Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Ancaman Morgan


__ADS_3

Jova keluar dari mobil sambil membawa seikat bunga yang dibelinya. Berjalan masuk salon hingga salah satu pekerjanya menghampiri wanita itu.


“Nona, ada tamu,” kata gadis berumur dua puluh tahunan itu.


Jova mengerutkan alis, merasa tidak memiliki janji dengan siapapun hari itu.


“Apa dia hendak memesan perawatan?” tanya Jova ke bawahannya.


“Tidak tahu,” jawab gadis itu, “dia hanya berkata jika ingin menemui Anda,” imbuh gadis itu.


Jova semakin keheranan, hingga kemudian menyerahkan bunga yang dibelinya untuk diletakkan dalam vas.


“Di mana orang yang ingin menemuiku?” tanya Jova kemudian.


“Di ruangan Anda.”


Jova pun memilih berjalan ke ruangannya, hendak melihat siapa yang ingin bertemu dengannya tanpa membuat janji terlebih dahulu.


Saat baru saja membuka pintu, Jova melihat dua pria berdiri menghalangi pandangan ke seseorang yang duduk di kursi depan mejanya. Jova semakin penasaran, hingga kemudian melangkah masuk untuk memastikan.


“Maaf, apa Anda mencari saya?” Jova mendekat dengan waspada.


Dua pria yang berdiri menoleh kemudian sedikit menggeser posisi berdiri, membuat Jova melihat seorang pria yang duduk menghadap meja. Jova berhenti melangkah dan kini berdiri tidak jauh dari pintu.


“Lama tidak bertemu denganmu, Chloe.”


Jantung Chloe berdegup cepat saat mendengar suara itu, kedua kakinya terasa lemas hingga tidak sanggup digerakkan.


Pria yang tak lain adalah Morgan, mengayunkan tangan untuk meminta anak buahnya keluar dari ruangan, sebelum kemudian pria itu berdiri dan kini menatap Jova.


Jova mulai panik, terlebih ketika dua pengawal Morgan keluar dan menutup pintu.


“Akhirnya aku menemukanmu,” ucap Morgan dengan tatapan tak teralihkan dari Jova.


Jova benar-benar panik, berusaha mundur untuk menghindar dari Morgan.


“Bukankah sudah kubilang kamu milikku, kenapa kamu kabur?” Morgan memberikan tatapan tajam, tatapan seperti malam itu yang bisa membuat tubuh Jova membeku.


Bibir Jova bergetar, tubuhnya terasa gemetar karena bayangan akan malam itu kembali melintas di kepala.


Jova berusaha menghindar dan ingin keluar dari ruangan itu, tapi tentunya Morgan tidak akan membiarkan dan langsung mencekal lengan Jova. Morgan mendorong tubuh Jova hingga membentur tembok, sebelum kemudian mengunci tubuh mungil wanita itu dengan kedua tangannya.


“Kamu mau apa lagi! Aku sudah tidak ada urusan denganmu!” Jova bicara sambil berusaha tenang, memberanikan diri menatap dua bola mata Morgan agar dirinya tidak terlihat lemah.

__ADS_1


“Tidak ada urusan? Bagaimana bisa kamu berkata jika sudah tidak ada urusan?” Morgan sedikit menunduk untuk bisa memandang wajah Jova.


“Apa lagi yang kamu inginkan? Kamu sudah merenggut semua kebahagianku, apa kamu masih berniat mengusik hidupku?”


“Apa yang aku inginkan? Apa kamu lupa kalau aku sudah membelimu, tubuhmu, setiap helai rambutmu, apa pun yang ada di dirimu adalah milikku. Kamu lupa akan hal itu?” Morgan mengusap rambut Jova, membuat wanita itu memejamkan mata karena ketakutan.


Jova mengepalkan kedua telapak tangan yang ada di samping tubuh, mengepal erat hingga kuku-kukunya terlihat sangat pucat. Dia mengatur napas yang mulai tidak beraturan, rasa takut membuat jantungnya memompa darah semakin cepat.


