
Saat Jova baru saja selesai mandi. Morgan sudah tidak ada di kamar dan sepertinya pria itu telah pergi. Ini lebih baik karena dengan begini dia tidak perlu mencemaskan keberadaan Morgan di sana.
Jova terduduk di tepian ranjang, mengingat ucapan Morgan beberapa saat sebelum dia masuk kamar mandi.
“Aku akan pergi ke perusahaan, aku harap kamu tetap di rumah dan tidak pergi ke mana pun. Bahkan jangan pernah sekali-kali berpikir untuk menampakkan diri di gerbang, batas langkahmu hanya sampai taman.”
Jova menghela napas kasar mengingat ucapan Morgan, istilah burung dalam sangkar memang sangat cocok untuknya. Jova akan selamanya terkurung di sana dan entah apakah bisa keluar dan bebas seperti dulu.
**
Di sisi lain, di kota tempat Edmund tinggal. Pria itu berusaha mencari informasi tentang Morgan, tentu saja Edmund tidak akan membiarkan begitu saja Morgan membawa Jova dan memisahkan mereka.
“Apa kamu yakin ingin melawannya? Jangan pertaruhkan hidupmu, Ed.” Teman Edmund cemas saat mengetahui siapa pria yang membawa Jova.
“Tidak bisa, meski dia berkuasa tapi bukan berarti semua orang akan tunduk kepadanya. Jova sangat menderita karena pria itu, bagaimana bisa aku membiarkannya bersama pria itu,” ucap Edmund sambil membaca semua informasi tentang Morgan.
“Apa kamu yakin akan mengejarnya?” tanya teman Edmund memastikan.
“Tentu saja. Meski Jova berkata agar aku tidak mencarinya, tapi aku merasa kalau dia mengharapkan aku datang menolongnya. Aku tahu kalau Jova saat ini pasti sangat membutuhkanku,” jawab Edmund penuh keyakinan.
Teman Edmund pun tidak bisa melarang, hingga akhirnya hanya bisa mendukung keputusan pria itu.
Tunggulah, Jo. Aku pasti akan datang dan membawamu kembali.
**
Morgan pergi ke perusahaan, di sana sudah ada Marcel yang menantinya untuk melaporkan pekerjaan yang sudah diselesaikan.
“Semua sudah aku cek dan pastikan satu persatu. Kamu bisa mengeceknya ulang agar lebih yakin,” ucap Marcel sambil memberikan berkas yang ditanganinya.
“Jika kamu yang mengerjakan, aku tidak perlu mengecek ulang,” balas Marcel yang sangat percaya kepada adiknya itu.
Marcel mengangguk, kemudian memperhatikan sang kakak yang terlihat santai sambil membuka berkas di meja.
“Apa ada kendala kemarin? Kakak ipar mencemaskanmu karena kamu tidak pulang tepat waktu dan juga tidak menjawab panggilan darinya?” tanya Marcel sambil menatap sang kakak.
“Tidak ada kendala, hanya saja aku mendapatkan apa yang kucari di sana, sehingga aku memundurkan waktu kepulanganku,” jawab Morgan tanpa menatap sang adik.
“Memangnya apa yang kamu cari? Apa kamu mendapatkan peluang bisnis yang bagus?” tanya Marcel penasaran.
“Bukan,” jawab Morgan santai. “Aku mendapatkan kembali milikku yang hilang.” Morgan menjawab dengan sedikit ambigu dan tentu saja hal itu membuat Marcel penasaran.
Setelah berbincang dengan Morgan, Marcel pun keluar dari ruangan sang kakak untuk kembali bekerja di ruangannya, hingga Marcel berpapasan dengan Bastian yang hendak menemui Marcel.
“Bas.” Panggilan Marcel membuat langkah Bastian terhenti.
“Ada apa?” tanya Bastian.
“Bukankah kamu ikut dalam perjalanan bisnis kemarin? Aku ingin menanyakan sesuatu,” kata Marcel.
