Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Kecewa


__ADS_3

Alice menghembuskan nafas pelan.


"Akhirnya aku bisa mencium aroma rumah ini lagi, setelah beberapa hari dirumah sakit..."


Felly dan Elena hanya tersenyum.


"Fell ikut aku kekamar yuk..."ucap Alice.


Felly hanya berjalan mengiringi langkah Alice. Tibalah mereka dikamar Alice. Alice perlahan duduk dikasurnga yang sudah ia rindukan itu.


"Duduk Fell..."


Felly duduk disamping Alice.


"Aku akan pergi ke New York besok, tolong kamu suruh bodyguard mama untuk menyiapkan pesawat pribadi mama, kamu akan ikut dengan ku..."


Felly yang mendengar itu sontak matanya terbelalak.


"Alice apa kamu gila, bahkan keadaan mu saja masih belum stabil..."gerutu Felly.


Alice mengukir seutas senyum dibibirnya.


"Aku sudah baikan Felly, aku hanya ingin bertemu Arvie..."raut wajah sedih kini terlihat. Alice sangat merindukan pria itu.


Felly hanya bisa mengalah.


"Baiklah, aku akan persiapkan segala sesuatunya, besok kita akan berangkat..."ucap Felly.


Alice tersenyum bahagia.


"Sekarang pergilah, persiapkan barang-barang mu..."


Felly mengangguk dengan cepat lalu pergi.


.....


Ackerley Grup cabang New York


Hanya cukup beberapa jam dirumah sakit, kini Johan sudah kembali sehat dan sudah bisa pulang kerumah.


"Arvie, ayah bangga padamu, kini musuh kita sudah musnah, perusahaan kita akan jadi perusahaan terbesar di kota New York ini, tolong kamu kekantor besok, bereskan segala sesuatunya, bangkitkan kembali perusahaan kita, ayah percayakan semuanya padamu, setelah semua ini selesai kita akan kembali ke Indonesia..."ucap Johan sambil menepuk-nepuk bahu Arvie pelan.

__ADS_1


Mendengar itu senyum melengkung dibibir Arvie. Ia sangat merindukan wanita mungil itu.


"Baik dad, secepatnya akan aku bereskan..."


"Sekarang tidurlah, ini sudah terlalu malam..."


Arvie hanya mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Arvie kini duduk di balkon kamarnya sambil menatap foto seorang wanita mungil yang sedang tersenyum bahagia.


"Alice, aku akan pulang ke Indonesia secepatnya, jika kamu memang tidak pernah menyukaiku, setidaknya kita masih bisa jadi sahabat..."lirih Arvie pelan.


Arvie mencari handphone nya, ia ingin menghubungi Felly hanya untuk sekedar menanyakan kabar wanita mungil itu.


Panggilan terhubung...


"Bagaimana Felly, apa dia sudah baikan..."tanya Arvie pelan.


"Tenang Arvie, ia bahkan sudah tidur nyenyak sekarang..."jawab Felly diujung telpon.


Arvie menghembuskan nafas lega.


"Jaga dia untukku..."lirih Arvie pelan.


Panggilan terputus...


Felly memang sengaja tidak memberitahu Arvie bahwa besok Alice akan pergi ke New York untuk menemuinya. Ia ingin ini menjadi suprice untuk Arvie.


.....


Pagi telah tiba. Matahari bersinar dengan cerahnya. Ternyata wanita mungil itu kini sudah siap untuk pergi. Sepagi ini? Ya, ia bahkan sudah tidak sabar ingin cepat bertemu Arvie.


"Felly cepatlah..."


"Sini biar ku bantu bawakan..."ucap Felly.


Kini mereka berdua sudah menuju bandara.


Dalam perjalanan Alice kelihatan sangat sumbringah, bibirnya selalu dihiasi dengan senyuman. Felly yang melihat itu juga sangat bahagia.


"Semoga ini awal dari kebahagiaanmu Alice..."batin Felly.


Keberangkatan ke kota New York.

__ADS_1


.....


Terlihat seorang pria tampan yang sedang sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya.


"Ini semua sudah beres, tunggu Alice aku akan segera menemui mu ..."ucap Arvie seraya tersenyum senang.


Tiba-tiba pintu ruang kerja Arvie terbuka. Sontak membuyarkan lamunan Arvie. Mata Arvie membulat melihat wanita yang datang dengan pakaian sangat sexy ini.


"Viona..."Arvie terkejut melihat kedatangan wanita ini.


Viona memeluk Arvie dengan paksa,


"Dia menyakitiku Arvie, dia bahkan tega meninggalkan ku, aku tau kamu masih mencintaiku, dan sekarang aku ingin kembali padamu..."ucap Viona terisak dipelukan Arvie.


Arvie mendorong tubuh Viona kasar,


"Setelah semua yang kamu lakukan padaku, dan kamu datang hanya untuk kembali, hufft jangan mimpi kamu, kamu itu hanya seorang ****** yang rela mengorbankan cintaku hanya untuk uang..."gertak Arvie.


Viona mencoba memeluk Arvie lagi.


"Aku sangat menyesal Arvie, aku sangat mencintaimu, menikahlah denganku Arvie..."


Arvie menepis pelukan Viona dengan cepat.


"Aku tidak akan sudi menikah dengan wanita penghianat sepertimu, kamu sudah membuat aku bahkan hampir mati karena menahan sakitnya kehilanganmu, dan sekarang kamu datang kembali, pergilah ******..."Arvie meninggikan suaranya.


"Jangan membohongi perasaanmu Arvie, aku sudah kembali sekarang, ayolah Arvie..."Viona mulai menggoda Arvie dengan kemolekan tubuhnya.


Arvie sangat jijik melihat itu.


"Bahkan melihat mukamu saja aku sudah muak, pergilah ******, sekarang aku sudah menemukan wanita yang jauh lebih baik dari kamu, ia bahkan sangat sempurna..."


Viona sangat kesal mendengar itu.


"Secantik apa wanita itu hah, sehebat apa dia bisa memuaskan mu, hanya aku yang pantas untuk kamu Arvie..."


Arvie menatap Viona remeh.


"Dia bahkan jauh lebih cantik darimu, dan yang lebih penting dia bukan penghianat dan ****** sepertimu..."teriak Arvie.


Viona kini nekat mencium dan ******* bibir Arvie dengan sadis, Arvie berusaha mendorong, tapi tangannya ditindihi oleh tubuh Viona.

__ADS_1


__ADS_2