Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Selalu mengancam


__ADS_3

“Nyonya, putra Anda sangat tampan dan menggemaskan. Siapa namanya?” tanya Ella yang sejak tadi terus memperhatikan wajah Sean yang begitu lucu.


“Sean,” jawab Jova. Dia baru saja selesai makan malam penuh perdebatan dengan pria yang selalu bersikap otoriter kepadanya.


“Ah … nama yang sangat indah. Aku pasti sangat senang bisa menjaganya,” ucap Ella tidak sabar melihat Sean saat bangun.


Jova hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ella. Gadis pelayan itu mungkin senang dengan keberadaannya di sana bersama Sean, tapi tidak dengan Jova yang tidak bahagia karena di sana bagai penjara baginya.


Ella melirik Jova, melihat majikannya itu sedang membongkar koper dan mulai mengeluarkan mainan milik Sean. Dia melihat raut wajah Jova yang tidak bahagia, tapi tentunya tidak berani bertanya.


“Biar saya saja yang mengeluarkan barang-barang milik Tuan kecil,” kata Ella hendak mengambil alih barang-barang milik Sean.


“Jangan memanggilnya Tuan kecil, panggil Sean saja.” Jova tidak suka putranya dipanggil dengan sebutan berlebihan.


“Tapi Nyonya, nanti Tuan marah dan menganggap saya tidak sopan,” ucap Ella takut.


“Jika dia marah, maka aku yang akan menantangnya dan membelamu, kamu tenang saja.” Jova menepuk pundak Ella dan meyakinkan agar tidak takut ke Morgan hanya karena masalah sebutan nama untuk Sean.


Ella menjadi bingung, tapi juga tidak ingin membuat Jova marah. Akhirnya Ella mengangguk dan mengiakan saja permintaan Jova.


**


Malam semakin larut, bukannya tidur di kamarnya, Jova ternyata malah tidur di kamar Sean, tentu saja niatnya untuk menghindar dari Morgan. Bagaimana bisa dia tidur bersama Morgan, semua itu akan membuka luka lamanya.


Ella juga tidur di kamar Sean, ada kasur lipat yang digunakan untuk tidur. Dia harus di sana untuk berjaga-jaga jika tengah malam Sean bangun untuk minta susu atau lainnya. Jova sendiri tidur di sofa dengan posisi miring.

__ADS_1


Morgan berada di ruang kerja hingga larut karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah semua dipastikan selesai, pria itu pun keluar dari ruang kerja dan pergi ke kamar. Alangkah terkejutnya Morgan saat melihat Jova tidak ada di sana.


“Apa dia tidur di kamar Sean?”


Morgan pun mengecek kamar Sean dan benar mendapati Jova di sana. Ditatapnya Jova yang tertidur dengan pulas meski dalam posisi miring. Cantik alami dan terlihat begitu damai. Bibir mungilnya juga bulu mata lentik itu masih sama dengan dua tahun lalu saat Morgan pertama kali terpikat dengan kepolosan Jova.


Ella terbangun karena mendengar pergerakan di kamar itu, tapi saat menyadari jika Morgan yang ada di sana dna kini sedang mengangkat Jova yang tidur di sofa, membuat Ella langsung buru-buru menutup mata seolah tidak melihat.


Morgan menggendong Jova, membawa wanita itu kembali ke kamar mereka. Dia bahkan mengunci pintu penghubung antara kamar itu dan kamar Sean, sebelum kemudian berjalan dan merebahkan tubuh Jova secara perlahan.


Di alam mimpinya, Jova merasakan tubuhnya seperti melayang. Jelas saja dia merasakan demikian karena Morgan menggendongnya di alam nyata.


Saat Morgan baru saja menurunkan Jova, wanita itu terbangun dan begitu terkejut karena melihat wajah Morgan yang begitu dekat dengan wajahnya.


