Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Tidak dianggap


__ADS_3

Edmund terlihat duduk di sebuah mobil yang disewanya, memandang ke rumah mewah yang ada di seberangnya. Dia sedang berada di seberang jalan rumah Morgan, tentu saja tujuannya untuk mencari keberadaan Jova.


“Tidak mungkin Jova tinggal di sini, tapi aku harus mencari tahu keberadaannya,” gumam Edmund dengan mata yang terus memantau.


Edmund hanya melihat satu mobil yang keluar dan masuk di rumah mewah itu, tapi penumpang di dalamnya bukanlah Morgan.


“Di mana dia menyembunyikan Jova.”


**


Jova duduk di kamar dengan pakaian yang sudah tertutup. Dia duduk di kursi yang menghadap balkon, kedua kaki naik di atas kursi dan ditekuk, kemudian dipeluk.


Ella sendiri cemas karena sejak siang tadi Jova tidak keluar dari kamar, hingga malam pun majikannya itu masih tidak menampakan diri keluar untuk sekadar makan atau minum. Akhirnya Ella memberanikan diri masuk kamar Jova, saat masuk melihat Jova yang duduk melamun.

__ADS_1


“Nyonya.” Ella memanggil tapi tidak ada jawaban dari Jova.


Ella pun mendekat dan kini berdiri di samping Jova duduk, ditatapnya wajah Jova yang pucat dengan kelopak mata yang bengkak, menandakan jika wanita itu baru saja banyak menangis.


“Nyonya, apa Anda baik-baik saja?” tanya Ella, “Anda mau makan sesuatu?” tanya Ella lagi.


Jova menghela napas kasar mendengar pertanyaan Ella, hingga kemudian menjawab, “Aku baik-baik saja.”


Ella berjongkok di samping Jova, memegang pinggiran kursi yang diduduki majikannya itu, lantas kembali bicara.


Jova menoleh dan memandang Ella, hingga kedua bola matanya tampak berkaca, bahkan buliran kristal bening kini membendung di pelupuk mata.


“Ada apa, Nyonya? Jika Anda butuh teman bercerita, saya siap mendengarkan,” ucap Ella yang merasa kalau Jova saat ini sangat tertekan dan butuh meluapkan semua masalahnya.

__ADS_1


Jova tidak berkata-kata, tapi kemudian menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan dan kedua pundaknya pun bergetar hebat.


Ella sangat terkejut melihat Jova menangis, hingga kemudian mencoba mengusap lengan Jova untuk menenangkan. Ternyata masalah Jova tidak semudah yang orang bayangkan. Hidupnya yang dianggap beruntung karena menjadi simpanan Morgan, tapi ternyata jauh berbeda dengan yang dirasakan Jova.


**


Luna bersiap untuk tidur, wanita itu sudah berbaring dan menarik selimut sebatas dada. Hingga Luna mendengar suara pintu terbuka, dia pun kembali bangun untuk melihat siapa yang datang.


Morgan pulang ke rumah utama, dia masih kesal dengan ucapan dan sikap Jova, membuatnya enggan kembali ke rumah yang ditinggali Jova, sebab tidak ingin bertengkar lagi dengan wanita itu.


“Kamu pulang.” Luna terlihat begitu senang. Dia turun dari ranjang untuk menyambut suaminya.


Morgan memasang wajah datar, suasana hatinya sedang buruk sehingga semakin malas saat Luna menyambutnya.

__ADS_1


Luna berjalan mendekat untuk membantu suaminya melepas jas atau dasi, tapi Morgan tampak menghindar dan langsung masuk kamar mandi.


Luna tertegun di tempatnya, kenapa suaminya berubah jadi dingin lagi kepadanya. Dia terlihat begitu kecewa dengan sikap Morgan, hingga mengepalkan kedua telapak tangan yang berada di samping tubuh. Luna akhirnya menunggu Morgan, dua hari suaminya tidak pulang tapi saat pulang malah bersikap dingin kepadanya, membuat Luna semakin yakin jika suaminya mungkin kembali bermain wanita.


__ADS_2