Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Kecelakaan


__ADS_3

[Bagaimana urusan pekerjaanmu di sana? Kapan kamu akan pulang?]


Morgan hanya membaca pesan dari sang istri tanpa berniat membalasnya. Terlalu malas karena sejatinya memang tidak pernah ada rasa untuk istrinya itu. Morgan sedang menunggu anak buah yang memantau rumah Jova menghubunginya, hendak mengetahui apakah Jova akan menepati janji untuk tidak kabur atau sebaliknya.


Hingga ponsel Morgan berdering kembali, kini anak buahnya menghubungi pria itu.


“Bagaimana?” tanya Morgan langsung begitu menjawab panggilan itu.


“Seorang pria mengantarnya pulang, dia baru saja turun dari mobil,” jawab anak buah Morgan dari seberang panggilan.


Morgan langsung mengepalkan telapak tangan mendengar jawaban anak buahnya, bisa menebak siapa pria yang mengantar wanitanya.


“Kalian tahu apa yang harus dilakukan,” ucap Morgan dengan tatapan tajam.


“Baik, kami paham,” balas anak buah Morgan. “Tuan ada satu hal lagi yang mungkin Anda ingin dengar,” kata anak buah Morgan lagi.


“Apa?”


**


Edmund mengemudikan mobil menuju apartemen yang ditinggalinya. Dia berkendara seperti biasa dengan kecepatan sedang di jalanan yang terlihat begitu lenggang.


Hingga tanpa disadari, sebuah mobil mengikuti Edmund. Terus membuntuti hingga akhirnya mensejajari laju mobil Edmund.


Edmund menoleh ke kiri di mana ada mobil yang terus mensejajari laju mobilnya. Dia merasa aneh karena mobil itu tidak menyalip atau melaju di belakangnya, bahkan terkesan seperti menyamakan laju dengannya.


Tidak ingin berpikir berlebih, Edmund pun menginjak pedal gas dalam-dalam, agar laju mobilnya semakin cepat dan menyalip mobil yang ada di sampingnya. Namun, siapa sangka jika mobil itu juga mempercepat laju, hingga masih terus sejajar dengan mobil Edmund.

__ADS_1


“Apa mereka penguntit?” Edmund mulai waspada.


Tanpa disadari, Edmund semakin menginjak pedal gas begitu dalam, hingga laju mobilnya pun semakin cepat. Sampai Edmund tidak menyadari kalau di depannya ada lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah dari arahnya. Edmund sangat terkejut karena menerobos lampu lalu lintas, bersamaan dengan mobil lain yang melaju dari arah kanan. Mobil yang mengikuti Edmund berhenti tepat sebelum lampu lalu lintas.


“Sial!” Edmund membanting stir ke kiri, sayangnya dari arah sana juga ada mobil lain yang hendak melintas, membuat Edmund terus memutar stir ke kanan dan kiri untuk menghindari tabrakan, tapi sayangnya tabrakan tetap tidak terhindarkan.


**


Pagi hari itu udara terasa sedikit hangat. Helen mengajak Sean keluar rumah untuk mencari udara segar, tapi tidak melebihi gerbang karena Jova sudah melarang untuk membawa Sean keluar.


“Udaranya sedikit hangat, ini bagus untukmu,” ucap Helen ke bayi mungil yang digendongnya.


Di kamar Jova, wanita itu baru saja bangun saat sinar matahari merambat masuk dan menggodanya untuk bangun. Wanita itu pun melihat ke arah jendela di mana sinar matahari begitu terang di sana.


Jova memilih turun dari ranjang, berjalan menuju jendela kamar dan membuka gorden agar matahari bisa leluasa masuk menghangatkan kamar. Hingga Jova melihat Helen yang menggendong Sean, mereka berada di halaman dan sedang menikmati sinar matahari yang menyehatkan.


“Sean.”


Jova berjalan cepat ke ranjang mengambil kimono dan memakainya untuk menutupi tubuh yang sedikit terbuka karena baju tidurnya. Dia buru-buru keluar dari kamar untuk menyusul putranya.


Di luar rumah, sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah Jova. Morgan ada di dalam mobil itu bersama sang asisten, menoleh dan melihat Helen yang sedang menggendong Sean.


Morgan pun mengingat ucapan anak buahnya semalam yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.


“Saya melihat seorang wanita menggendong bayi keluar dari rumah dan membuang sampah. Saya tidak tahu apakah itu bayi wanita itu atau bayi dari wanita milik Anda.”


Morgan datang ke rumah Jova karena ingin memastikan bayi siapa yang dilihat anak buahnya. Kini dia melihat bayi laki-laki sedang diajak bermain oleh wanita berumur empat puluh tahunan.

__ADS_1


Morgan berniat turun, hingga melihat Jova keluar dari rumah sambil setengah berlari menghampiri wanita yang menggendong bayi.


“Jo, kamu sudah bangun. Lihat, mamamu tetap cantik meski berantakan.” Helen mengajak bicara Sean seraya menggerakkan tangan mungil bayi itu.


“Bibi, bawa Sean masuk!” perintah Jova dengan wajah panik.


“Ada apa?” Helen melihat kepanikan di wajah Jova.


Morgan melihat Jova yang terlihat panik, bahkan sempat mendengar Helen menyebut mama untuk Jova.


“Dia anak Chloe.” Tiba-tiba banyak pertanyaan di pikiran Morgan. Hingga pria itu membuka pintu dan keluar untuk memastikan.


“Ada apa, Jo?” Helen masih bingung karena Jova memaksanya masuk.


“Bibi, pokoknya--” Jova berhenti bicara saat mendengar suara yang dikenalnya memanggil.


“Chloe.” Morgan kini sudah berdiri di depan gerbang.


Tubuh Jova membeku mendengar suara Morgan, jantungnya berdegup dengan cepat dan ketakutan kembali merayap di dada. Kenapa pria itu bisa tahu tempat tinggalnya, nahasnya kini mungkin Morgan sudah melihat Sean.


Helen kebingungan, terutama karena Morgan menyebut nama Jova dengan Chloe.


“Jo, kamu mengenalnya?” tanya Helen sambil menatap ke arah Morgan, sebelum kemudian beralih menatap Chloe yang ketakutan.


“Chloe, kamu tidak ingin mempersilakanku masuk?”


Tubuh Chloe gemetar, sungguh dia benar-benar dalam kondisi ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2