“Tanya saja.” Bastian mempersilakan tanpa curiga.
“Morgan berkata kalau dia menemukan sesuatu yang dicarinya selama ini saat bertemu klien kemarin. Apa kamu tahu yang dibicarakannya?” tanya Marcel akhirnya bertanya ke Bastian karena sang kakak bicara penuh teka-teki.
Bastian langsung menengok ke kanan dan kiri ketika mendengar pertanyaan Marcel, hingga kemudian sedikit mendekat ke adik sang atasan, dan berbisik ke Marcel.
“Kamu ingat gadis yang dibeli oleh kakakmu, tapi kabur kemudian membuat kakakmu marah?” tanya Bastian mencoba mengingatkan.
“Ya, ada apa dengan gadis itu?” tanya Marcel kemudian, meski hatinya was-was menebak apa yang akan diungkap oleh Bastian selanjutnya.
“Kakakmu menemukannya, sekarang membawa wanita itu ke kota ini. Kakakmu benar-benar terobsesi dengan wanita itu,” jawab Bastian menjelaskan.
__ADS_1
Marcel sangat terkejut hingga membulatkan bola matanya lebar.
“Kakakmu terlihat begitu senang karena mendapatkan wanita itu lagi, apalagi ternyata wanita itu melahirkan anak laki-laki. Darah daging kakakmu,” ujar Bastian lagi.
Marcel semakin terkejut dibuatnya, pantas saja ada aura berbeda di wajah sang kakak.
“Kamu harus melihat wanita itu. Agar tahu kenapa kakakmu sangat tergila-gila dan terus mencarinya,” ucap Bastian sambil menepuk pundak Marcel, sebelum kemudian pergi meninggalkan Marcel.
Marcel bergeming di tempatnya, dia tahu secantik apa Jova hingga sang kakak tergila-gila ke wanita itu. Dia pernah menyelamatkan wanita itu sekali, mungkinkah Jova masih mengingatnya jika mereka kembali dipertemukan.
**
Morgan pulang ke rumah utama setelah selesai bekerja. Dia tidak ingin membuat Luna terus menghubunginya, sehingga memilih pulang ke rumah itu, meski pikirannya terus tertuju ke Jova dan Sean.
“Kamu sudah pulang, mau aku siapkan air hangat untuk mandi?” tanya Luna yang langsung menyambut sang suami.
“Tidak usah, aku ingin mandi air dingin,” jawab Morgan sambil melepas jas dan dasinya.
Luna melihat sikap dingin Morgan lagi, hingga memilih mendekat dan melingkarkan kedua lengan di perut sang suami.
“Apa kamu sangat lelah? Mau aku pijat atau yang lainnya agar merasa lebih baik?” tanya Luna mencoba memberikan perhatian.
Morgan menunduk dan melihat tangan Luna yang meraba ke dada, hingga pria itu mencekal dan mencegah Luna menggodanya.
“Aku benar-benar lelah dan ingin mandi, jadi biarkan aku sendiri,” ucap Morgan sambil melepas kedua tangan Luna yang memeluknya.
Morgan langsung melepas kemeja sambil berjalan, lantas melempar kemeja hitamnya itu ke keranjang pakaian kotor. Dia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya karena tidak ingin diganggu.
Luna memandang punggung Morgan, merasa kalau suaminya kembali bersikap dingin kepadanya. Biasanya Morgan akan tergoda kalau dia merayu, tapi kenapa sekarang ditolak mentah-mentah.
Luna menunggu sampai Morgan selesai mandi. Bahkan dia membuatkan kopi hitam tanpa gula kesukaan pria itu. Setengah jam berlalu, Morgan keluar dari kamar mandi dalam kondisi sudah segar.
“Kopi.” Luna langsung menawarkan secangkir kopi ke Morgan.
Luna mengambil cangkir dari tangan Morgan dan meletakkan ke nakas, sebelum kemudian berniat untuk kembali merayu suaminya itu. Luna hanya cemas jika Morgan kembali bermain wanita di luar sana dan kembali mengabaikan dirinya. Dia harus bisa membuat sang suami selalu puas dengannya.
