
“Aku akan melindungimu, kamu jangan cemas, hm ….”
Edmund mencoba menenangkan Jova, setelah wanita itu menceritakan apa yang terjadi.
“Tidak, Ed. Aku tidak yakin akan hal itu. Aku tidak ingin melibatkanmu,” ucap Jova yang masih dalam pelukan Edmund.
Edmund mengusap rambut Jova, hingga sekali lagi mencoba menenangkan karena tahu betapa tertekannya Jova.
“Pasti bisa. Kamu tidak bisa terus terbelenggu oleh pria itu. Apa kamu juga mau bersamanya?” tanya Edmund kemudian.
Jova menggeleng dengan kepala masih bersandar di kepala Edmund, tentu saja dia tidak akan mau bersama pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Meskipun semua itu berawal dari ulah sang ayah yang menjualnya, tapi tetap saja bagi Jova, Morgan tidak punya hati karena hendak menjadikannya simpanan.
“Kita lakukan bersama, apa pun yang terjadi, aku pasti akan melindungimu,” ucap Edmund mencoba meyakinkan.
**
Saat pulang, Edmund mengantar Jova karena cemas terjadi sesuatu kepada Jova. Belum lagi Jova berkata kalau Morgan akan datang kembali untuk menemui kekasihnya itu. Jova tidak mengatakan kalau Morgan ingin membawanya, takut jika Edmund melakukan sesuatu untuk mencegah Morgan, tapi berimbas membahayakan keselamatan pria itu sendiri.
“Apa kamu ingin aku menginap?” tanya Edmund saat mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Jova.
Jova menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Tidak perlu, lagi pula sepertinya dia tidak tahu aku tinggal di mana, sebab itu dia mendatangi salon.”
__ADS_1
Jova mengira Morgan tidak tahu, padahal ada anak buah pria itu yang memantau di luar rumah Jova.
“Baiklah, jika ada apa-apa, hubungi aku,” kata Edmund kemudian.
Jova mengangguk, lantas melepas seat belt dengan wajah lesu, sebelum kemudian turun dari mobil Edmund. Dia berdiri sambil melambai saat mobil Edmund meninggalkan rumahnya. Jova hendak masuk rumah, hingga langkah terhenti saat menyadari ada mobil terparkir tidak jauh dari rumahnya.
“Mobil itu? Apa ditinggal pemiliknya? Kenapa sudah sejak pagi aku merasa mobil itu terus di sana?”
**
Di negara tempat Luna tinggal. Wanita itu sedang menunggu panggilan dari suaminya. Morgan berkata kalau hanya akan ke luar negeri dua hari, tapi ternyata sang suami belum pulang dan bahkan tidak menghubunginya sama sekali.
“Apa urusan bisnisnya ada kendala? Kenapa dia belum kembali? Biasanya dia akan langsung pulang setelah semua urusan selesai, bahkan jika berkata hanya pergi sehari, maka dia akan pulang di hari berikutnya. Apa jangan-jangan dia kembali ….”
“Malam kakak ipar,” sapa Marcel—adik Morgan, yang berkunjung ke rumah Luna.
Luna menoleh dan melihat sang adik ipar sedang berjalan menghampirinya.
“Marcel.” Luna langsung berdiri melihat adiknya.
“Ada apa malam-malam ke sini?” tanya Luna karena tidak biasanya Marcel datang ke rumahnya, terlebih saat Morgan tidak sedang di rumah.
__ADS_1
“Aku lupa kalau ada berkas yang harus aku urus, aku sudah menghubungi Morgan dan dia memintaku mengambil di ruang kerjanya,” jawab Marcel.
Marcel memang tidak memimpin langsung perusahaan milik keluarga yang dikelola Morgan. Dia hanya menjadi salah satu direktur di perusahaan itu, karena Marcel tidak ingin ambil pusing mengurus perusahaan besar itu, meski Morgan sudah menawarinya untuk menjadi direktur utama di anak cabang perusahaan keluarga mereka.
“Oh begitu. Ambillah, dokumen mana yang kamu butuhkan,” kata Luna kemudian.
Marcel mengangguk dan berjalan menuju ke ruang kerja Morgan. Marcel dan Morgan memang kakak beradik, tapi keduanya memiliki kepribadian dan sifat yang bertolak belakang. Morgan tegas dan kejam, sedangkan Marcel pria berhati lembut dan baik sehingga memilih tidak memimpin perusahaan karena tahu kalau tidak bisa melawan kerasnya dunia bisnis dengan sifatnya itu.
“Marcel!” Luna memanggil lagi saat Marcel baru saja berjalan.
Pria itu menghentikan langkah dan menoleh ke sang kakak ipar.
“Apa Morgan menanyakanku atau anak-anak? Apa dia berkata masih lama di sana?” tanya Luna.
Marcel mengerutkan dahi, kenapa Luna malah menanyakan hal itu kepadanya. Bukankah Luna bisa langsung menghubungi Morgan untuk bertanya.
“Tidak. Aku menghubunginya untuk menanyakan berkas dan dia tidak mengatakan hal lainnya.”
Luna terlihat gusar dan cemas, sedangkan Marcel tahu kalau Luna pasti cemas jika sang suami kembali seperti dulu. Tentu Marcel tahu kelakuan sang kakak, karena dia pun sering ikut dan menunggu jika sang kakak sedang haus akan buaian wanita dan membayar wanita panggilan di luaran sana.
Mengingat akan wanita bayaran, Marcel teringat kepada salah satu wanita panggilan yang dibiarkannya kabur malam itu. Andai Morgan tahu kalau dialah yang membiarkan gadis tidak berdaya dan lemah itu pergi, mungkin sang kakak akan membunuhnya. Namun, meski begitu Marcel tidak takut, karena merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Melihat tatapan sendu dan pilu gadis di malam itu, membuat Marcel tidak tega dan memilih menyembunyikan gadis itu.
__ADS_1
Marcel awalnya tidak tahu siapa gadis itu, hingga saat sang kakak murka karena kehilangan gadisnya, saat itulah Marcel sadar jika gadis yang diberinya mantel adalah gadis milik sang kakak yang membuat sang kakak mengamuk seluruh anak buahnya, termasuk dia.
“Gadis itu, di mana dia sekarang dan bagaimana kabarnya?”