
Hari pertempuran besar itupun kini telah tiba.
Arvie dan Johan hanya membawa sepuluh orang pengawal yang akan membantu mereka saat menyerang musuh, hanya sepuluh orang saja.
Johan sudah mempersiapkan segalanya, bahkan ia memahami betul bagaimana orang yang akan ia ajak bertarung ini.
"Bagaimana Arvie kamu siap, kita akan berangkat sekarang..."
Arvie menyeringai.
"Aku bahkan sudah siap dari jauh-jauh hari dad..."
"Haha kamu memang andalan ayah, bawa senjata tajam ini mungkin akan kita perlukan nanti ..."perintah Johan.
"Tidak perlu dad, jangan kelihatan lemah begitu dad, tanpa itu semua pun aku bisa menghabisi mereka..."ucap Arvie dengan sombongnya.
Johan hanya tertawa kecil, lalu merekapun berangkat.
Setelah beberapa saat mereka telah sampai didepan pagar yang besar dan tinggi, yang didalamnya terdapat gedung yang sangat megah bak istana. Disana sudah terlihat beribu-ribu pria bertubuh kekar yang menjaga keamanan. Sedangkan Arvie, ia bahkan hanya membawa sepuluh orang pengawal saja.
Arvie tersenyum melihat banyaknya jumlah penjaga itu.
"Hanya segitu kah dad? aku kira akan ada milyaran orang penjaga disini..."ucap Arvie.
Johan tertawa.
"Ayo kita selesaikan Arvie..."
Mereka turun dan mendekati gerbang itu, sontak langsung dihadang oleh ribuan penjaga bertubuh kekar itu.
Arvie melangkah maju lebih dulu.
"Dimana kalian sembunyikan di penghianat itu hah?..."
Keluarlah seorang pria gagah bertubuh besar dan kekar dengan pakaian serba hitam, sontak semua penjaga itu hormat padanya. Ia tertawa dengan kencangnya.
"Kau mencari ku Johan? kenapa? ayolah kembali bergabung ke dunia mafia lagi? kita akan bertarung disana ..."ucap pria itu.
"Jangan mimpi Stef aku tidak akan kembali kedunia gelap itu, oh sekarang kau main kotor ya, dengan menyuruh orang kepercayaan mu untuk bekerja bersamaku sebagai mata-mata, aku tidak menyangka kau serendah itu sekarang..."ucap Johan sedikit berteriak.
Stef menatap tajam mata Johan.
__ADS_1
"Kau yang bodoh Johan, bisa-bisanya kau dibodohi oleh ku, bagaimana rasanya, sekarang kau berada diambang kehancuran..."Stef menyeringai.
Arvie melangkah mendekati Stef.
"Jangan banyak bicara kau penghianat, bahkan dengan cara kotor ini saja kau bangga, haha kau bahkan sudah tua seumuran dengan ayahku, bahkan tulangnya saja mungkin sudah rapuh untuk menghadapi anak muda sekuat diriku..."tantang Arvie.
Johan hanya tersenyum bangga.
Stef menatap tajam mata Arvie dengan tatapan yang mengerikan.
"Diam kau, bahkan tangan kotor kalian tak akan bisa menyentuh tubuhku, habisi mereka..."ucap Stef lalu masuk keruangannya.
Seketika ribuan penjaga bertubuh kekar itu menyerang Arvie dan Johan.
"Ini untuk bahan pemanasan kita dad, sebelum membunuh penghianat itu..."ucap Arvie.
Pertarungan kini dimulai. Ibaratkan 1 banding 1000.
Benar saja Arvie bahkan seperti monster yang sangat mengerikan, Ia kelihatan sangat ganas dan menghabisi musuh tanpa ampun, sekali gerak saja Arvie sudah bisa menghabisi puluhan penjaga bertubuh kekar itu.
Arvie sudah memakai pengaman dibagian kepalanya, dan juga bagian-bagian sensitifnya. Dan itu ternyata tidak sia-sia.
Ada penjaga yang memukul Arvie tepat dibagian belakang kepalanya. Arvie kini menghajar orang itu sampai penjaga itu terkulai tak bernyawa dengan darah segar yang mengalir dikepalanya.
