terlepas dari tangannya, tubuh wanita mungil itu seolah membeku, dirinya tak percaya dengan pemandangan yang ia saksikan saat ini. Bagai ada ribuan jarum yang menghujam tubuhnya. Sakit, sangat sakit.
Perlahan air mata Alice sudah berjatuhan.
Arvie sontak mendorong kasar tubuh Viona, hingga Viona tersungkur kelantai, Viona kini meringis kesakitan tapi dengan cepat ia berdiri kembali.
"Alice ini tidak seperti apa yang kamu lihat, aku bisa jelaskan semua ini ..."ucap Arvie takut.
"Maaf ternyata aku mengganggu kalian, silahkan lanjutkan, maaf aku datang diwaktu yang tidak tepat..."lirih Alice pelan disela tangisnya.
Alice memalingkan tubuhnya, ia berniat ingin lari meninggalkan ruangan itu. Tapi Viona malah memanggilnya.
"Hai tunggu, jadi kamu Alice, haha ternyata kamu orangnya, hei ****** berhenti menggoda Arvie, memang berapa kamu menjual tubuh mulusmu itu hah..."ucap Viona sedikit berteriak.
Alice memalingkan tubuhnya dan berlari mendekati Viona dan,
Plak, tamparan mendarat mulus dipipi Viona.
"Dengar, aku bukan ****** sepertimu, yang rela menjual tubuh kotormu ini demi uang, aku bahkan bisa membeli mulut kotormu itu..."Alice sangat emosi.
Viona mengelus pipinya yang sakit akibat tamparan Alice,
__ADS_1
"Beraninya kamu menamparku..."
Viona berniat membalas tamparan Alice dipipinya tapi dengan cepat Arvie menepisnya dengan kasar. Viona meringis kesakitan.
"Kalau sampai kamu berani menyentuh milikku, aku akan membunuhmu saat ini juga..."ucap Arvie sangat menakutkan.
Viona tak pernah menyerah ia mendekati Arvie lagi.
"Sayang bukankah kamu sangat mencintaiku, berhentilah berpura-pura dihadapan ****** ini sayang, ayo bermainlah denganku ,aku pasti akan memuaskan mu..."ucap Viona sambil mengedipkan matanya.
"Berhenti menyebut Alice ******, dia bukan ****** sepertimu, ia adalah wanitaku, kamu dengar itu, pergi sekarang kalau tidak aku benar-benar akan merenggut nyawamu hari ini juga..."ancam Arvie.
Viona mendengus kesal.
"Tenang sayang, sekarang aku akan pulang, nanti aku akan kembali lagi menemui mu..."ucap Viona santai lalu meninggalkan ruangan itu.
Arvie sangat takut, ia sangat khawatir melihat Alice yang tak henti-hentinya menangis. Hatinya terasa hancur saat ini. Arvie berusaha mendekati dan memeluk tubuh mungil yang sangat ia rindukan itu. Tapi Alice menepisnya dengan kasar,
"Jangan menyentuhku ..."teriak Alice lalu berlari meninggalkan Arvie.
Arvie berdiri seolah membeku. Ia ingin sekali mengejar Alice, tapi kakinya tak mampu melangkah. Hatinya sakit mendengar perkataan Alice, tapi bagaimanapun ini adalah salah Viona, Arvie menggenggam tangannya kuat lalu memukul mejanya dengan sangat kencang hingga darah segar mengalir ditangannya.
Alice berlari dengan air mata yang terus berjatuhan.
Felly yang melihat itu seketika panik.
__ADS_1
"Ada apa Alice?..."
"Kita pulang sekarang..."ucap Alice disela isaknya.
"Tapi kenapa, dimana Arvie..."tanya Felly heran.
"Aku bilang sekarang..."teriak Alice.
Felly hanya mengangguk.
Keberangkatan menuju Indonesia.
Saat dipesawat Alice pingsan tak sadarkan diri, Felly tentu saja sangat panik. Setelah pesawat mendarat di Indonesia Felly bergegas membawa Alice pulang kerumah.
"Felly ada apa dengan Alice..."Elena terkejut saat melihat tubuh putrinya dibopong oleh para bodyguardnya.
"Maaf bu, saya ingin mengantar Alice kekamarnya..."ucap Felly.
Elena hanya diam dan membiarkan Alice berlalu. Ia tidak mengerti apa yang terjadi tapi Elena percayakan semuanya pada dokter-dokter kepercayaan keluarganya.
Alice sudah dibaringkan di atas kasurnya dengan beberapa dokter kepercayaan keluarga Yunata yang sedang sibuk memeriksanya.
"Tenang bu Felly, Alice baik-baik saja, dia hanya syok saja, sebentar lagi juga membaik, kalau begitu kami permisi dulu..."ucap seorang dokter itu.
"Terimakasih dok..."kini Felly bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Ada apa denganmu Alice, ada apa dengan Arvie, ada apa dengan semua ini..."lirih Felly mengeluh, ia tidak mengerti dengan semua ini. Tapi disisi lain ia bisa merasakan bagaimana perasaan Alice saat ini.
"Kalau sampai Arvie menyakiti Alice, aku tidak akan tinggal diam ..."batin Felly yang mulai emosi.