Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Teringat ayah


__ADS_3

Ayah Arvie bernama Johannes Ackerley yang kini sudah berusia 50 tahun namun masih kelihatan sangat gagah. Nasib Arvie hampir mirip dengan Alice. Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya saat melahirkan Arvie dan sejak waktu itu Arvie hanya dibesarkan oleh ayahnya dan baby sitternya tanpa merasakan kehangatan dan kasih sayang dari seorang ibu.


Menyedihkan bukan? namun itulah takdir yang harus diterima Arvie.


Untungnya Arvie masih tergolong keluarga yang serba berkecukupan bahkan bisa dibilang berlebihan.


Johan memiliki 2 cabang perusahaan besar didua negara, satu perusahaan ada di Indonesia yang kini dipercayakan pada Arvie.


Dan cabang satunya berada di New York yang masih berada dibawah kekuasaannya dan masih ia handle dengan tangannya sendiri. Ia berjanji akan menyerahkan perusahaan itu pada Arvie jika Arvie sudah menikah.


.....


Tok tok...


Seorang pria tampan kini sudah berdiri tegap sambil memegang sebuah bingkisan didepan rumah besar bak istana itu.


Seorang wanita paruh baya dengan pakaian asisten rumah tangganya kini membukakan pintu.


"Ada apa tuan, mau cari siapa..."sapa wanita itu ramah.


"Maaf bi saya mau cari Alice, apa dia ada didalam?..."tanya pria itu sopan.


"Ada tuan mari silahkan masuk, saya panggilkan non Alice nya dulu..."ucap wanita itu seraya pergi.


Pria tampan itu kini duduk disofa rumah besar itu sambil menunggu.


Terdengar suara lirih yang memanggil Arvie dari belakang. Tentu pria ini sangat merindukan suara itu.


"Hai Arvie, kenapa tidak bilang dulu kalau mau kesini..."sapa Alice seraya mengeluarkan senyum termanisnya.

__ADS_1


Arvie terdiam sejenak menatap wajah cantik wanita yang kini berdiri didepannya ini.


"Sempurna ..."batin Arvie.


"Maaf cantik, sengaja tidak bilang..."jawab Arvie terkekeh.


Alice hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh pria ini dan memutuskan untuk duduk disamping Arvie.


Tiba-tiba keluarlah seorang wanita paruh baya sambil membawakan dua buah minuman dan beberapa makanan.


"Silahkan tuan, non..."ucapnya sambil menyodorkan makanan dan minuman itu dengan sangat sopan dan ramah.


"Terimakasih bi Ina..."ucap Alice dengan senyum.


"Sama-sama non..."jawab bi Ina lalu kembali ke dapur.


Ya, ia adalah bi Ina, asisten rumah tangga Alice, bi Ina sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun, jadi tidak heran jika bi Ina sudah dianggap seperti keluarga Alice sendiri.


"Oh iya ini aku bawakan ice cream, tadi aku membelinya sebelum kesini..."ucap Arvie sambil menyodorkan bingkisan yang dari tadi ia pegang.


Hening, Tanpa suara.


Tiba-tiba dengan lancangnya beberapa bulir bening jatuh dipipi mulus Alice.


Apakah Alice menangis?


Ya, Alice kini sudah terisak didepan Arvie.


Arvie kini terdiam kaku, ia bahkan tidak mengerti kenapa wanita cantik disampingnya ini tiba-tiba menangis, hanya saja hatinya terasa sesak melihat pemandangan ini.

__ADS_1


"Maafkan aku Alice, apakah aku salah, atau kamu tidak suka ice cream? biar aku buang sekarang, bicaralah Alice, jangan diam seperti..."terlihat jelas raut wajah cemas dari wajah pria ini.


Tiba-tiba Alice memeluk tubuh pria ini dan terisak didada bidang Arvie. Arvie yang melihat itu sontak kaget dan gugup, detak jantungnya kini tak beraturan. Perlahan ia rangkul tubuh wanita cantik yang kini sedang memeluknya ini dengan tangan yang gemetar.


Nyaman? Ya, itulah yang dirasakan keduanya, kini keadaan mulai sedikit tenang. Alice kini melepaskan pelukan itu.


"Maaf..."lirih Alice pelan.


"Tidak masalah Alice, sekarang katakanlah ada apa dengan mu?..."tanya Arvie masih dengan raut wajah cemas nya.


"Dulu waktu aku kecil, ayahku selalu membelikan aku ice cream setelah ia pulang kerja, dan aku sangat merindukan itu semua..."lirih Alice.


Kini Arvie mengerti kenapa wanita ini tiba-tiba menangis.


"Maafkan aku Alice, aku tidak tau ini akan membuat mu sedih, ini semua salahku..."ucap Arvie merasa bersalah.


"Tidak Arvie, kamu tidak salah, aku baik-baik saja..."ucap Alice tersenyum.


Setiap kali Alice menangis ia selalu merasakan ketenangan saat berada didekat Arvie, hanya saja Alice tidak menyadari itu.


"Sekarang ayo kita makan ice cream, jangan nangis lagi ya, nanti cantiknya hilang..."Arvie berusaha menghibur Alice.


Sontak pipi Alice merona, ia sangat malu dengan perkataan Arvie.


"Arvieeee..."Alice menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Arvie hanya terkekeh geli melihat tingkah wanita ini, lagi-lagi senyum terukir indah dibibir Arvie, Ya ia sangat bahagia hari ini.


Kini keduanya sedang sibuk memakan ice cream sambil tertawa bersama.

__ADS_1


Sangat serasi, itulah kata yang cocok untuk mereka berdua, tapi apakah takdir bisa menyatukan mereka?


__ADS_2