Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Ini menyakitkan


__ADS_3

Cahaya mentari pagi kini menyinari mata indah Alice.


Perlahan Alice mulai membuka matanya, lalu langsung mencari keberadaan handphonenya.


Sontak wajah Alice sedih.


"Kenapa Arvie tidak menghubungi ku, biasanya setiap aku bangun tidur selalu penuh dengan kata-kata manisnya..."batin Alice.


Seperti ada yang hilang, ya, itulah kenyataannya, Alice terlalu memanipulasi perasaannya, tanpa ia sadari ia memang nyaman saat bersama Arvie. Kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.


Dengan wajah cemberut, Alice menuju kekamar mandi, menghidupkan shower dan merendamkan dirinya di bathtub.


Ia kini memikirkan perkataan Felly kemarin.


"Ada apa denganku Tuhan, kenapa hati ini begitu sesak..."batin Alice.


Setelah selesai mandi, kini ia sudah cantik dan rapi dengan seragam kantornya. Kini ia menuruni tangga masih dengan wajah yang tidak semangat.


"Alice, mama pergi dulu ya, kamu jaga diri baik-baik..."Elena berpamitan.


Sontak Alice berlari dan memeluk Elena, kini wanita cantik itu sudah terisak dipelukan sang ibu.


"Sayang kamu kenapa, biasanya kalau mama ke Inggris kamu tidak pernah sedih sampai seperti ini, kamu baik-baik saja kan?..."Elena kini khawatir.


Alice masih saja sibuk dengan tangisannya, saat ini ia hanya ingin menangis, hatinya terasa sangat sesak, entah karena Elena pergi atau karena masalah yang lain. Yang jelas Alice hanya ingin menenangkan diri.


Alice melepaskan pelukannya lalu dengan sigap ia menghapus air matanya.


"Hati-hati ya mah, jangan lama-lama..."pesan Alice.


"Tentu sayang, sekarang cepatlah kekantor nanti telat sayang..."Elena tersenyum.


Alice tersenyum dan mengangguk, kini kaki jenjangnya sudah ia langkahkan menuju mobil dan ia langsung pergi.

__ADS_1


*****


Yunata Grup.


Alice berjalan memasuki gedung itu, tiba-tiba Felly memanggilnya.


"Alice..."


Alice menengok dengan malas.


"Ada apa Felly ..."


"Bisa bicara sebentar diruanganmu..."ucap Felly.


"Ya ..."jawab Alice singkat lalu menuju ruangannya dengan diiringi oleh Felly.


Sampailah mereka di ruangan Alice. Ruangan yang terlihat sangat nyaman dan penuh kedamaian namun tidak sedamai hati Alice saat ini.


"Bicaralah Fell..."ucap Alice yang kini sudah duduk dikursi kebesarannya.


"Arvie akan pergi ke New York sore ini..."ucap Felly to the point.


Sontak mata Alice terbelalak.


"Apa? New York?..."


"Iya, ia akan membantu perusahaan ayahnya yang saat ini sedang dalam masalah besar, mungkin akan lama disana..."terang Felly.


"Dia tidak bilang padaku, bahkan dia tidak menemui ku hari ini?..."Alice berusaha menahan air matanya.


"Untuk apa? bukankah kamu tidak peduli segala hal tentangnya? lalu untuk apa dia menemui mu..."ucap Felly tegas.


Hati Alice terasa sangat sakit mendengar perkataan sahabat nya itu.

__ADS_1


"Aku harus menemui Arvie..."Alice langsung berlari keluar menuju mobilnya.


"Sudah kuduga, kamu mencintai Arvie Alice, kamu tidak akan bisa membohongi perasaanmu..."batin Felly


*****


Mobil Alice kini sudah berhenti tepat didepan kantor Ackerley Grup. Alice berlari menuju ruangan Arvie. Dengan cepat Alice masuk keruangan itu tanpa mengetuk pintu.


Terlihat Arvie yang kini sedang meringkuk disamping meja kerjanya, terlihat wajah yang sangat prustasi disana, tentu berat baginya untuk menjauhi Alice.


(Tapi kenapa ia harus menjauhi Alice?)


Sontak Arvie terkejut saat melihat sosok wanita yang sangat ia rindukan berdiri tegak dihadapannya.


"Arvie bagaimana bisa kamu ke New York tanpa memberitahuku, ada apa dengan mu Arvie..."mulut Alice tak henti-hentinya menggerutu.


Arvie bangkit perlahan menatap mata Alice dalam-dalam.


"Pentingkah kamu tau hal ini? memangnya kamu siapa? perlukah aku berpamitan dengan kamu dulu Alice, apakah kamu peduli tentang semua ini, bahkan kamu tidak pernah memperdulikan semua hal tentangku..."lirih Arvie pelan, ia tak ingin Alice menganggapnya bicara kasar.


Alice kini berusaha menahan air mata yang saat ini hampir membasahi pipi mungil wanita itu.


"Ada apa denganmu Arvie, ini bukan Arvie yang ku kenal..."suara Alice melemah.


"Berhentilah berpura-pura baik Alice, kamu hanya pacar pura-pura ku, hanya itu saja..."Arvie kini meninggikan suaranya saat mengucapkan kata-kata terakhir.


Seperti ada ribuan pedang tajam yang menghujam tubuh mungil Alice. Hati nya terasa sangat sesak, jiwanya seolah berontak saat Arvie mengatakan pacar pura-pura.


Ya itu memang kenyataannya.


"Ya aku memang tidak peduli dengan semua hal tentang mu..."teriak Alice lalu berlari meninggalkan Arvie dengan air mata yang tak mampu ia bendung lagi.


"Ini sangat sakit..."batin Alice.

__ADS_1


Arvie kini berlutut dilantai, hatinya terasa hancur saat mengatakan hal itu, tapi ini memang harus ia lakukan.


"Sekejam inikah dunia Tuhan, sampai aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai untuk kedua kalinya, kenapa hidupku begitu menyakitkan Tuhan..."batin Arvie.


__ADS_2