
Morgan sedang menghadiri sebuah rapat dengan beberapa staf. Pria itu duduk dengan tegap dan terlihat serius mendengarkan penjelasan juga program-program yang dirancang para staf untuk memajukan perusahaannya itu.
“Jadi begitu, Pak. Proyek ini untuk jangka panjang, jika Anda setuju, tim kami akan segera merealisasikannya,” ucap salah satu staf yang baru saja selesai menerangkan.
Morgan terlihat ingin menjelaskan, tapi terhenti saat melihat ponselnya berdering. Nama Jova terpampang di layar, membuat Morgan mengangkat tangan untuk memberi isyarat agar stafnya menunggu, sedangkan dia memilih menjawab panggilan itu.
“Halo.” Morgan menjawab panggilan itu, membuat para staf langsung pandang.
Tidak biasanya Morgan menjawab panggilan saat sedang melakukan rapat, tapi kenapa sekarang berbeda, membuat para staf berpikir jika itu adalah panggilan penting.
“Kamu memang bajingan! Lihat apa yang sudah kamu lakukan! Kamu memaksaku tinggal di sini, sedangkan pelayanmu tidak bisa menerimaku. Sekarang Sean menjadi korban dan aku tidak bisa memaafkan itu. Hidupku berantakan tiap aku bersamamu!” Suara Jova terdengar meledak-ledak dari seberang panggilan.
Morgan langsung membulatkan bola mata mendengar suara Jova, belum lagi Jova terdengar menahan sesuatu yang begitu berat. Juga ada suara Sean yang menangis.
“Apa yang terjadi?” Suara Morgan yang begitu keras mengejutkan seluruh staf yang berada di ruangan itu.
“Kenapa kamu tidak tanya pelayan sialanmu?” Jova benar-benar meluapkan emosinya, lantas mengakhiri panggilan setelah mengucapkan itu.
Morgan sangat terkejut mendengar ucapan Jova, hingga langsung berdiri dan membuat para staf terkejut termasuk Bastian.
“Tuan.”
__ADS_1
“Urus rapatnya, aku harus pergi.” Morgan merapikan jasnya, kemudian langsung meninggalkan ruang rapat itu.
Bastian dan para staf sangat terkejut, urusan penting apa sampai membuat Morgan buru-buru pergi.
Di rumah Morgan. Jova baru saja mengakhiri panggilannya dengan Morgan, dadanya terlihat naik turun tidak beraturan, matanya merah karena menahan amarah yang membuncah. Ditatapnya dua pelayan yang sudah berani menghina juga membuat Sean terjatuh. Ella menjelaskan semua, meski kedua pelayan itu mencoba mengelak, tapi Jova tetap percaya kepada Ella.
Ella dan dua pelayan tadi sempat terkejut saat mendengar Jova mengatai Morgan, menunjukkan jika Jova bukanlah wanita sembarangan karena berani bersikap tidak sopan ke Morgan.
“Berikan Sean kepadaku!” perintah Jova ke Ella.
Ella pun memberikan Sean ke Jova. Jova langsung menggendong dan menenangkan putranya yang sesenggukan, melihat kepala bagian kanan memar dan sedikit benjol karena membentur lantai.
“Jika Morgan tidak menghukum kalian, maka aku yang akan memberi perhitungan ke kalian!” ancam Jova dengan tatapan penuh kemarahan dan rasa benci.
“Bukan kami yang memulai, tapi Ella.” Pelayan itu masih saja melakukan pembelaan.
“Kalau kalian tidak mengatai anakku anak haram, Ella tidak akan membuat masalah dengan kalian, brengsek!” amuk Jova karena kembali geram sebab pelayan itu masih membela diri.
“Memangnya aku mau anakku lahir di luar status, siapapun tidak akan mau. Apa kamu pikir aku senang dengan semua ini? Manusia-manusia bodoh dan penuh rasa iri seperti kalian tidak akan pernah paham!” umpat Jova yang tidak bisa lagi membendung emosinya yang meledak-ledak.
Ella tahu jika Jova bersikap seperti sekarang karena sakit hati sebab putranya terluka, biasanya Jova bersikap lemah lembut, ramah, dan sangat baik.
__ADS_1
Kedua pelayan itu terdiam mendengar ucapan Jova, tentu saja tidak akan paham dengan apa yang terjadi kepada Jova.
Jova masih mencoba menenangkan Sean, bayinya itu mulai terlihat tenang dan menyandarkan kepala di pundak Jova sambil memejamkan mata karena lelah menangis.
Lima belas menit berlalu, Morgan akhirnya sampai di rumah dan melihat Jova yang sedang menggendong Sean sambil menatapnya penuh amarah. Hingga kemudian dia melihat Ella dan dua pelayan yang menundukkan kepala ketika melihatnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Morgan berjalan masuk sambil menatap pelayannya.
“Ella yang menabrak stroller Tuan kecil, tapi kami yang disalahkan,” jawab salah satu pelayan mencoba mencari pembelaan, mereka bekerja di sana lebih lama dari Ella, sebab itu berani membela diri dan berharap Morgan membela mereka.
Ella sangat terkejut karena langsung disalahkan, hingga menatap kedua pelayan tadi, sebelum kemudian menatap Morgan dan melihat tatapan tajam pria itu.
Jova langsung tertawa mencibir, membuat Morgan langsung menatap ke arahnya.
“Kenapa kalian melewatkan apa yang sudah kalian katakan tentang putraku? Katakan! Katakan kepada tuanmu ini, sebutan apa yang kalian berikan ke putraku! Hanya karena kalian membenciku, tidak sepatutnya kalian mengatainya seperti itu!” Suara Jova awalnya biasa, tapi lama kelamaan meninggi dan terus tinggi, hingga urat leher Jova terlihat saat bicara dengan nada tinggi.
Morgan belum mengerti dengan apa yang dikatakan Jova, hingga menatap kedua pelayan yang ada di hadapannya.
“Kalian menyebut putraku apa?” Morgan bertanya masih dengan suara pelan.
Kedua pelayan itu menunduk karena takut, bahkan salah satu dari mereka terlihat gemetar.
__ADS_1
“Kalian menyebutnya apa, hah! Katakan!” Suara Morgan begitu keras, menggelegar di seluruh ruangan hingga membuat yang mendengarnya langsung bergedik ngeri.