“Kamu tahu, aku sangat cemas saat kamu tidak membalas pesanku,” ucap Luna sambil memainkan jemari di dada Morgan, pria itu masih mengenakan bathrobe berwarna hitam.
“Sudah kubilang jangan menghubungiku kalau bukan aku yang menghubungimu. Kamu tahu sesibuk apa aku saat bekerja,” balas Morgan yang kesal jika Luna membahas tentang dia yang abai.
“Maaf, aku hanya merindukanmu,” ucap Luna mencoba mengalah daripada berdebat dengan Morgan. Jemarinya kini mulai menelusup ke bathrobe dan menyentuh kulit Morgan untuk menggoda.
“Lun, aku benar-benar lelah dan ingin tidur. Jangan memulai!” Morgan mencekal tangan Luna, kemudian mengeluarkan dari balik bathrobe.
Luna terlihat kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena Morgan paling benci jika dipaksa. Dia pun akhirnya memilih diam dan tidak lagi merayu sang suami.
Morgan memilih mengganti bathrobe dengan piyama, lantas langsung naik ke atas tempat tidur tanpa memedulikan kekecewaan Luna.
Meski Morgan kembali bersikap dingin kepadanya, tapi Luna berusaha untuk tetap tenang dan bersabar kepada pria itu.
**
Di rumah yang ditempati Jova. Wanita itu turun dari lantai dua karena ingin makan malam, hingga telinga kembali mendengar perbincangan para pelayan di ruang makan.
“Padahal Tuan tidak ke sini, kenapa kita harus tetap menyiapkan makan malam. Wanita itu tampaknya sangat manja dan suka sekali dilayani,” ucap salah satu pelayan yang tidak rela jika hanya melayani Jova.
“Nasib dia saja begitu baik, sampai bisa membuatnya menjadi Nyonya. Atau mungkin dia pandai melakukan tipu muslihat, hingga Tuan kita terjebak olehnya,” timpal pelayan satunya.
“Dia ini benar-benar ular berbisa. Dia seharusnya sudah tahu kalau Tuan itu memiliki istri, tapi tetap saja menggodanya, pasti dia itu hanya menginginkan harta dari Tuan saja,” cibir pelayan itu lagi.
Jova mulai tidak nyaman dengan gunjingan para pelayan, hingga muncul di ruang makan dan membuat para pelayan itu terkejut.
__ADS_1
“Jika kalian tidak rela melayaniku, maka jangan melayani. Kalian tidak perlu juga menyiapkan makanan, mencuci bajuku atau mengurus kebutuhanku jika tidak ingin, daripada kalian mengerjakan semua itu, tapi juga menggunjingku di belakang,” sindir Jova secara langsung. Dia memang tidak suka jika ada yang baik di depan tapi busuk di belakang.
Kedua pelayan itu langsung menunduk mendengar sindiran Jova.
“Tenang saja, aku juga tidak akan memberitahukan ini ke Morgan, tapi berhenti menilai seseorang tanpa tahu kebenarannya,” ucap Jova kemudian sambil menatap satu persatu dua pelayan itu.
Dua pelayan itu saling colek, tampaknya mereka malu karena terciduk menjelekkan Jova.
Jova sudah menebak jika pelayan itu memang pintar bicara di belakang, hingga tidak terkejut kalau sekarang dua pelayan itu hanya bisa diam saja.
“Pergilah, jangan membuat nafsu makanku hilang,” usir Jova kemudian.
Dua pelayan itu pun buru-buru pergi meninggalkan Jova di ruang tamu. Saat dua pelayan itu pergi, Ella muncul di sana dan mendengar semua yang dikatakan oleh Jova.
“Soal ucapan mereka, Nyonya jangan ambil hati,” kata Ella.
Jova baru saja duduk dan terkejut mendengar suara Ella, ditatapnya gadis itu yang baru saja muncul di ruang makan.
