
“Apa Kakak ipar tahu?” tanya Marcel sambil menatap sang kakak yang akhirnya menemui dirinya.
Morgan sedang menyesap kopinya, terlihat santai mendengar pertanyaan sang adik.
“Tidak,” jawab Morgan santai setelah selesai menyesap kopi.
Marcel terlihat tidak senang dengan apa yang dilakukan kakaknya kali ini.
“Aku tidak pernah melarang atau tidak setuju dengan semua yang kamu lakukan selama ini. Tapi untuk wanita itu ….” Marcel menjeda ucapannya, memalingkan wajah sejenak dari sang kakak seolah bingung harus bagaimana menghadapi hal yang dilakukan kakaknya kali ini.
“Kakak menjadikannya simpanan?” tanya Marcel terlebih dulu memastikan, hanya menduga mungkinkan Morgan sebenarnya sudah menikahi Jova.
“Aku sudah membelinya dan mengatakan jika tidak akan melepas, selama aku belum ingin. Apa itu jadi masalah untukmu? Kenapa kamu kali ini sangat cerewet dan protes?” Morgan menatap Marcel curiga.
Marcel mendesis pelan, lantas berkata, “Bagaimana kalau Kakak ipar tahu? Apa kamu tidak memikirkan perasaannya. Bagaimanapun dia tetap istrimu. Seharusnya jika kamu ingin bermain-main wanita, tidak perlu sampai menyimpannya di rumah.”
__ADS_1
Morgan langsung menatap tajam ke Marcel, baru kali ini sang adik banyak bicara dan membuatnya tidak nyaman.
“Jova melahirkan anakku, aku tidak bisa melepasnya, karena dia melahirkan anak laki-laki yang memang selalu diharapkan keluarga kita,” ucap Morgan menjelaskan.
Marcel terlihat kehabisan kata-kata, tidak paham apa yang sebenarnya dipikirkan sang kakak. Apakah Morgan memang menahan Jova di sana karena melahirkan bayi laki-laki, ataukah memang hanya nafsu yang membuat Morgan ingin memiliki Jova.
“Tetap saja, tindakanmu tidak benar. Jika Kakak ipar tahu, maka ini akan menjadi bencana. Pikirkan semuanya dengan baik, aku tidak pernah melarangmu bermain wanita, tapi jangan secara terang-terangan menyimpan wanita di rumah ini. Belum lagi, banyak mata dan mulut di sini, aku tidak yakin keberadaannya tidak akan sampai diketahui Luna.”
Daripada mencemaskan perasaan sang kakak ipar, entah kenapa Marcel sebenarnya cemas jika Luna mengetahui siapa Jova kemudian melakukan sesuatu untuk menyingkirkan Jova.
“Aku tahu apa yang kulakukan.”
Marcel pergi setelah menyerahkan berkas dan bicara dengan Morgan. Dia tiba-tiba kesal karena Morgan menyimpan Jova di sana. Saat baru saja keluar dari rumah dan hendak berjalan menuju mobil, langkah Marcel terhenti karena melihat Jova di sana.
“Kamu … bukankah kamu pria yang menolongku malam itu? Aku ingat namamu,” ucap Jova ke Marcel.
__ADS_1
Marcel menoleh ke belakang, takut jika Morgan melihat atau mendengar, sebelum kemudian kembali menatap Jova. Dia pun menganggukkan kepala untuk mengiakan ucapan Jova.
“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih saat itu. Terima kasih,” ucap Jova dengan sedikit membungkukkan badan.
“Tidak masalah,” balas Marcel, “aku mencoba menyelamatkanmu, tapi pada akhirnya kamu kembali berada di dalam cengkramannya.”
Jova tersenyum getir, lantas berkata, “Mungkin takdirku harus seperti ini. Aku sudah mencoba berlari sejauh mungkin, tapi tetap saja kembali tertangkap dan berakhir di sini.”
Marcel ingin bicara banyak hal, tapi masih mencoba menahan diri karena tidak ingin sang kakak salah paham kepadanya, jika melihat dia bicara dengan Jova.
“Soal malam itu, aku tidak pernah cerita ke Morgan,” ucap Marcel.
“Aku juga tidak akan pernah menceritakannya ke dia. Aku tahu kalau dia pasti akan marah, jika tahu kamu yang membiarkanku pergi malam itu,” balas Jova.
Marcel tersenyum kecil, hingga mengulurkan tangan ke arah Jova.
__ADS_1
“Aku belum tahu namamu,” kata Marcel dengan seulas senyum di wajah.
Jova ikut mengulas senyum, lantas membalas jabat tangan Marcel. “Jova.”