
Jova sudah berada di kamarnya setelah seharian bekerja mengurus salon yang dimiliknya. Wanita itu membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti karena ingin mandi, hingga saat pintu lemari terbuka, sebuah kotak jatuh dan hampir menimpa dirinya.
Jova sangat terkejut, saat kotak itu jatuh di sampingnya, hingga isi kotak itu kini berserakan di lantai. Tatapan Jova tertuju ke mantel yang teronggok di lantai. Jova berlutut dan mengambil mantel itu, mantel berwarna coklat tua yang sudah lama tidak disentuh.
Mantel itu mengingatkannya kepada seorang pria di malam kelam itu, pria yang dipanggil dengan sebutan Marcel dan satu-satunya pria yang menutupi kehormatannya.
Joya menyentuh mantel itu, lantas mengusapnya lembut hingga ingatan akan dua tahun lalu pun muncul di pikirannya.
Dua tahun lalu.
Jova saat itu menatap pria yang memberinya mantel pergi meninggalkan dirinya dalam kegelapan. Samar-samar mendengar perbincangan pria itu dengan seorang pria.
“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya seorang pria yang memanggil dengan sebutan nama Marcel.
“Aku hanya baru saja melihat kucing manis,” jawab Marcel dengan suara malas.
Jova saat itu merasakan debaran di jantungnya ketika pria yang memberinya mantel menyebut dirinya kucing manis.
__ADS_1
“Kakakmu sedang murka, masuklah dan bantu tenangkan dia!” perintah pria itu.
Jova bersembunyi di dekat bak sampah, mengamati punggung pria yang baginya begitu baik. Pria itu sempat melirik ke arahnya, sebelum kemudian menghilang dari pandangan.
Jova meninggalkan tempat itu saat merasa jika aman dan tidak ada yang melihat. Kakinya begitu lemas karena lelah dan juga sakit di bagian intinya akibat perbuatan pria hiperseks yang terus mengulang perbuatannya.
Kaki telanjang itu terus melangkah, saat baru saja akan menyeberang jalan, sebuah sorot lampu dari mobil mengejutkan Jova. Secara spontan wanita itu mengangkat lengan untuk menutup mata karena silaunya sorot lampu di mata, terdengar suara decitan ban yang bergesek dengan aspal malam itu. Jova berpikir jika dia akan mati, tapi ternyata tidak.
**
Jova menghela napas kasar setelah mengingat kejadian malam itu. Menatap mantel pria yang tidak pernah dilihatnya lagi karena dia memilih pergi dari kota tempatnya lahir dan tumbuh. Jova pun melipat mantel itu, lantas kembali menyimpannya di kotak dan menutup kembali. Dia tidak mampu membuangnya karena berpikir jika suatu saat nanti ingin berterima kasih kepada pria yang baginya sangat baik.
Wanita itu melangkah perlahan karena takut mengganggu, kemudian menyentuh pundak wanita paruh baya yang tidur dengan posisi duduk.
“Bibi, kenapa kamu tidur dengan posisi duduk?” tanya Jova saat wanita paruh baya itu terbangun karena sentuhannya.
Wanita paruh baya itu terkejut, kemudian mencoba membuka dengan sempurna kelopak matanya.
__ADS_1
“Ah … kamu ternyata sudah pulang.” Wanita bernama Helen itu mengucek mata.
“Ya, agak kemalaman karena tadi masih ada pengunjung yang melakukan treatment,” jawab Jova dengan suara lembut.
Hingga tatapan Jova tertuju ke baby box yang ada di kamar itu. Dia berjalan dan kemudian sedikit menunduk untuk menatap malaikat kecil yang sedang tertidur pulas di sana.
Bayi laki-laki berumur satu tahun lebih itu tidur dengan begitu damai, terlihat bibir mungilnya bergerak seolah sedang menyesap sesuatu. Jova mendekatkan wajah, kemudian mengecup kening putra yang dilahirkannya sekitar satu tahun lalu itu.
Helen memandang Jova yang begitu menyayangi bayinya, meski Helen tahu jika Jova melahirkan tanpa suami. Helen ingat betul dua tahun lalu Jova datang mengontrak rumahnya dalam kondisi tertekan dan sangat pendiam. Membuat wanita itu kasihan hingga menerima Jova di sana. Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian, Helen tahu kalau Jova hamil, hingga mendengar semua kisah pilu Jova dan membuat Helen begitu simpati sampai sekarang.
“Apa dia rewel?” tanya Jova sambil menyentuh jari mungil bayinya.
Bayi mungil bernama Sean Light itu tidak pernah diinginkan Jova hadir dalam rahimnya. Namun, Jova juga tidak bisa membunuh begitu saja bayi itu saat di rahimnya, membuat Jova akhirnya mempertahankan meski bayi itu selalu mengingatkannya akan mimpi buruk malam itu.
“Tidak,” jawab Helen, "seperti biasa, dia seolah tahu kalau ibunya sibuk, hingga dia tenang dan menangis saat lapar saja.”
Jova tersenyum mendengar ucapan Helen, kemudian kembali memandang putra yang dikandung dan dilahirkannya.
__ADS_1
“Meski kamu pernah aku benci karena kehadiranmu, tapi kini kamu adalah malaikat keberuntunganku, Sean.”