“Aku sudah menyerahkan semuanya kepadamu, apa kamu tidak bisa melepasku? Aku ingin kebebasanku,” ucap Jova dengan bibir yang bergetar.


Morgan berhenti membelai rambut Jova, mendengar ucapan wanita itu, membuatnya teringat akan kejadian semalam yang membuat Morgan sangat marah.Wanitanya bersama pria lain.


“Kamu lupa, aku menginginkanmu dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu. Aku akan membelenggumu di sisiku, meski kamu tidak menginginkannya.” Morgan mencengkram lengan Jova, membuat wanita itu langsung menatapnya.


“Aku tidak ingin ikut denganmu,” tolak Jova.


“Kamu tidak memiliki pilihan! Kamu hanya akan jadi milikku!” Tatapan tajam Morgan membuat tubuh Jova mematung.


Jova benar-benar ketakutan, kenapa mimpi buruknya benar-benar hadir di hadapan mata.


“Ikut denganku sekarang!” Morgan mencengkram pergelangan tangan Jova, lantas menarik dan berniat membawa wanita itu.


Jova mencoba memberontak, berusaha melepas cengkraman tangan Morgan.


“Aku tidak mau, kamu sudah tidak memiliki hak atas diriku. Lepaskan!” Jova masih berusaha keras lepas dari cengkraman pria dominan yang mengejar kepuasan birahi itu.


Morgan bersiap membuka pintu ruangan Jova, tapi terhenti saat mendengar Jova kembali memohon.


“Aku mohon. Aku mohon jangan menyeretku seperti ini,” pinta Jova, bahkan kini bulir kristal bening luruh dari kelopak mata.


Jova tahu jika adu tenaga tidak bisa menyelamatkannya dari Morgan, hingga kemudian mencoba memelas dan bernegosiasi dengan pria itu.


“Kamu yang memilih untuk dipaksa, Chloe.” Morgan urung memutar gagang pintu, kini menatap Jova yang menggelengkan kepala.


Jova hanya tidak ingin karyawannya berpikiran negatif karena dia dibawa paksa oleh Morgan, serta takut jika sampai masa lalunya terkuak karena kedatangan pria itu.


“Jika kamu tidak mau aku bawa secara baik-baik, maka memaksa adalah jalanku memilikimu,” ucap Morgan dengan nada suara tegas.


Jova menggelengkan kepala, kini buliran kristal bening mulai luruh dari kelopak matanya.


“Aku mohon, jangan seperti ini. Aku mohon.” Jova luruh ke lantai, hingga akhirnya tangan terlepas dari genggaman Morgan.


Morgan menatap Jova, entah kenapa melihat wanita itu menangis selalu sukses membuat perasaannya tak karuan, serta ada rasa iba yang menyelinap di sifat kejamnya. Dia pun berjongkok, menatap Jova yang kini duduk bersimpuh di hadapannya.

__ADS_1


“Maumu apa? Kalau kamu mau pergi denganku secara baik-baik, bukankah aku tidak akan pernah memaksamu seperti ini, hm? Kamu yang memaksaku berbuat kasar, Chloe.”


Jova memberanikan diri mengangkat wajah, hingga kemudian menatap pria yang ada di hadapannya. Di balik wajah basahnya, tersirat jelas ketakutan terhadap pria itu.


“Aku akan pergi denganmu, tapi bukan sekarang. Beri aku waktu, aku tidak mungkin pergi begitu saja,” ucap Jova dengan bibir bergetar.


Morgan menyeringai, kalau dulu saja dalam pengawasan wanita itu bisa kabur darinya, apalagi sekarang.


“Apa kamu pikir aku bodoh, Chloe? Kamu meminta waktu, lantas ingin kabur lagi entah ke kota dan negara mana, hm? Bukankah itu maksudmu meminta waktu?” Morgan tidak lantas percaya begitu saja.


