
Arvie memang benar-benar telah mempersiapkan segalanya, setiap harinya hanya ia habiskan dengan olahraga untuk melatih fisiknya, ia benar-benar siap untuk pertempuran kali ini.
Ini memang bukan hal asing lagi bagi Arvie, meski Johan sudah mengundurkan diri dari kehidupan mafia nya, tetap saja ada musuh-musuh nya selalu mengintainya. Bahkan kini sikap kejamnya menurun ke tubuh Arvie.
"Arvie persiapkan segalanya, besok kita akan mulai pertempuran ini, minum ini, minuman ini akan menambah kekuatan kamu..."Johan datang dari dalam rumah.
"Aku bahkan sudah sangat siap dad..."sahut Arvie sambil meminum minuman yang diberikan Johan.
Johan puas dengan perkembangan Arvie sekarang, ia bahkan jauh lebih kuat dari Johan. Johan pun meninggalkan Arvie karena ia juga perlu banyak latihan untuk mengembalikan kekuatannya dulu.
Handphone Arvie berdering tertera nama Felly disana, sontak Arvie langsung mengangkatnya.
"Alice sudah sadar, ia sudah baik-baik saja sekarang..."ucap Felly.
Arvie tersenyum. Semangatnya kembali membara.
"Aku senang mendengarnya, tolong jaga dia sampai aku kembali..."ucap Arvie.
"Baik..."Felly menutup telepon.
****
"Aku akan membuat kamu terikat hubungan dengan Devan, Alice, semuanya rencana bahkan sudah ku atur, aku akan membuat kamu mau tidak mau harus menikah dengan Devan..."ucap Diana seraya duduk di sofa rumahnya.
Tiba-tiba Devan datang dari belakang, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan ibunya itu.
"Jangan macam-macam mah, aku tidak ada diam kalau mama berani nekat nyakitin Alice, pernikahan itu bukan paksaan mah..."gerutu Devan.
__ADS_1
Diana menyeringai puas.
"Lihat saja nanti, apa yang bisa kamu lakukan untuk melawan mama..."
"Coba mama pikir, apa cinta itu bisa dipaksa, mama menikah dengan ayah apa juga dipaksa..."ucap Devan.
Plak...tamparan mulus mendarat dipipi Devan.
"Jangan jadi anak kurang ajar kamu, berani sekali kamu bicara seperti itu sama mama, mama berhak menentukan masa depan kamu, dengar itu..."Diana meninggikan suaranya.
Devan hanya diam, ia tak habis pikir dengan sikap ibunya sekarang, terlalu terobsesi agar Devan menikah dengan Alice, ia bahkan sudah kehabisan cara menghadapi keegoisan ibunya itu.
Ia hanya memilih diam lalu pergi tanpa menatap ibunya yang penuh dengan amarah diwajahnya itu.
.....
"Besok kamu sudah boleh pulang Alice, keadaan kamu sudah membaik, jangan lupa makan dan jaga kesehatan ya..."ucap Dokter itu dengan sangat ramah.
"Baik dok..."sahut Alice.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu..."ucap dokter itu sembari melangkahkan kakinya untuk keluar.
Felly hanya mengangguk.
Felly berjalan mendekati Alice dan duduk disampingnya.
"Alice ini buahnya, kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat, udah cukup ya bikin Arvie khawatir terus..."Felly tertawa kecil.
__ADS_1
Wajah Alice cemberut.
"Ih apaan sih ngeledek mulu..."
"Hehehe, bercanda..."ucap Felly.
Alice hanya tersenyum lalu memakan buah itu.
Tiba-tiba Elena masuk ke ruangan itu dengan wajah sangat cemas dan langsung memeluk Alice.
"Apa yang terjadi sama kamu sayang, kenapa banyak luka-luka seperti ini ditubuh kamu, kamu baik-baik saja kan..."tentu seorang ibu sangat khawatir.
Alice menepuk-nepuk tangan Elena pelan.
"Lepasin dulu dong mah, Alice gak bisa nafas..."
Elena yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya.
"Alice baik-baik aja mah, gausah khawatir, cuman kecelakaan kecil..."ucap Alice menenangkan.
Sekarang Elena bisa bernafas lega.
"Mana Arvie..."tanya Elena.
Felly terkekeh menertawakan kegugupan Alice.
"Emm aa anu ma, Arvie ke New York, tapi dia udah pamit sama Alice sebelum pergi..."ucap Alice terbata-bata.
__ADS_1
"Oh gitu..."jawab Elena.