
Mentari kini sudah menyinari mata indah Alice. Sinar yang seakan memasuki bola mata wanita cantik itu. Alice mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggeliat pelan.
"Pagi ini cerah sekali, ternyata tadi malam tidurku sangat nyenyak..."batin Alice.
Tiba-tiba handphone Alice berdering sontak membuat Alice kaget.
Panggilan dari Arvie.
Alice spontan langsung mengangkatnya.
"Ada apa Arvie?..."tanya Alice dengan suara serak khas bangun tidur.
"Alice rencananya aku hari ini ingin kepantai? maukah ikut bersamaku?..."jawab Arvie diujung telepon.
"Baiklah aku bersiap-siap dulu, kamu bisa jemput aku?..."tanya Alice lagi.
"Tentu nona cantik..."goda Arvie sedikit terkekeh.
Alice hanya tersenyum. Dan panggilan pun berakhir.
Alice langsung bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas memasuki kamar mandi, ia tidak mau Arvie terlalu lama menunggunya.
Selesai mandi Alice pun keluar dengan handuk putih yang melingkari dadanya. Kini ia mulai mengacak-acak pakaiannya.
Hari ini ia hanya memilih memakai blus berwarna cream dan rok kecoklatan dengan panjang selutut. Tentu sangat cantik jika Alice yang mengenakannya, kini ia sudah siap dengan penampilan yang memukau walau dengan pakaian yang cukup sederhana saja.
Alice menuruni tangga dengan senyum yang melengkung dibibirnya. Terlihat sangat bahagia.
"Good morning mom..."sapa Alice dengan senyuman termanisnya.
"Good morning too Dear, hari ini cantik sekali, mau kemana sayang?..."tanya Elena penasaran.
"Aku ingin kepantai mah bersama Arvie..."jawab Alice terkekeh.
Elena tersenyum.
"Baiklah hati-hati dijalan sayang..."pesan Elena.
__ADS_1
Terdengar bunyi mobil yang berhenti didepan rumah Alice. Tentu Alice sudah tau siapa yang datang itu, dengan cepat ia langsung berlari keluar.
Benar saja, disana Arvie sudah berdiri dengan gagahnya, sangat tampan namun Alice tak pernah memikirkan hal itu. Dengan senyum yang merekah dibibir mungil wanita itu ia langsung berlari menghampiri Arvie.
"Silahkan masuk nona cantik..."sapa Arvie sambil membukakan pintu mobilnya.
Alice hanya tersenyum dan langsung masuk kedalam mobil itu.
Mereka pun menuju tempat yang sudah direncanakan, hanya berdua saja, tanpa asisten mereka masing-masing.
Senyap.
Alice hanya diam sambil menikmati pemandangan dikaca mobil, sedangkan Arvie hanya pokus menyetir mobil. Tidak ada percakapan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Apa kamu lapar?..."tanya Arvie memecahkan keheningan itu.
"Tidak, aku masih kenyang, ..."jawab Alice datar.
Alice sebenarnya tidak ingin pergi bersama Arvie tapi ia sedikit kasian dengan pria disampingnya ini.
.....
Pantai
17.56
Udara pantai yang sangat segar, Angin bertiup cukup kencang seolah menenangkan suasana, pemandangan yang sangat indah dihiasi matahari yang sebentar lagi akan terbenam.
Alice dan Arvie melangkah menuruni mobil dan berjalan menuju tempat duduk ditepi pantai. Mereka berniat untuk menikmati pemandangan dan tidak ingin melewatkan sunset sore ini.
Mereka duduk ditepi pantai, siapapun yang melihat mereka pasti berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang serasi.
Tidak ada pembicaraan, Kini matahari mulai terbenam, Alice hanya tersenyum sambil melihat pemandangan yang indah ini.
Tanpa ia ketahui Arvie memerhatikan wajah wanita disampingnya itu, lagi-lagi senyum merekah dibibir pria tampan ini. Arvie merasa sangat tenang bila berada didekat Alice.
Alice seketika menatap Arvie, tentu itu membuat Arvie langsung salah tingkah, ia takut Alice tau kalau ia sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Arvie terimakasih atas bantuanmu, akhirnya perjodohan ku dengan Devan dibatalkan..."ucap Alice seraya tersenyum.
"Aku juga senang bisa membantumu, bahkan jadi pacar pura-puramu selamanya juga aku mau..."goda Arvie terkekeh.
Alice tertawa kecil.
"Oh iya kemarin aku lupa bilang tentang persyaratan hubungan pacar pura-pura ini..."kata Alice.
"Persyaratan? Untuk apa..."tanya Arvie penasaran.
"Kita akan menjadi pacar pura-pura agar mamaku percaya, tapi ada satu syarat, Jangan pernah mencintaiku..."jelas Alice.
Senyum yang dari tadi merekah dibibir pria tampan itu kini sirna. Seperti ada batu besar yang menimpa tubuhnya, seperti ada pedang yang tajam yang menyayat hatinya. Ya, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Arvie saat ini. Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar perkataan itu, siapa sangka pemandangan yang indah ini akan menjadi sakit hati yang mendalam.
Arvie bersi keras mengukir senyum dibibirnya walau hatinya kini sedang berontak tak menentu.
"Tentu Alice..."jawabnya lirih hampir tak terdengar namun Alice bisa mendengarnya dengan jelas.
"Alice kita pulang saja, angin malam ini tidak baik untuk kesehatan mu..."ucap Arvie sedatar mungkin.
"Secepat ini? Bukankah kamu ingin menikmati pemandangan indah ini?..."jawab Alice heran.
"Sekarang aku merasa tidak enak badan, jadi bisakah kita pulang sekarang..."usul Arvie dengan pikiran kacau.
"Kamu baik-baik saja, ayo kita pulang..."ucap Alice sambil menarik tangan Arvie.
"Aku baik-baik saja, ayo aku antarkan kamu kerumahmu..."ucap Arvie lalu menepis tangannya yang ditarik Alice.
Alice hanya sedikit heran. Namun ia tidak memedulikan itu, Alice hanya ingin cepat pulang dan istirahat tanpa memikirkan apa yang terjadi dengan pria ini.
Arvie pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi namun tetap hati-hati.
Lagi-lagi hening.
Tibalah mereka didepan rumah Alice. Setelah mengantarkan Alice. Arvie langsung mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi seakan-akan berniat ingin menghilangkan nyawanya.
Dan kini ia tiba didepan rumahnya.
__ADS_1