
Beberapa barang telah siap didalam koper berwarna coklat itu, Arvie dan Johan sudah dalam perjalanan menuju bandara kota New York.
Saat diperjalanan, Arvie hanya diam dengan tatapan yang kosong, entah apa yang dipikirkan oleh pria tampan ini.
Johan yang melihat itu hanya tersenyum,
"Ternyata kamu sangat mencintai wanita itu Arvie, sehebat apa wanita itu hingga bisa membuat putra ayah hampir prustasi seperti ini..."ucap Johan sedikit meledek.
"Dad, dia sangat cantik dad..."sahut Arvie.
"Jika dia benar-benar cantik, mungkin ayah boleh menjadikan nya ibumu..."ucap Johan sengaja.
Mata Arvie terbelalak mendengar hal itu.
"Akan ku retakkan ginjal mu dad..."ucapnya dengan emosi.
Johan hanya tertawa kecil, ia memang sengaja memanas-manasi Arvie.
Tibalah mereka di bandara.
Keberangkatan menuju Indonesia.
.....
"Mah Alice berangkat kerumah tante Diana dulu ya mah..."pamit Alice.
"Iya sayang kamu hati-hati ya..."
Alice pun pergi sendiri tanpa mengajak Felly.
Karena rumah Diana tidak terlalu jauh dari rumah Alice, kini Alice sudah sampai didepan rumah Diana.
Alice mendapat sambutan yang sangat ramah disana, siapa sangka dibalik sambutan manis itu menyimpan mala petaka.
"Sini Alice masuk, Devan dari tadi nungguin kamu tuh dimeja makan, kita makan sama-sama ya..."ucap Diana.
Alice hanya mengangguk seraya tersenyum, lalu mengikuti langkah Diana masuk.
__ADS_1
"Hai teman kecil..."ucap Devan sambil mengacak rambut Alice pelan.
Alice cemberut.
"Ihhh aku udah besar, berantakan nih rambut aku..."gerutu Alice.
"Udah-udah ayo duduk kita makan sama-sama ya..."ucap Diana melerai perdebatan dua teman kecil itu.
Kini Diana sedang sibuk menyiapkan makanan dan beberapa macam minuman.
"Devan, Alice, ini minum dulu, ini tante buat spesial banget buat kalian berdua..."ucap Diana sambil menyodorkan dua gelas minuman.
Devan dan Alice langsung meminum minuman itu tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Setelah lama berbincang-bincang, seraya menghabiskan makan malam, sontak kepala Alice terasa sangat pusing.
Tubuhnya terasa sangat gerah padahal ini adalah ruangan ber AC sama hal nya dengan Devan.
"Kenapa Devan, Alice, ko risih gitu..."Diana angkat suara.
"Iya mah Devan juga..."sambung Devan.
Diana menyeringai puas.
"Mama antar kekamar Devan aja ya Alice, disana ruangan nya adem dan dingin, biar kamu gak gerah lagi..."ucap Diana sambil memegang tangan Alice untuk mengarahkan nya kekamar Devan. Sedangkan Devan hanya mengikuti debalakang Diana.
"Nah kita sudah sampai, Devan kamu temani Alice didalam ya, mama mau beresin bekas makan tadi dulu ..."ucap Diana lalu keluar. Anehnya Diana malah mengunci mereka berdua dikamar itu.
Diana tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang kalian berdua pasti akan menikah, ngga sia-sia aku masukin obat perangsang kedalam minuman mereka, setelah ini mau tidak mau mereka harus menikah, hahaha..."Diana menyeringai jahat.
Didalam kamar.
Devan dan Alice duduk diatas kasur milik Devan.
"Alice aku gerah banget, bantuin aku ya..."ucap Devan lalu menindih tubuh mungil Alice.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan sih Devan, jangan kurang ajar ya..."lawan Alice.
"Aku udah gak tahan Alice, lagian kamu juga ngerasain hal yang samakan?..."bujuk Devan.
Dengan cepat Devan sudah menyambar lalu ******* bibir Alice dengan penuh gairah.
Alice berusaha berontak, ia mendorong tubuh Devan sekuat tenaganya, tapi tidak bisa, Devan jauh lebih kuat.
Air mata Alice berjatuhan saat Devan mulai membuka kancing kemeja atasnya.
"Hentikan Devan, hiksss..."ucap Alice disela tangisnya.
Brukkk...kamar Deva didobrak dengan kasar.
Ya, Arvie datang.
Arvie yang melihat Alice menangis langsung memukul Devan tanpa ampun.
"Brengsek kamu Devan, berani-beraninya kamu menyentuh milikku..."ucap Arvie dengan penuh emosi.
Kini Devan sudah tersungkur dilantai tak sadarkan diri.
Alice masih saja menangis.
Dengan cepat Arvie memeluk tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu. Alice sempat berontak, tapi akhirnya ia melemah, karena memang ia sangat merindukan pelukan hangat dari pria ini.
Seketika Alice pingsan, itu membuat Arvie semakin panik, akhirnya Arvie memutuskan untuk membawa Alice pulang kerumah Elena.
Dengan sigap ia membopong tubuh mungil Alice dan berlari menuju mobilnya.
Ia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Diana mendengus kesal.
"Brengsek, bagaimana bisa gagal seperti ini, aaaakhh..."teriak Diana.
Diana akhirnya menelpon ambulance untuk membawa Devan kerumah sakit.
__ADS_1