“Tidak akan aku ambil hati, malah bikin penyakit sendiri,” balas Jova santai sambil membuka piringnya.
Jova juga tidak ingin terlalu berpikir atau tertekan di rumah itu, hingga dia pun berpikir untuk tetap makan dan menjalani hidupnya seperti biasa, meski mungkin akan berbeda.
Ella dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Jova karena tidak ada yang melayani.
“Ella, duduk dan makanlah bersamaku,” perintah Jova setelah Ella melayaninya.
“Tapi Nyonya, tidak akan sopan jika saya makan satu meja dengan Anda,” tolak Ella yang merasa sungkan.
“Tidak usah sungkan atau merasa tidak sopan. Aku terbiasa makan satu meja dengan karyawanku, lalu kenapa tidak bisa makan satu meja denganmu? Lagi pula makanan di meja sangat banyak, aku tidak bisa jika makan sendiri,” ujar Jova untuk meyakinkan Ella agar mau menemaninya makan.
Meski ragu, akhirnya Ella pun mau ikut makan bersama Jova. Dia duduk di sebelah Jova dan keduanya pun makan malam bersama.
**
Morgan tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya penuh dengan Jova dan Sean, bertanya-tanya apakah mereka baik-baik saja atau Jova melakukan tindakan mencurigakan untuk kabur.
Morgan melihat Luna yang sedang tidur, hingga akhirnya memilih turun dari ranjang dan membawa ponselnya ke balkon. Morgan menghubungi anak buahnya yang berjaga di rumah tempat Jova tinggal.
“Selamat malam, Tuan.” Suara anak buah Morgan terdengar dari seberang panggilan.
“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Morgan saat mendengar sapaan dari anak buahnya.
“Semua baik dan tidak ada kendala,” jawab anak buah Morgan.
“Apa dia bertindak sesuatu, mungkin berusaha keluar rumah atau yang lainnya?” tanya Morgan kemudian.
“Tidak, Tuan. Nyonya seharian ini hanya bermain bersama tuan kecil di halaman rumah, lalu siang hari mereka masuk rumah dan tidak terlihat keluar. Saat sore, pelayan mengajak tuan kecil berjalan-jalan di sekitar rumah. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan seperti yang Tuan takutkan,” ujar anak buah Morgan menjawab pertanyaan agar bosnya itu tidak cemas.
Morgan terlihat mengangguk-angguk mendengar ucapan anak buahnya, merasa lega karena Jova tidak berusaha kabur darinya lagi.
Morgan pun mengakhiri panggilan itu, lantas memilih keluar dari kamar dan menuju ke kamar putrinya. Morgan memandang dua gadis kecil yang tertidur pulas di ranjangnya masing-masing. Dia mendekat kemudian mengecup kening kedua putrinya secara bergantian. Meski Morgan tidak mencintai Luna, serta tidak senang karena memiliki dua putri, tapi tetap saja naluri sebagai ayah muncul saat melihat wajah damai kedua putrinya.
“Mereka sangat merindukanmu.” Suara Luna terdengar di kamar itu.
Morgan menoleh dan melihat Luna yang berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dia terbangun saat tidak mendapati suaminya di ranjang.
Morgan tidak membalas ucapan Luna, memilih membetulkan letak selimut putrinya, kemudian berjalan ke arah pintu di mana Luna berdiri.
“Sayang, apa aku membuat kesalahan? Kenapa kamu tiba-tiba kembali bersikap dingin lagi kepadaku?” tanya Luna sambil menahan dada Morgan dengan telapak tangan.
Morgan menoleh Luna, menatap sang istri dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
“Tidak ada yang membuat kesalahan, aku hanya lelah dan butuh istirahat yang lebih lama,” jawab Morgan, lantas menyingkirkan tangan Luna dari dada dan kembali ke kamarnya.
Meski Morgan berkata tidak ada masalah, tapi entah kenapa merasa feeling jika ada sesuatu yang membuat Morgan kembali bersikap dingin kepadanya.