Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Tetap wanita simpanan


__ADS_3

Morgan membawa Jova ke salah satu rumah besar miliknya. Di sana sudah disiapkan pelayan yang akan melayani Jova, bahkan penjaga untuk memastikan wanita itu tidak kabur lagi.


Jova memperhatikan sekitar saat baru saja turun dari mobil, sudah menebak jika Morgan akan melakukan ini kepadanya, mengurung layaknya tahanan yang butuh dijaga ketat.


“Apa kamu harus melakukan ini? Mengurung dan memberikan penjagaan ketat,” ucap Jova langsung melayangkan protes ke Morgan.


Jova berusaha bersikap kuat di depan Morgan, menjadi lemah pun akan semakin membuatnya tertindas. Dia tidak ingin memperlihatkan ketakutan dan kelemahannya di depan pria itu, atau Morgan akan semakin semena-mena kepadanya.


“Ada pengawal pun kamu kabur, jadi mana mungkin kamu bisa tinggal tanpa pengawasan. Apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja kamu tidak akan kabur jika aku tidak memberikan pengawalan?” Morgan membalas ucapan Jova dengan argumen karena sikap Jova dua tahun lalu yang kabur dari genggamannya.


Jova memalingkan wajah karena kesal, hingga kemudian berkata, “Kamu benar-benar merendahkan harga diriku karena menjadikanku simpananmu.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Jova lantas berjalan masuk meski tanpa dipersilakan.


Morgan menatap punggung Jova, memandang wanita yang melahirkan putranya. Dia sedang menilai wanita itu, Jova bisa saja menggugurkan kandungannya saat itu, tapi kenapa malah memilih untuk mempertahankan dan melahirkannya, hingga kini bayi menggemaskan itu bisa tertawa di dunia fana ini.


Jova tahu Morgan sudah memiliki seorang istri, semua orang pun tahu akan hal itu, karena pengusaha kaya raya seperti Morgan sering masuk ke situs berita atau koran karena kesuksesannya. Kini Jova harus terbelenggu oleh pria beristri, membuatnya akan semakin berdosa karena menjadi wanita simpanan dan mungkin akan dituduh sebagai penggoda pria beristri.


“Ini kamar Sean, kamar kita di sebelahnya dan ada pintu yang terhubung dengan kamar Sean, jadi kamu tidak perlu cemas untuk memantaunya,” ucap Morgan sambil menunjukkan kamar milik Sean.


Jantung Jova berdegup dengan cepat mendengar ucapan Morgan, terlebih saat pria itu menyebut ‘kamar kita’, apakah itu artinya dia harus sekamar dengan pria itu, apa Morgan tidak akan pulang ke rumah istrinya.


Jova tidak membalas ucapan Morgan, memilih masuk dan meletakkan Sean di ranjang khusus karena tertidur sejak dari bandara. Ranjang Sean berukuran sedang dengan pengaman di bagian tepinya agar bayi itu tidak jatuh jika banyak bergerak di ranjang.


Morgan memperhatikan Jova yang sedang menyelimuti Sean, lantas mendekat dan menyentuh kedua lengan Jova.


Jova hampir saja berjengkit karena terkejut, tapi berusaha bersikap tenang.


“Aku ingin mandi,” ucap Jova sambil menggerakkan kedua lengan, berusaha melepas kedua tangan Morgan dari lengannya.


Bukannya melepas kedua lengan Jova, Morgan malah semakin mempererat cengkramannya.


“Kamu tahu betapa aku merindukanmu dan sudah menahannya sangat lama,” bisik Morgan tepat di telinga Jova.


Jantung Jova berdegup dengan cepat, kenapa nasibnya harus berakhir sebagai wanita pemuas ranjang pria yang bukan suaminya. Dia tahu maksud Morgan, tapi tentunya Jova tidak ingin melayani Morgan begitu saja.


“Aku sedang kedatangan tamu bulananku,” ucap Jova agar selamat dari Morgan.

__ADS_1


Morgan sedikit tidak senang mendengar ucapan Jova, hingga berpikir kalau wanita itu hanya membuat alasan saja. Dia membalikkan tubuh Jova, menatap kedua bola mata wanita itu untuk melihat kejujuran di dalam tatapan Jova.


“Jangan membohongiku.” Morgan memberikan tatapan tidak senang.


“Kamu bisa mengeceknya sendiri jika tidak percaya.” Tantang Jova untuk meyakinkan, meski mungkin akan ketahuan jika Morgan benar-benar mengecek kondisinya.


Morgan melihat Jova yang terlihat sangat serius, bahkan berani menatap matanya, membuat pria itu akhirnya percaya begitu saja.


“Baiklah, kalau begitu mandi dan kita makan malam setelahnya. Jangan membuat masalah, kamu tahu aku bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak kamu inginkan, Chloe.” Morgan mengingatkan lagi karena takut Jova akan melakukan hal di luar nalar.


Jova menghela napas lega mengetahui Morgan percaya dan melepas dirinya untuk malam itu.