Jova menggeleng untuk meyakinkan, entah apa yang akan dilakukannya setelah itu, tapi Jova harus membuat Morgan pergi dan tidak membawanya.


“Aku tidak akan kabur, tapi aku mohon biarkan aku memikirkan ini untuk sekarang,” ucap Jova lagi.


Morgan lagi-lagi menyeringai, lantas mengapit kedua pipi Jova dengan satu tangan.


“Baiklah, aku akan memberimu waktu berpikir. Dua hari, setelah dua hari kamu harus menghubungiku. Jika tidak, maka aku tidak akan segan memberimu hukuman. Bukan hanya membawamu saja, Chloe. Aku akan menghancurkan bisnismu, semua kehidupan karyawanmu, juga hidup pria itu,” ancam Morgan dengan tatapan tajam, tatapan setajam elang yang siap menerkam mangsa.


Jova membulatkan bola mata lebar mendengar ancaman Morgan, tentu dia tahu ‘dia’ siapa yang dimaksud pria itu.


“Aku sangat menyukaimu, seharusnya kamu jadikan itu sebagai anugerah karena hidupmu akan terjamin,” ucap Morgan sambil melepas tangan yang mengapit kedua pipi Chloe, lantas mengusap lembut wajah wanita itu.


Jova bergeming, sekali lagi tatapan dan senyuman pria itu bisa membuatnya membeku.


“Dua hari, Chloe. Aku tunggu dua hari, jika kamu tidak ikut atau kamu berusaha kabur, maka aku tidak akan pernah main-main dengan ancamanku, Chloe.”


Jova menelan ludah susah payah, lidahnya kelu dan suaranya tersekat di tenggorokan. Dia hanya mampu menatap tanpa bersuara karena ancaman pria itu.


Morgan mengapit dagu Jova, hingga kemudian mendekatkan wajah dan menyentuhkan bibir mereka. Morgan menyesap sedikit kasar bibir Jova, sedangkan wanita itu hanya bisa memejamkan mata karena pasrah.


“Aku akan datang lagi, ingat janjimu,” ucap Morgan setelah melepas pagutan bibir mereka, hingga kemudian berdiri dan merapikan jasnya.


Tubuh Jova langsung terasa lemas, tidak pernah terbayangkan jika akan kembali terjebak dalam jeratan pria arogan itu.


“Chloe, apa kamu tidak akan mengantarku ke depan? Bukankah karyawanmu akan bertanya-tanya kenapa tamumu tidak diantar sampai ke pintu?” Morgan menunduk dan menatap Jova yang masih terduduk di lantai.


Jova menarik napas panjang, lantas mengembuskan perlahan dan mengusap wajahnya yang basah. Dia mencoba bersikap tegar, hingga kemudian mencoba berdiri meski kedua kakinya lemas.


Ditatapnya pria ambisius yang sangat terobsesi kepadanya itu, Jova harus melakukan ini demi melindungi banyak orang.


Akhirnya Morgan keluar bersama Jova, wanita itu mencoba tersenyum saat bertemu karyawannya meski sedikit dipaksakan. Morgan sendiri menyentuh pinggang Jova, mengingatkan kalau wanita itu miliknya.


Jova tidak bisa mengelak, hingga membiarkan telapak tangan itu menyentuh pinggang, sampai akhirnya mereka kini berada di pintu.

__ADS_1


“Aku akan datang lagi, jangan berpikir kabur dariku,” lirih Morgan, sebelum kemudian mencium pipi Jova dan pergi dari sana bersama dua bodyguardnya.


Jova mengepalkan tangan, kenapa pria itu harus hadir dalam hidupnya, sedangkan karyawan dan beberapa tamu terkejut saat Morgan mencium Jova, tapi mereka kemudian mencoba bersikap biasa saat Jova membalikkan badan dan bersiap kembali ke ruangannya.


__ADS_2