
Rumah Alice.
Terlihat Elena dan Alice yang sedang berbincang-bincang dan saling bercanda gurau.
"Sayang rencananya mama akan pergi ke Inggris besok, perusahaan ayahmu ada sedikit masalah disana..."ucap Elena.
"Mah Alice ikut..."jawab Alice dengan wajah cemberut dibuat-buat.
"Anak mama ini manja sekali, lain waktu saja ya sayang, mama hanya sebentar mungkin sekitar 3-4 hari..."jelas Elena.
"Cepat pulang ya mah, mama hati-hati dijalan..."ucap Alice.
"Iya sayang tenang saja..."jawab Elena sambil mencubit hidung Alice.
"Mah Alice kekamar dulu ya ..."ucap Alice.
"Iya sayang..."jawab Elena dengan senyum.
.....
Perusahaan Yunata Grup.
Terlihat pria tampan yang kini memarkirkan mobilnya dengan cepat, kelihatan sangat terburu-buru dan berlari masuk kedalam gedung besar itu.
__ADS_1
Ya, dia adalah Arvie.
Kini pria ini sudah berdiri tegap didepan ruang kerja Felly, Ia mengetuk pintu itu perlahan.
"Silahkan masuk..."terdengar suara jawaban dari dalam ruangan.
Arvie pun bergegas masuk.
"Arvie ada apa kesini? apa kamu mencari Alice?..."tanya Felly heran.
"Aku ingin bicara denganmu, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan, bisa minta waktumu sebentar?..."ucap Arvie dengan sedikit memohon.
"Baiklah, aku bereskan berkas-berkas ini dulu..."ucap Felly datar.
"Oke aku tunggu di mobil ku..."jawab Arvie bersemangat.
"Kita akan kemana Arvie?..."tanya Felly penasaran.
"Bagaimana kalau ke cafe dekat sini saja?..."saran Arvie.
Felly hanya mengangguk dan mereka langsung berangkat kesana.
Kini mereka berdua sudah sampai di cafe dekat kantor.
__ADS_1
"Arvie, kamu mau apa? ada apa?..."tanya Felly heran.
"Bisakah aku percaya padamu? bisakah kamu menyimpan rahasia ku?..."jawab Arvie dengan wajah serius.
"Tentu, katakanlah..."ucap Felly datar.
"Aku menyukai Alice..."jawab Arvie lirih hampir tak terdengar namun Felly bisa mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari mulut pria itu.
Seketika Felly tertawa kecil.
"Sudah kuduga, lalu apa hubungannya dengan ku?..."
"Alice sudah memperingatkan ku untuk tidak pernah mencintainya? kenapa? ada apa dengan Alice? kenapa ia tidak ingin ada pria yang mendekatinya?..."beberapa pertanyaan kini keluar dari mulut pria itu.
Felly tersenyum, sebenarnya ia tidak ingin menceritakan masalah pribadi Alice pada orang lain, tapi melihat ketulusan dari tatapan mata Arvie membuatnya tidak tega dan akhirnya memutuskan untuk memberitahunya pada Arvie.
"Ayah Alice meninggal karena dibunuh oleh orang yang sampai saat ini belum diketahui sejak Alice berusia 7 tahun, sejak itulah ia sangat membenci laki-laki, dalam pandangannya laki-laki itu hanyalah seorang pembunuh, dan hingga detik ini ia masih saja terpuruk dalam masalalu itu, dan kejadian waktu itu masih terbayang-bayang dikepalanya, bisa dibilang dia trauma..."jelas Felly secara detail.
Wajah Arvie yang tadinya sangat bersemangat kini perlahan semangat itu sirna, wajahnya berubah menjadi raut sedih. Ia teringat kejadian sewaktu dimakam ayah Alice kemarin.
"Pantas saja Alice sangat terpuruk..."batin Arvie.
"Jika kamu benar-benar menyukai Alice, bantulah ia bangkit dari keterpurukan itu, buatlah ia melupakan semua kejadian yang telah silam itu, aku percayakan Alice padamu, baiklah kerjaan ku masih banyak, aku akan kekantor lebih dulu..."lanjut Felly seraya mengambil tasnya dan meninggalkan Arvie yang masih duduk mematung mendengar kata-kata Felly.
__ADS_1
"Aku menyukaimu Alice, dan aku akan berjuang untuk itu..."batin Arvie.
Lalu kemudian pergi meninggalkan cafe itu.