
Beberapa hari berlalu semenjak Jova dibawa Morgan. Meski Jova tidak ingin, tapi dia juga tetap harus bertahan demi Sean.
Ella sedang pergi ke dapur untuk membuatkan susu Sean, di sana ternyata ada dua pelayan lainnya dan Ella mencoba mengabaikan, meski pernah mendengar dua pelayan itu sering menggosipkan Jova.
“Ella, kamu sekarang terlihat begitu dekat dengan wanita itu,” kata salah satu pelayan.
Ella terlihat malas menanggapi pelayan itu, apalagi mereka sekarang tidak mau melayani Jova, jika tidak ada Morgan di sana.
“Ya, karena Nyonya baik,” balas Ella tanpa menoleh ke para pelayan itu.
“Nyonya? Apa kamu tahu siapa Nyonya sebenarnya?” Pelayan itu mencibir karena Ella memanggil Jova dengan sebutan Nyonya.
“Tahu, tapi di sini Tuan meminta kita memanggilnya Nyonya, wajar kalau aku memanggilnya seperti itu.” Ella sedikit kesal karena para pelayan itu terlihat sok jika tidak ada Morgan, serta tidak mau menghormati Jova sebagaimana mestinya.
“Kalau aku tidak sudi, apalagi jika dia menjilat untuk mendapatkan dukungan. Aku tahu kalau kamu dekat karena merasa dia baik, bagaimana kalau sebenarnya sebaliknya? Dia itu hanya butuh kaki tangan saja.”
Ella terlihat geram mendengar celotehan para pelayan yang dianggapnya hanya iri karena Jova menjadi tuan rumah di sana.
__ADS_1
“Seharusnya kalau kalian tidak suka dengan Nyonya, langsung saja utarakan di depan Tuan, jangan suka menggunjingkan Nyonya di belakang saja. Aku mau lihat, besar mana kuasa antara kalian dan Nyonya di hadapan Tuan.” Ella melirik tajam kepada kedua pelayan itu setelah bicara.
Dua pelayan itu terperangah mendengar sindiran Ella, tentu saja mereka tidak akan berani menjelekkan Jova di depan Morgan. Mereka pun akhirnya diam dan tidak lagi berani berdebat dengan Ella.
Ella benar-benar kesal dan lelah mendengar celotehan para pelayan itu. Bukankah tugas mereka hanya bekerja dengan baik agar mendapatkan gaji yang baik pula, tapi sikap dan tingkah mereka seperti pemilik rumah, membuat Ella muak dan enggan dekat-dekat dengan para pelayan itu.
Ella pun segera pergi dari dapur setelah membuatkan susu untuk Sean, semakin lama di dapur, maka akan semakin membuatnya emosi.
“Lihat dia, mungkin dia sudah mendapatkan sesuatu dari wanita itu, makanya terus membelanya.”
“Betul, aku yakin itu.”
**
“Kenapa wajahmu masam seperti itu?” tanya Jova ketika melihat wajah Ella yang memberengut.
“Saya kesal dengan dua pelayan itu, mereka tidak ada habisnya menghina dan terus menuduh Anda yang bukan-bukan,” geram Ella menjawab pertanyaan Jova. Ella memberikan botol susu ke Sean, bayi laki-laki itu langsung memasukkan ujung dot dan berbaring sambil menikmati susu.
__ADS_1
“Jangan diambil hati, sikap mereka akan seperti itu terus dan tidak akan bisa diubah. Semakin kamu membuat pembelaan, semakin mereka akan menyudutkanmu. Jadi, abaikan saja. Lagi pula aku pun tidak masalah,” ujar Jova yang tidak ingin Ella terlibat hanya karena membelanya.
“Tapi tetap saja mereka menjengkelkan. Nyonya, apa Anda tidak ingin mengadukan mereka ke Tuan, biar saja mereka dipecat daripada membuat telinga orang panas.”
Jova terdiam mendengar ucapan Ella, tentu saja dia tidak akan mau mengadu, atau Morgan akan besar kepala dan menganggap jika Jova membutuhkan pria itu.
**
Jova kembali ke kamar saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ini sudah larut dan Morgan tidak datang, artinya Jova bisa bebas tidur malam ini sendirian dan tidak merasa was-was jika Morgan ada di sampingnya. Pria itu masih percaya kalau Jova sedang datang bulan, sehingga malam-malam sebelumnya hanya memeluk dan tidak melebihi batas saat mereka tidur satu ranjang.
Jova masih di kamar mandi dan hendak keluar untuk segera beristirahat, hingga saat membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di hadapannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Jova sangat terkejut hingga memegangi dada karena jantungnya berdegup dengan cepat.
Jova sudah mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur, sehingga saat melihat orang lain di sana, dia bisa sangat terkejut.
Morgan menatap Jova yang terkejut, pria itu terus memandang hingga membuat Jova salah tingkah.
__ADS_1
“Aku pikir dia tidak akan datang,” gumam Jova dalam hati juga menatap Morgan yang berdiri di hadapannya.