
Setelah lama berbincang-bincang dan tertawa bersama. Arvie bahkan dengan cepat bisa sangat dekat dengan Elena.
"Mah rencananya Alice akan ke pemakaman ayah hari ini..."ucap Alice membuka topik baru.
"Baiklah sayang, ajaklah Arvie bersamamu agar kamu aman..."sahut Elena.
"Tenang tante anak tante akan aman dengan saya..."canda Arvie terkekeh.
"Baiklah kami pergi dulu mah..."ucap Alice sambil berpamitan dengan Elena.
"Hati-hati ya, lain waktu main kesini lagi..."Ucap Elena kepada Arvie.
"Pasti tante..."senyum puas merekah dibibir Arvie.
Keduanya pun berjalan keluar rumah untuk pergi ke pemakaman ayah Alice.
.....
Tempat pemakaman khusus untuk keluarga Yunata.
Dua orang laki-laki bertubuh kekar berdiri tegap didepan gerbang pemakaman yang begitu megah itu. Ya, dua orang itu adalah bodyguard Elena yang dipercayakan untuk menjaga pemakaman keluarga Yunata itu.
"Silahkan masuk nona Alice..."sapa dua bodyguard itu ramah.
Alice hanya membalas dengan senyuman, sedangkan Arvie hanya berjalan mengikuti Alice dari belakang.
Mereka masuk kedalam pemakaman besar nan sangat megah itu, bahkan pemakaman itu bisa menampung ribuan manusia. Tempat itu adalah pemakaman khusus untuk keluarga Yunata, bahkan pemakaman saja sudah bagaikan istana megah.
Alice berhenti tepat didepan makam ayahnya, jelas terlihat foto ayahnya yang terpampang begitu besar disana. Disertai dengan harum-haruman bunga yang masih terjaga kebersihannya.
Alice berlutut didepan makam ayahnya, bulir-bulir bening dengan lancang mulai berjatuhan di pipi mulus wanita cantik itu. Alice menangis sejadi-jadinya melampiaskan semua rasa sakit yang selalu ia pendam dalam-dalam. Bahkan ia tidak peduli dengan pria yang sedang ada disampingnya saat ini, ia hanya pokus pada makam ayahnya.
Arvie merasa tidak tega menyaksikan semua kejadian itu. Dadanya terasa sangat sesak, seakan ia merasakan apa yang dirasakan Alice saat ini.
__ADS_1
Arvie merangkul bahu mulus Alice dengan sedikit takut, ia takut Alice menganggapnya kurang ajar. Arvie sadar bahwa saat ini wanita ini sangat rapuh, ada apa dengannya? kenapa dengan ayahnya? pertanyaan itu selalu menggerogoti pikiran Arvie.
"Aku tidak tahu kejadian apa yang sudah menimpa keluargamu, tapi ku mohon jangan bersedih, ini semua adalah takdir Tuhan, tapi percayalah Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik untukmu..."ucap Arvie mencoba menenangkan Alice.
Alice hanya diam tanpa menengok Arvie sedikitpun. Itu membuat Arvie seolah paham akan maksud dari diam wanita ini.
"Baiklah, tenangkan dirimu Alice aku akan menunggumu didepan gerbang..."kata-kata terakhir Arvie sebelum meninggalkan Alice yang masih terisak dengan tangisnya.
Arvie melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan Alice.
Entah kenapa hatiku terasa hancur saat melihatmu rapuh seperti ini, batin Arvie.
Arvie masih menunggu dengan cemas, Alice yang sedari tadi ia khawatirkan tak kunjung keluar. Terlihat kaki jenjang melangkah keluar dari dalam pemakaman, sontak membuat Arvie berdiri dengan cepat.
"Bagaiman Alice, kamu sudah baik-baik saja..."terlihat raut wajah cemas dari pria itu.
Alice membalasnya dengan senyum yang sedikit dipaksa.
"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mau menemaniku..."
Alice hanya mengangguk tanpa ia mengiyakan ajakan pria tampan itu.
Mereka berhenti didepan taman yang sangat megah dan selalu terjaga keasriannya.
Taman sebesar ini tapi tidak ada orang..."batin Arvie.
"Apakah ini taman keluargamu Alice..."Arvie memberanikan diri bertanya.
"Ini adalah tamanku, ayahku membuatkan taman ini khusus untukku, sewaktu aku kecil aku sering bermain dengan ayahku disini..."ucap Alice yang tanpa terasa bulir bening itu jatuh lagi membasahi pipinya.
Arvie merasa sangat bersalah karena telah bertanya.
"Taman ini begitu indah, aku menyukainya, ayo duduk..."ucap Arvie sambil menarik tangan Alice.
__ADS_1
Alice duduk dengan mengusap air matanya yang sedari tadi tak henti-hentinya keluar.
"Tenanglah Alice ada aku disini..."kata Arvie yang dengan lancang memeluk tubuh mungil wanita itu dan menyandarkan kepala Alice didada bidangnya.
Jelas wanita ini tidak berontak, karena ia sadar inilah yang ia butuhkan saat ini, sandaran. Alice terisak didada bidang Arvie.
Melihat kejadian ini sontak membuat hati Arvie rasanya sangat sesak. Ia tidak ingin wanita ini menangis.
Kenyamanan, ya itulah yang dirasakan Alice. Setelah sekian lama ia belum pernah dirangkul oleh seorang pria kecuali ayahnya. Alice begitu merindukan pelukan hangat dari ayahnya.
Alice merasa hatinya sudah tenang. Ia melepaskan pelukan Arvie dengan pelan.
"Terimakasih Arvie..."ucap Alice sambil mengeluarkan senyuman termanis nya, dan itu ikhlas.
Duh dugg... Jantung Arvie rasanya berdetak sangat kencang. Sontak Arvie langsung memegang dadanya.
"Ada apa denganku, sepertinya jantung ku bermasalah..."batin Arvie.
"Sama-sama Alice, asal kamu bahagia..."jawab Arvie membalas senyum Alice.
Alice yang melihat Arvie memegang dadanya langsung sedikit panik.
"Ada apa dengan dadamu Arvie..."terlihat wajah cemas disana.
"Tidak, aku baik-baik saja, hanya saja sepertinya ada masalah dengan jantungku, setelah ini aku akan kerumah sakit..."ucap Arvie sedikit terkekeh.
"Kamu ini masih saja bercanda dalam keadaan seperti ini..."Alice mendengus kesal.
"Ayo nona cantik aku antar pulang, mamamu pasti sudah sangat khawatir, ini sudah terlalu sore cantik..."goda Arvie.
Tanpa merespon Alice berlari meninggalkan Arvie yang masih duduk, dan dengan cepat memasuki mobil.
Arvie hanya terkekeh geli melihat tingkah lucu wanita itu.
__ADS_1
Arvie berjalan setengah memutari mobil itu dan masuk kedalamnya memasang sabuk pengaman dan bergegas pergi.