
~Bahkan orang yang mengaku sangat menyukai hujan juga akan berteduh saat hujan itu turun, karena ia sadar sesuatu yang indah juga bisa menyakiti.
Sama halnya seperti Alice. Arvie memang menyukai Alice hanya saja Arvie sadar Alice pasti akan membuat hatinya terluka.
Hari ini Arvie sama sekali tidak berniat untuk pergi kekantor. Pikirannya sangat kacau.
Beberapa botol Vodka kini berantakan disamping tempat tidur Arvie. Apakah Arvie mabuk? Ya, ia mabuk.
Terlihat pria tampan yang kini berjalan memasuki kamar Arvie, kamar Arvie terlihat sangat berantakan dengan beberapa gelas pecah yang berserakan dilantai.
"Lo mabuk? gila lo vie sejak kapan kebiasaan buruk lama lo kembali lagi..."Ya, pria tampan itu adalah Rayfan.
Arvie mendengus kesal dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Diam lo, lebih baik lo keluar dari kamar gue sekarang..."gertak Arvie.
"Hey gue ini sahabat lo, bahkan gue lebih mengenal lo dari pada diri lo sendiri, kenapa lo hah, putus cinta lagi? jangan sampai ya masalalu lo yang buruk itu terulang lagi..."gerutu Ray.
Arvie hanya terdiam sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pria ini kelihatan sangat terpuruk.
Tanpa sengaja Ray melihat foto Alice yang tergeletak dilantai. Foto wanita cantik yang sedang tersenyum manis, entah kapan Arvie mengambil foto itu.
__ADS_1
Kini Ray mengerti apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini, dengan cepat ia bergerak mengambil foto itu dan berjalan mendekati Arvie.
"Jadi lo suka sama Alice? ngapain lo mendam sendiri gini hah?..."gerutu Ray.
"Percuma Ray, dia udah peringatin gue untuk jangan pernah mencintai dia ..."jawab Arvie datar.
"Jadi lo pikir dengan lo mabuk gini bisa buat semuanya membaik, gila kali lo, lo masih ingat kah asisten pribadi Alice? kenapa lo gak coba nanya aja sama dia, kenapa Alice ngelarang lo jatuh cinta sama dia?..."saran Ray.
Arvie spontan menatap wajah Ray sedangkan Ray masih duduk dengan posisi santainya.
"Kenapa lo baru bilang sekarang, sekarang juga gue akan temuin dia..."ucap Arvie bersemangat.
"Gue kan pinter..."jawab Ray dengan angkuhnya.
"Jadi gue cuman dianggep patung duduk nih..."kata Ray.
Arvie kini sudah mulai mengeluarkan tawanya.
"Maaf ya Ray gue mau langsung pergi nih..."ucap Arvie seraya menepuk bahu Ray dan langsung pergi.
"Good luck bro..."jawab Ray.
__ADS_1
.....
Disisi lain.
Terlihat Seorang wanita dengan wajah yang kelihatan sangat kesal.
"Perjodohan ini tidak boleh gagal, aku harus melakukan sesuatu, bagaimanapun caranya Devan harus tetap menikah dengan Alice..."lirihnya pelan.
Ya, dia adalah Diana, sahabat dari Elena.
Ternyata penolakan Alice secara sepihak membuat dirinya teramat marah.
"Mah Devan mau pergi dulu..."pamit Devan.
"Devan mau kemana kamu, bahkan perjodohan mu saja belum beres, lakukanlah sesuatu..."gerutu Diana.
"Kenapa sih mah semenjak ayah meninggal dalam kecelakaan beruntun itu mama selalu memaksa aku untuk menikah dengan Alice? Ada apa mah?..."tanya Devan heran.
Diana malah semakin kesal.
"Kamu tidak perlu tau, sekarang pergilah biar mama saja yang mengurus semua ini..."jawab Diana.
__ADS_1
Entahlah kenapa, semenjak ayah Devan meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun yang menghilangkan banyak nyawa itu Diana selalu bersikeras menjodohkan Devan dengan Alice, bahkan ia menjadi pemarah, tidak selembut dulu lagi, Devan pun merasa bingung dengan ibunya ini.