“Kamu tidur di kamar Sean, padahal seharusnya tidur di sini,” kata Morgan sambil menatap wajah Jova.


“Aku tertidur di sana,” elak Jova agar Morgan tidak curiga kalau dia menghindari pria itu.


“Kalau begitu sekarang tidur di sini karena aku sudah membawamu ke sini,” ucap pria itu kemudian menarik selimut untuk menutupi kaki Jova.


Jova bergeming, bahkan menahan napas karena akan seranjang dengan Morgan. Bayangan-bayangan akan perlakuan pria itu dua tahun lalu melintas di kepala, meski dia mengakui kalau sentuhan Morgan membuat tubuhnya mengkhianati pikiran, tapi tetap saja Jova tidak membenarkan atau bisa memaafkan Morgan.


Morgan naik ke ranjang, mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram. Dia pun masuk ke selimut dan ingin mengistirahatkan raganya.


Jova tidak bisa menutup mata, pikirannya terus waspada karena takut jika tiba-tiba Morgan menerkamnya. Bagaimana jika Morgan sebenarnya tidak memercayainya soal tamu bulanannya, lantas memaksa dia untuk melayani. Jova menggelengkan kepala dengan cepat, berharap itu tidak akan terjadi.

__ADS_1


Jova memberanikan diri menggerakkan kepala, menoleh ke samping dan mengecek apakah Morgan sudah tidur. Pria itu sudah memejamkan mata, dari samping terlihat jelas rahangnya yang kokoh, hidungnya yang mancung dengan alis tebal yang membuatnya terlihat begitu tegas dan kejam.


Jova mengerjapkan kelopak mata berulang kali untuk menyadarkan diri, bagaimana bisa dia menilai wajah pria itu. Dia pun akhirnya memilih untuk memejamkan mata karena merasa aman sebab Morgan sudah tidur.


Saat Jova sudah memejamkan mata, Morgan ternyata belum tidur dan kini membuka kelopak mata. Dia merasakan kalau Jova menatap dirinya, membuat pria itu tersenyum ketika melihat Jova sudah memejamkan mata. Morgan sedikit mengangkat kepala, hingga mengecup sekilas bibir mungil Jova.


Jova sangat terkejut dan langsung membuka kelopak mata, melihat wajah Morgan yang masih ada di atasnya.


“Apa yang kamu lakukan?” Jova terlihat kesal karena ulah Morgan.


“Tentu saja melakukan hal yang ingin aku lakukan. Aku bebas melakukan sesuatu kepadamu, karena aku sudah membelimu.”


Jova begitu geram mendengar ucapan Morgan, hingga kemudian memilih menggeser posisi hingga akhirnya berbaring miring memunggungi Morgan.


Morgan menatap lekuk leher Jova yang tidak tertutup rambut, andai Jova tidak berkata kalau sedang datang bulan, mungkin Morgan akan menerkam wanita itu malam ini juga.


Morgan akhirnya memilih sedikit mendekat ke arah Jova, lantas melingkarkan lengan di perut wanita itu.


Jova sudah memejamkan mata, lagi-lagi dibuat terkejut karena ulah Morgan. Dia melihat lengan kekar itu melingkar di perutnya dan mungkin tidak akan mau dilepas.


“Aku tidak biasa tidur dengan posisi ini, lepaskan tanganmu dariku.” Jova mencoba melepas tangan Morgan dari perutnya tapi sia-sia.


“Sudah kubilang kalau akan melakukan apa pun yang kuinginkan, jadi jangan membantah dan segera tutup matamu, atau aku akan melakukan hal lainnya,” ancam Morgan.


Jova ingin sekali menggerutu, kenapa Morgan selalu saja mengancam untuk menundukkan lawannya. Jova merasa kesal dan akhirnya memejamkan mata, tapi dalam hatinya bersumpah kalau mulai saat ini akan terus melawan Morgan dan membuat pria itu muak dengannya.

__ADS_1


__ADS_2