Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Mirip denganku


__ADS_3

“Kamu berkata akan datang setelah dua hari, ini baru sehari,” ucap Jova memberanikan diri bicara, meski jantungnya terus berdegup dengan cepat.


Jova terpaksa mempersilakan Morgan masuk karena tidak ingin terjadi masalah di sana.


Morgan tidak langsung membalas ucapan Jova, memilih menyesap kopi yang tadi disajikan Helen.


Jova masih menunggu dengan rasa cemas, terlebih takut jika sampai Morgan membahas soal Sean. Mereka duduk di teras rumah, Jova sesekali melirik pintu karena Sean di dalam bersama Helen.


“Kamu membuatku kesal sehingga aku akhirnya mendatangimu lebih awal, Chloe.” Morgan bicara setelah selesai menyesap kopi.


Jova mengerutkan alis mendengar ucapan Morgan, apa maksud dari perkataan pria itu.


“Membuatmu kesal? Aku melakukan apa? Aku tidak kabur, bagaimana bisa kamu kesal?” Jova menatap Morgan dengan rasa tidak percaya.


“Bukankah aku sudah mengatakan berulang kali kalau kamu milikku dan tidak ada yang boleh bersamamu selain aku. Kamu melupakan itu, Chloe.” Morgan menatap tajam Chloe yang duduk berhadapan dengannya.


Chloe terperangah mendengar ucapan Morgan.


“Apa maksudmu?” tanya Jova dengan dahi berkerut.


“Bukankah aku sudah bilang, jika kamu macam-macam maka aku akan menghancurkan siapapun yang dekat denganmu. Aku tidak suka kamu dekat dengan pria itu, Chloe. Tapi kamu malah terus bersamanya,” ujar Morgan menjawab pertanyaan Jova.


Jova semakin terperangah, apakah yang dimaksud Morgan adalah Edmund.

__ADS_1


“Lihat akibat perbuatanmu, seseorang harus terluka karenamu,” ucap Morgan lagi santai sambil menyilangkan kaki.


“Ap-apa?” Jova begitu terkejut.


Jova teringat Edmund, hingga mengambil ponsel dan langsung menghubungi kekasihnya itu.


“Ed, apa terjadi sesuatu denganmu?” Jova langsung bertanya saat panggilannya terhubung dengan Edmund.


“Jo, kamu tahu dari mana. Maaf tidak menghubungimu.” Suara Edmund terdengar dari seberang panggilan, tampaknya Edmund mengira kalau Jova tahu jika dia mengalami kecelakaan, padahal tidak.


Jova menatap Morgan yang terlihat santai, bahkan pria itu kembali menyesap kopi.


“Ed, apa yang terjadi?” tanya Jova kemudian.


“Semalam aku tidak sengaja menerobos lampu merah karena ada yang mengikuti, hingga akhirnya aku tidak sengaja menabrak mobil lain,” jawab Edmund dari seberang panggilan.


Morgan hanya tersenyum miring melihat kepanikan di wajah Jova, hingga pria itu mengedarkan pandangan dan mengeksplore halaman rumah Jova.


“Kamu sekarang di mana? Apa terluka?” tanya Jova kemudian.


“Hanya patah lengan, sementara aku masih di rumah sakit,” jawab Edmund dari seberang panggilan. “Kalau kamu tidak bisa datang, jangan ke sini,” ucap Edmund kemudian.


Jova berpamitan, kemudian mengakhiri panggilan dan menatap Morgan yang terlihat tenang.

__ADS_1


“Ini ulahmu,” ucap Jova dengan tatapan tidak senang.


“Itu hanya peringatan kecil untukmu. Aku tidak pernah main-main, Chloe. Jadi jangan pernah melakukan hal yang aku larang!” Morgan awalnya bicara dengan ekspresi biasa, hingga tatapan pria itu tiba-tiba berubah begitu tajam.


Jova mengepalkan kedua telapak tangan yang ada di atas lutut, tampaknya dia memang tidak pernah bisa lepas dari pria itu, kecuali Morgan sudah bosan kepadanya, seperti yang pria itu katakan dua tahun lalu.


“Apa maumu?” Jova memejamkan mata saat menanyakan hal itu.


“Bukankah aku sudah mengutarakannya. Aku ingin kamu ikut denganku, menjadi milikku.” Morgan menatap keputusasaan di wajah Jova.


Jova menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, sebelum kemudian membuka mata dan menatap Morgan yang sudah memandangnya.


“Jika aku melakukan itu, apakah kamu akan melepaskan Edmund?” tanya Jova kemudian.


“Ya, asal kamu menuruti semua ucapanku, termasuk meninggalkannya. Jika kamu membangkang, maka aku bisa berbuat lebih buruk dari sekadar membuatnya celaka,” jawab Morgan dengan nada ancaman. Dia hanya ingin Jova takut dan tunduk kepadanya.


Jova meremass jemarinya, sedikit menunduk dan terlihat berpikir. Dia tidak bisa membuat Edmund celaka, Morgan mungkin bisa saja melakukan hal buruk terhadap pria yang sudah menolong dan mengisi hidupnya itu. Jova tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, sehingga dia pun harus membuat keputusan yang sangat sulit.


“Baiklah, asal kamu mau melepasnya serta tidak mengganggu orang-orang yang aku kenal. Aku akan ikut denganmu,” ucap Jova pada akhirnya meski hatinya begitu berat membuat keputusan itu. Dia hanya perlu membuat Morgan cepat bosan kepadanya, lantas bisa lepas dan pergi dari kehidupan pria itu untuk selamanya. Atau begitulah harapan Jova untuk saat ini.


Morgan menyeringai mendengar ucapan Jova, hingga tatapan ke pintu rumah Jova.


“Bayi itu, siapa namanya?” tanya Morgan ke Jova.

__ADS_1


Jova terkejut dengan jantung yang berdegup dengan cepat.


“Dia anakmu? Dia sangat mirip denganku. Apa dia anakku, Chloe?” Morgan menatap tajam ke Jova yang terlihat panik, membuat Morgan sangat yakin jika bayi yang dilihatnya adalah putranya.


__ADS_2