Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Kecelakaan beruntun


__ADS_3

Flashback on


Terlihat seorang pria tampan kini memasuki gedung besar milik Alice, dengan memegang bunga ditangannya.


Senyum terukir indah dibibir pria itu yang menandakan kebahagiaannya.


Ya, ia adalah Arvie, ia berniat ingin pamitan sebelum ia pergi ke New York.


Ia kini telah memasuki lift dengan penuh semangat.


Ting...kini ia telah tiba didepan ruangan Alice.


Tiba-tiba terdengar suara dua perempuan yang sedang berdebat


"Alice itu dulu sekarang kamu harus bangkit, gak selamanya masalalu itu harus diingat..."


"Maaf Fell aku gak bisa, lagian ngapain juga aku suka sama Arvie, dengar ya, aku itu gak suka sama dia, aku cuman pura-pura baik ko sama dia, ya karena dia udah bantuin aku, jadi aku gak mungkin suka sama dia, selamanya..."


Ya itu adalah Alice dan Felly.


Sontak bunga yang dipegang Arvie jatuh kelantai tubuhnya kini gemetar, ada rasa sakit yang sangat menusuk namun sulit dijelaskan, Ya, hati Arvie sangat sakit mendengar itu.


Sakit tapi tak berdarah.


Arvie kemudian lari meninggalkan ruangan itu, tidak lama kemudian Felly keluar dan melihat bunga yang jatuh dilantai.


Kini ia sadar bahwa Arvie pasti mendengar semuanya.


Kini diam lebih baik.


Flashback off

__ADS_1


Alice menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, kini pipinya sudah basah dengan air mata, pikirannya kacau, hatinya terasa sangat sesak.


"Arvie ada apa ini..."lirih Alice disela isaknya.


Tiba-tiba brukkk...


Terjadilah kecelakaan 3 buah mobil yang saling bertabrakan, dan salah satunya adalah mobil Alice.


Kini orang-orang sudah ramai memenuhi tempat kejadian itu, penuh dengan polisi yang sibuk mengurus korban kecelakaan itu.


Alice tak sadarkan diri, kepalanya penuh dengan darah segar yang mengalir. Kini ia sudah dibawa mobil ambulance.


Terdapat handphone Alice yang kini ada didalam tasnya, polisi pun langsung mengambilnya dan tidak sengaja melihat nomor Felly dipanggilan terakhir. Dengan cepat polisi menghubungi Felly.


"Selamat siang mba, apa benar anda kerabatnya ibu Alice..."


"Ia benar, ini siapa ya..."jawab Felly heran.


Felly sangat terkejut, kini ia bergegas menuju rumah sakit. Sedangkan Elena, ia masih di Inggris dan Felly tidak mau Elena khawatir, jadi ia tidak memberitahu kabar itu.


Tibalah Felly diruang rawat Alice, tentu ia sangat mencemaskan Alice.


Kini Alice terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus ditangannya, selang oksigen di hidungnya, kepalanya yang diperban, dan beberapa bagian tubuh lainnya yang penuh dengan perban.


Pemandangan yang sangat menyakitkan, kini bulir bening jatuh membasahi pipi Felly.


Ia berjalan dan duduk disamping Alice.


Felly kini telah terisak disamping Alice.


"Ada apa Alice, kenapa dengan mu, bukalah matamu Alice..."lirih Felly disela isaknya.

__ADS_1


Tapi mata mungil itu tak kunjung terbuka.


Hanya Felly yang kini ada diruang rawat Alice saat ini, dan Felly berpikir untuk mengabari Arvie sebelum ia berangkat ke New York.


Arvie yang mendengar kabar itu bergegas menuju rumah sakit. Bagaimana bisa ia membiarkan Alice terbaring lemah dikasur rumah sakit.


Prakk...


Arvie membuka pintu ruang rawat Alice dengan kasar. Sontak membuat Felly terkejut.


Tubuh Arvie seolah kaku, ia terdiam dengan seribu bahasa, berdiri tegap tepat didepan pintu, hatinya seakan hancur melihat Alice yang terbaring lemah tak sadarkan diri.


Bulir bening dengan lancang jatuh dipipi Arvie.


Ya, ia tidak bisa menahan tangisnya.


Arvie berlari mendekati Alice yang masih setia dengan tidurnya.


"Alice ada apa denganmu, sadar tuan putriku, bangunlah, hatiku sangat sesak melihatmu seperti ini..."mulut Arvie tak henti-hentinya berbicara seraya memegang erat tangan Alice.


Felly yang menyaksikan kejadian itu seolah paham apa itu cinta sejati.


Setelah cukup lama Arvie melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mendekati Felly.


"Felly aku titip Alice, jaga dia, maafkan aku, aku tidak bisa berada disampingnya, aku harus pergi ke New York beberapa jam lagi, ku mohon kabari aku tentang keadaan Alice, ku mohon..."Arvie sedikit memelas, benar saja Arvie sangat khawatir.


Felly berusaha mengukir senyum.


"Tenang Arvie aku akan menjaganya, percayalah..."Felly berusaha meyakinkan.


Arvie mengangguk lalu berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Alice.

__ADS_1


__ADS_2