“Jangan terlalu menekanku karena aku bukan wanita bodoh.” Jova kesal karena Morgan terlalu otoriter. “Satu lagi, aku benci kamu memanggilku dengan nama Chloe!”


“Bukankah namamu Chloe? Lalu aku harus menyebut namamu dengan apa jika kamu tidak mau aku memanggilmu dengan nama itu?” tanya Morgan kemudian.


“Panggil aku Jova, aku lebih suka nama itu,” jawab Jova dengan sedikit nada ketus.


Ternyata Jova masih sama seperti yang ada di pikiran Morgan, terlihat suka membangkang, tapi sebenarnya mudah dijinakkan. Hal yang paling Morgan sukai, wanita itu selalu bisa membuatnya tertarik.


**


“Kalian harus melayaninya dengan baik, satu keluhan saja darinya, maka aku akan memecat bahkan bisa memberi perhitungan yang tidak bisa kalian bayangkan!” ancam Morgan ke pelayan saat memberikan instruksi ke para pelayan di rumah itu.


“Baik, Tuan. Kami mengerti.” Para pelayan itu menunduk paham.


“Jangan ada yang membantah jika mendapat perintah darinya, karena di sini dia adalah Nyonya rumah,” ucap Morgan lagi dengan penekanan.


Para pelayan itu pun lagi-lagi mengangguk paham.


Jova baru saja selesai mandi dan turun ke ruang makan karena merasa lapar dan tidak mendapati Morgan di kamar. Hingga langkahnya terhenti saat mendengar suara Morgan, dia mendengarkan apa yang diucapkan pria itu ke para pelayan.


Meskipun Morgan terlihat baik dan begitu meratukan dirinya, tapi tetap saja Jova merasa seperti wanita murahan yang hanya akan dijadikan alat pemuas nafsu pria itu saja.


Saat Morgan sudah selesai bicara, Jova pun masuk ke ruang makan dan membuat Morgan langsung menatapnya. Para pelayan pun melirik untuk melihat dengan jelas siapa wanita yang jadi simpanan majikannya itu, karena beberapa memang sudah lama bekerja dengan Morgan untuk merawat rumah itu.


“Kemarilah!” Morgan meminta Jova mendekat.

__ADS_1


Jova sebenarnya malas diperlakukan terlalu istimewa, karena bagaimanapun sikap Morgan kepadanya, pikirannya tetap menganggap kalau dia hanya pemuas ranjang saja.


“Dia Jova, Nyonya kalian. Jika di antara kalian ada yang menyebarkan keberadaannya di sini, maka bersiaplah mendapatkan hukuman dariku!” ancam Morgan memperingatkan, peringatan itu termasuk untuk tidak bicara ke pelayan yang berada di rumah utama.


“Baik, kami mengerti.” Para pelayan itu mengangguk paham.


“Sekarang kembali bekerja dan siapkan makan malam untuk kami!” perintah Morgan kemudian.


Para pelayan itu pun membubarkan diri, hingga ada seorang gadis yang menatap Jova dengan senyum kecil di wajah, seolah senang melihat Jova di sana.


“Oh kamu! Tunggu!” Morgan mencegah gadis muda yang hendak kembali bekerja.


“Saya Tuan?” Gadis yang tadi tersenyum, kini memutar badan dan kembali menghadap ke Morgan dan Jova.


“Siapa namamu?” tanya Morgan ke gadis itu.


“Ella, Tuan.”


“Ella, kamu bisa merawat bayi?” tanya Morgan lagi.


“Bisa, karena dulu saya juga merawat adik saya sendirian,” jawab Ella penuh percaya diri.


Jova sendiri awalnya tidak paham kenapa Morgan memanggil gadis itu kembali, hingga kini sadar kalau Morgan pasti ingin menjadikan gadis itu babysitter Sean.


“Mulai malam ini, kamu aku tugaskan menjaga dan merawat Sean. Ingat, jaga dia dengan baik karena jika sampai terjadi sesuatu kepadanya, nyawamu yang akan melayang,” ancam Morgan sambil memberi perintah.


“Saya paham, Tuan.” Ella menunduk mematuhi semua perintah Morgan.


“Kamu tidak perlu lagi melakukan pekerjaan rumah, cukup jaga putraku,” ucap Morgan kemudian.


Ella mengangguk paham, lantas izin untuk menjaga Sean.


Jova hanya memperhatikan Morgan yang terus memberikan perintah, hingga tanpa disadari Morgan pun kini menatap Jova.


“Jangan membuatku terkesima dengan semua hal yang kamu lakukan untukku, karena aku pastikan jika aku tidak akan luluh sama sekali dengan perlakuanmu,” ucap Jova menegaskan, sebelum kemudian berjalan menuju meja makan.


Morgan terkejut mendengar ucapan Jova. Jova adalah wanita pertama yang menolak perhatian darinya, membuat Morgan semakin ingin membuktikan kalau dia bisa membuat Jova benar-benar jatuh ke pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2