
Kini Felly sudah berdiri didepan ruangan Alice. Ia berniat ingin membantu Arvie karena merasa kasian.
"Alice boleh aku masuk..."ucap Felly.
Alice terkekeh.
"Masuklah, tidak perlu izin begitu Fell, kamu sudah ku anggap seperti sahabatku sendiri, jadi jangan sungkan..."
"Ini kan ruang kerja kamu Alice jadi aku harus izin dulu..."Felly kini tertawa kecil.
"Ayo duduk, ada apa? apa ada masalah dengan kerjaan?..."tanya Alice.
Felly masuk dan langsung duduk.
"Boleh aku bertanya?..."
Alice kini duduk disamping Felly.
"Tentu..."
"Apakah kamu menyukai Arvie?..."Ucap Felly tegas.
Alice yang tadinya tertawa kini terkejut.
"Kamu ngomong apa sih Fell, suka apa? dia itu cuman teman baru aku, ada apa Fell, kenapa kamu mikir gitu..."
"Ya kali aja ada perasaan, dia baik ko Alice, kamu harus kasih dia kesempatan, aku lihat dia juga kayanya suka sama kamu, ngga ada salahnya kan kamu coba dekat dulu..."jelas Felly.
__ADS_1
"Dengar ya aku jelasin, kamu kan tau aku itu benci sama laki-laki dan sekarang kamu malah nyuruh aku dekat dengan Arvie? kamu gak mikir ya..."gertak Alice.
"Alice itu dulu sekarang kamu harus bangkit, gak selamanya masalalu itu harus diingat..."saran Felly.
"Maaf Fell aku gak bisa, lagian ngapain juga aku suka sama Arvie, dengar ya, aku itu gak suka sama dia, aku cuman pura-pura baik ko sama dia, ya karena dia udah bantuin aku, jadi aku gak mungkin suka sama dia, selamanya..."Alice sedikit menekan nada bicaranya saat mengucap kata terakhir.
"Dia itu baik sama kamu Alice, sudah banyak waktu yang dia habisin berdua sama kamu, apa kamu ngga ngerasain kalo Arvie itu suka sama kamu Alice..."jelas Felly.
"Udah cukup Fell, kamu ngomongnya ngaco banget sih, gak usah mikir macem-macem, aku sudah bilang, aku ngga suka kalau kamu ngomong gitu..."gertak Alice.
"Tapi Alice..."belum sempat Felly melanjutkan pembicaraannya Alice sudah memotongnya.
"Cukup Felly, sekarang silahkan keluar dari ruangan ku..."ucap Alice datar.
Felly hanya menunduk dan pergi.
"Ada apa denganku, kenapa rasanya jiwaku berontak saat aku mengatakan itu, Arvie ada apa denganku, kenapa begitu berat mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu..."batin Alice.
.....
Ackerley Grup.
Arvie berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan sapaan dari para karyawan.
"Arvie lo mau kemana? buru-buru banget..."sapa Ray.
"Besok gue akan pergi ke New York..."jawab Arvie datar.
__ADS_1
"Besok? dadakan banget, gak pamitan ke Alice dulu lo..."Ray terkejut.
"Gak perlu, ga penting juga, dia gak bakalan peduli..."jawaban Arvie yang membuat Ray heran.
"Lo kenapa sih bukannya lo suka sama Alice..."tanya Ray heran.
Arvie tidak mempedulikan perkataan Ray lagi, ia langsung mempercepat langkahnya.
Dengan cepat Ray menangkap tangan Arvie dengan kasar.
"Lo kenapa sih hah, kalau ada masalah itu ngomong, lo pikir dengan lo diam gini semua orang akan ngerti sama masalah lo hah, Alice kenapa?..."gerutu Ray.
"Lo diam, coba aja lo diposisi gue, apa masih bisa lo nasehatin gue kaya gini, lo gabakalan tau gimana sakitnya jadi gue..."Arvie mendengus kesal lalu menjambak rambutnya dengan kasar.
"Oke gue emang gak tau, tapi seengga nya lo cerita ke gue, gue ini sahabat lo Vie..."bujuk Ray.
"Gak untuk sekarang Ray, gue harus pulang dan beresin baju-baju gue..."ucap Arvie.
"Lo gabakal lama kan..."tanya Ray.
"Gue gak tau Ray, gue berharap gue bisa lama disana..."ucap Arvie datar.
"Lo gila ya, gimana sama perusahaan ini, gimana sama Alice, lo gak bisa seenaknya gini..."gerutu Ray.
Arvie tidak menghiraukan perkataan Ray lagi, ia dengam cepat memasuki mobilnya, dan pergi.
Ray membiarkan Arvie pergi karena ia tau bahwa Arvie sedang ada masalah.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Vie?gue harus cari tau nih..."batin Ray.