Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
You are the reason


__ADS_3

Wanita mungil itu kini sudah mulai membuka matanya.


Seperti ada cahaya ketenangan yang menyelimuti jiwa Arvie. Sosok yang begitu ia rindukan, kini sudah berada tepat didepannya.


Arvie mulai memberanikan diri menggenggam tangan Alice pelan lalu duduk disamping Alice.


Perlahan mata Alice mulai menyapu sekeliling ruangan, tatapannya terpaku saat melihat sosok yang kini sedang menggenggam erat tangannya seolah menguatkan.


Bulir bening kini mulai berjatuhan dipipi mungil wanita itu, sekilas kejadian yang terjadi dirumahnya Devan kembali mengiang-ngiang diingatan Alice, tanpa terasa Alice sudah terisak-isak menandakan titik lemahnya kini telah mencapai klimaks. Rasa kecewa dan seakan tak percaya dengan kejadian yang menimpa dirinya.


Arvie yang melihat itu seolah mengerti apa yang sedang dipikirnya oleh wanita itu, ia mulai mengusap air mata Alice yang berjatuhan, Alice sedikit menghindar, tapi Alice tak akan pernah bisa membohongi perasaannya sendiri kalau dia juga sangat merindukan Arvie.


"Pergi Arvie, untuk apa kamu disini, sudah cukup rasa sakit yang kamu berikan, aku sudah tidak kuat lagi hikss..."ucap Alice lirih namun masih terdengar.


"Alice dengar, kamu hanya salah paham Alice, ku mohon untuk kali ini saja percayalah, ku mohon..."jawab Arvie dengan pelan.


Sedangkan Alice masih sibuk dengan isakannya.


Alice mengubah posisi nya, ia kini sudah duduk tepat menghadap Arvie, mempertemukan empat mata yang saling beradu tatap.


"Arvie siapa wanita itu, dia wanitamu, kamu jahat Arvie, jahat ..."ucap Alice sambil memukul-mukul dada bidang Arvie pelan.


Arvie hanya terkekeh melihat sikap Alice yang kekanak-kanakan itu.


"Kamu cemburu?..."


Seketika pipi Alice memerah, ia merasa sangat ceroboh, ia baru sadar, ia siapa hingga berhak cemburu seperti ini.


Arvie mulai mendekap pelan tubuh mungil yang sangat ia rindukan itu, Alice tidak bisa berontak, meski seribu kali mulutnya menolak, tetap saja jiwanya tak bisa menolak.


Arvie mengelus-elus rambut Alice pelan,


"Dengan Alice, wanita kemarin hanyalah mantan pacarku tiga tahun yang lalu, penghianatan yang dia lakukan tidak akan pernah aku lupakan..."


Alice membenamkan wajahnya di bahu Arvie,

__ADS_1


"Lalu kenapa dia memperlakukan kamu begitu..."tanya Alice dengan polosnya.


Arvie tersenyum,


"Dasar polos, dia hanya mencoba merayuku agar mau kembali bersamanya..."jelas Arvie.


"Kamu mau?..."tanya Alice lagi.


"Tidak..."ucap Arvie singkat.


Alice mulai melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan Arvie,


"Kenapa...?"Ada raut wajah penasaran saat pertanyaan itu terlontar dari mulut mungil wanita itu.


Arvie terkekeh seraya mengacak-acak rambut Alice pelan, dan nyaris membuat Alice kesal.


"Ihhh berantakan tau..."ucap Alice dengan wajah sangat menggemaskan.


Arvie membenarkan posisi duduknya tepat didepan Alice,


"You are mine, my love..."lanjut Arvie lagi.


Alice merasa terharu sambil menahan air mata yang kini sudah tak terbendung.


"Aku?..."


Arvie tersenyum,


"Ya kamu, You are my woman..."


Arvie mengelus-elus rambut Alice.


"Percayalah, aku tak pernah main-main soal hati, aku mencintaimu Alice, l love you..."saat kalimat itu terlontar dari mulut Arvie.


Alice sudah tak mampu lagi menahan air matanya, ada rasa bahagia bercampur haru yang kini kian bergejolak didalam pikiran Alice.

__ADS_1


Alice sontak memeluk tubuh Arvie dengan cepat,


"You are the most beautiful form that God has given me, l love you too..."


Arvie yang mendengar jawaban itu, sontak mempererat pelukannya, seperti dua insan yang kini merasa dunia milik mereka berdua, tanpa mereka sadari kini Elena dan Felly sudah berdiri tepat dihadapan mereka.


"Ekhmm, mama jadi nyamuk nih..."ucap Elena tersenyum.


Sontak keduanya melepaskan pelukannya,


"Mahhh..."Alice lalu memeluk Elena sebentar.


"Bagaimana keadaan kamu Sayang, mama sangat khawatir..."ucap Elena.


Alice tersenyum, "Alice sudah ngga papa mah..."


"Sekarang ceritakan semua yang terjadi tadi malam Alice..."Elena begitu penasaran.


Kini Alice menceritakan semua yang ia alami sampai Arvie datang menolongnya.


Elena yang mendengar itu, merasa sangat kecewa, hatinya sangat hancur mendengar kejadian pahit yang dilakukan Diana sahabatnya sendiri pada putri semata wayangnya.


"Maafkan mama Alice, mama bahkan tidak menyangka dengan semua ini, mama sudah berteman lama dengan tante Diana..."ucap Elena yang kini kian melemah.


"Mah, Alice ngga papa ko, untung aja Arvie datang nyelamatin Alice, kalau ngga, Alice sudah tidak tau lagi kejadian buruk apa yang akan Alice terima ..."


Elena menepuk bahu Arvie pelan,


"Maafkan tante Arvie, tante sudah berpikir buruk tentang kamu, terimakasih sudah menolong Alice..."


Arvie menyeringai puas,


"Sama-sama tante, Arvie kan harus jaga calon istri Arvie, ngga boleh ada yang sentuh dia..."


Alice menepuk kasar bahu Arvie, seketika mereka hanya tertawa, kini seisi ruangan dipenuhi dengan canda tawa dan perasaan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2