Sekitar 30 menit, pertempuran berakhir dengan sadis, wajah Arvie kini penuh dengan cipratan darah. Benar saja hanya Arvie dan Johan serta sepuluh orang pengawal. Mereka berhasil menghabisi ribuan penjaga disana.
Kini kondisi Johan sudah mulai melemah, dan Arvie sangat menyadari itu.
"Simpan tenagamu dad, biar Stef akan jadi permainan terakhir ku..."ucap Arvie yakin.
Ternyata Stef tidak tinggal diam, ia menyewa 10 orang mafia juara dunia untuk membantunya.
Arvie mungkin masih mampu, tapi kini ia mengkhawatirkan kondisi Johan.
"Bagaimana permainan mu Johan?ini bahkan belum selesai..."ucap Stef tertawa.
"Itu bahkan hanya pemanasan bagi kami Stef, sekarang langsung ke intinya saja..."tantang Arvie.
Pertarungan kini dimulai kembali.
Sepuluh orang mafia kejuaraan dunia itu kini mulai menyerbu kami. Dan tidak bisa dipungkiri serangan mereka bahkan sangat lihai. Sudah tiga orang yang berhasil mereka Jatuhkan. Sekarang tersisa tujuh orang lagi.
__ADS_1
tiga orang pengawal Arvie kini telah tumbang, dan Johan hidungnya kini mengeluarkan banyak darah, Arvie yang melihat itu sangat khawatir, sedangkan Stef ia bahkan tertawa jahat menyaksikan pertempuran itu.
"Aku harus mengakhiri semua ini ..."batin Arvie.
Arvie sempat tersungkur beberapa kali, karena kencangnya tendangan dari beberapa mafia itu, namun untung saja ia sudah banyak minum-minuman yang bisa menguatkan staminanya.
Sekarang hanya tersisa 2 mafia lagi. Dan Johan kini telah melemah, pengawal Arvie kini hanya tersisa 2 orang lagi.
Arvie menyerang tanpa ampun, dan Akhirnya dua mafia itu tumbang.
Arvie berlari mendekati Johan yang kini sudah terjatuh kelantai.
"Dad, why?..."
"Habisi dia Arvie, ayah baik-baik saja..."perintah Arvie.
Arvie kini mendekati Stef yang kini sudah mulai takut karena para penjaganya sudah tumbang.
"Bagaimana Stef kita mulai saja..."Arvie tersenyum sambil mengusap hidungnya dengan tangan, karena darah kini mulai mengalir dari hidung Arvie.
Stef melangkah lalu menyerang lebih dulu dengan tendangan yang sangat kencang. Arvie terpental jauh dan tubuhnya terhempas ke tembok, ada sedikit darah yang keluar didahi Arvie. Ternyata darah itu membuat Arvie semakin buas, ia menyerah Stef dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi, seperti harimau yang mebunuh mangsanya, Arvie seperti orang yang haus darah.
Stef akhirnya tumbang. Arvie menyeringai sangat mengerikan.
"Cukup Arvie..."ucap Stef.
Arvie tidak menghiraukan perkataan Stef, ia malah mengambil pisau yang sangat tajam dan mendekatkan pisau itu kewajah Stef.
"Bagaimana Stef, harusnya kau bersyukur aku masih mau menyentuh darah kotormu ini dengan tangan ku sendiri..."ucap Arvie.
Tubuh Stef gemetar. Selang beberapa menit.
Srettt...Arvie membelah dada Stef dengan pisau yang ada ditangannya.
Stef kini sudah tak bernyawa lagi, Arvie malah sibuk melahap jantung Stef.
"Enak juga ternyata jantung penghianat ini..."gumam Arvie dengan wajah yang penuh dengan darah segar.
Kini Arvie menelpon semua penjaganya untuk membawa ayahnya kerumah sakit. Dengan cepat kini para pengawal itu sudah sampai dan langsung membawa Johan dan pergi.
Sedangkan Arvie hanya memutuskan untuk pulang kerumah, Ia hanya ingin mandi untuk membersihkan banyaknya darah yang ada ditubuhnya saat ini.
__ADS_1
Benar saja, kini Kota New York itu sudah seperti banjir darah segar.