Wanita Berdarah Dingin

Wanita Berdarah Dingin
Kecemasan


__ADS_3

Flashback On


Bandara Indonesia


"Arvie bersabar lah, tidak perlu lari begitu, kenapa terburu-buru?..."tanya Johan yang heran melihat Arvie.


"Dad, Arvie akan kerumah Alice, dad pulang duluan saja..."jawab Arvie masih dengan wajah cemas.


Johan tertawa kecil.


"Dasar kamu ini Arvie, seperti kena pelet saja, ini sudah malam Arvie..."


"Dad please, Arvie mau ketemu Alice..."ucap Arvie dengan wajah memelas.


Johan terkekeh.


"Ya pergilah..."


Dengan langkah cepat Arvie memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Ray. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Padahal tubuhnya sangat lelah, karena baru saja mendarat di Indonesia.


Srettt ...Arvie memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Alice. Arvie menggedor pintu lumayan keras hingga membuat Elena dan Felly keluar karena terkejut.


"Tante, maaf tante Arvie datang malam-malam begini, Alice nya ada tante?..."ucap Arvie masih dengan tergesa-gesa.


"Arvie berhentilah menyakiti Alice, dia sangat terluka Arvie..."ucap Elena jujur.


"Ini hanya salah paham tante, Arvie akan jelaskan semuanya nanti, boleh saya bertemu Alice dulu..."cemas Arvie.


"Alice tidak ada dirumah Arvie..."Felly angkat suara.


Arvie terkejut.


"Dimana dia?..."


"Dia makan malam dirumah Devan..."ucap Felly.


"Aku akan kesana sekarang, tante, Felly, saya pamit dulu..."ucap Arvie lalu berlari memasuki mobil dan langsung pergi.


Elena hanya diam.

__ADS_1


"Ayo bu kita masuk..."ajak Felly.


Elena hanya mengangguk.


Tibalah Arvie dirumah Devan. Ia menggedor pintu sangat keras. Hingga Diana keluar dan membukakan pintu.


"Siapa kamu hah, berani-beraninya kamu ganggu ketenangan saya..."ucap Diana dengan nada tinggi.


"Saya pacar Alice, sekarang katakan dimana dia?..."sahut Arvie dengan tatapan yang mengerikan.


Diana menjadi gugup.


"Alice nya tidak ada, eeemm tante ngga tau..."


"Alah gak usah bohong tante, minggir saya mau masuk..."


Flashback off


*****


Diperjalanan.


Sedangkan Alice masih setia memejamkan matanya.


"Bertahanlah Alice, sebentar lagi kita akan kerumah kamu ..."ucap Arvie yang semakin panik.


Tibalah mereka dirumah Alice.


Dengan sigap Arvie membopong tubuh mungil Alice seraya berteriak.


"Fell, tante, tolong Arvie..."


Elena yang sedang mengobrol dengan Alice disofa sontak terkejut dan berlari membukakan pintu.


Mata Elena terbelalak saat melihat putrinya dibopong Arvie dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Alice, ada apa ini Arvie, jelaskan sama tante, kamu apakan Alice..."ucap Elena dengan sangat panik.


"Maaf tante nanti Arvie jelaskan, sekarang yang paling penting adalah Alice..."ucap Arvie lalu langsung masuk menuju kamar Alice bersama Felly, sedangkan Elena langsung menghubungi dokter kepercayaan keluarganya.


Kini Alice sudah dibaringkan dikasur empuknya.

__ADS_1


"Alice kumohon bangunlah..."ucap Arvie dengan wajah prustasi sambil menggenggam erat tangan Alice.


Datanglah beberapa dokter dengan seragam lengkapnya dan membawa banyak alat medis.


"Maaf Arvie izinkan kami memeriksa Alice dulu..."ucap salah satu dokter itu.


Akhirnya dengan berat hati Arvie beranjak dari tempat Alice dan melepaskan genggamannya.


Elena memasuki kamar Alice.


"Arvie, Felly, kita bicarakan ini diluar, ayo ikut aku, urusan Alice biar dokter saja yang urus..."


Akhirnya Arvie dan Felly hanya mengikuti saja.


Ruang tamu


"Duduklah..."perintah Elena.


"Jelaskan pada tante Arvie, ada apa dengan ini semua?..."tanya Elena sangat serius.


"Tante, harusnya tante tidak membiarkan Alice pergi makan malam itu tante, inilah akibatnya..."ucap Arvie sedikit lancang.


Sedangkan Felly hanya diam seribu bahasa seraya menundukkan wajahnya.


"Apa maksud kamu Arvie, Diana itu teman saya, jadi tidak mungkin dia melakukan hal yang aneh pada Alice..."jelas Diana.


"Tapi buktinya semua ini karena tante Diana dan Devan..."ucap Arvie dengan wajah yang mulai emosi menyebut nama itu.


"Jangan menuduh mereka macam-macam Arvie, mereka itu orang baik, dan juga sayang dengan Alice jadi itu tidak mungkin..."ucap Elena yang tak percaya dengan perkataan Arvie.


Tiba-tiba datanglah seorang dokter.


"Maaf Nyonya Elena, Alice nya sudah sadar..."


Arvie yang mendengar itu langsung menoleh kearah dokter itu.


"Baik dok terimakasih..."sahut Arvie.


"Maaf tante kalau Arvie lancang, tapi Arvie ingin menemui Alice dulu, biar kita tanyakan kejadian sebenarnya pada Alice langsung, karena kalau saya yang memberitahu tante tidak akan mungkin percaya..."ucap Arvie seraya berlari menuju kamar Alice.


Elena hanya menghela napas pelan.

__ADS_1


__ADS_2