Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Makan malam


__ADS_3

Hari berikutnya, Edmund mengajak Jova keluar di malam hari, keduanya kini berada di mobil dan menuju ke suatu tempat.


“Kita mau ke mana?” Jova menoleh Edmund yang duduk di sampingnya sedang fokus mengemudi.


“Hanya mengajakmu ke suatu tempat,” jawab Edmund menoleh Jova dengan seulas senyum di wajah.


Jova menaikkan satu sudut alis, menatap pria yang menjadi kekasihnya itu dengan rasa penasaran.


“Aku tidak suka kejutan, Ed. Lebih baik kamu katakan sekarang,” ucap Jova sambil menelisik senyum di wajah pria itu.


Edmund mengulum bibir mendengar ucapan Jova, lantas menggelengkan kepala pelan.


Jova menggelembungkan pipi, kenapa Edmund harus main rahasia dengannya.


Edmund sendiri hanya tersenyum melihat tingkah Jova yang terkadang masih seperti anak kecil.


Mobil mereka berhenti di halaman parkir sebuah restoran. Jova pun mengerutkan dahi sambil melirik tajam ke Edmund.


“Makan malam?” tanya Jova.


Edmund tertawa kecil, lantas menganggukkan kepala pelan.


Mereka pun masuk ke restoran. Ternyata Edmund sudah membooking tempat di sana agar bisa makan berdua dengan Jova.


“Silakan.” Pelayan mengantar Jova dan Edmund ke ruangan yang dipesan.

__ADS_1


Jova sendiri berjalan sambil merangkul lengan Edmund, keduanya terlihat sangat serasi.


“Terima kasih,” ucap Jova saat Edmund menarikkan kursi untuknya. Dia pun duduk dengan anggun dan menunggu Edmund duduk.


“Bagaimana kabar Sean?” tanya Edmund saat keduanya sudah duduk.


Edmund biasanya datang ke rumah untuk melihat Sean, tapi karena kesibukan membuatnya beberapa hari ini tidak melihat bayi menggemaskan itu.


“Dia baik, bahkan kini semakin aktif,” jawab Jova penuh semangat.


Edmund memandang wajah ceria Jova, terlihat jelas ekspresi wajah itu tidak seperti dua tahun lalu di mana wajah itu penuh kesedihan, tekanan, juga keputusasaan.


Mereka makan malam dengan khidmat, hanya ada perbincangan ringan dan candaan di antara keduanya.


“Apa kamu berniat buka cabang?” tanya Edmund saat selesai makan.


Senyuman itu yang membuat Edmund jatuh cinta ke Jova. Awalnya dia hanya ingin menolong, tapi ketika melihat senyum Jova saat berterima kasih, membuat Edmund langsung jatuh hati ke wanita itu.


Edmund sendiri tidak pernah mempermasalahkan status Jova yang sudah pernah ditiduri pria lain hingga hamil, baginya itu adalah masa lalu buruk yang tidak pernah diinginkan wanita itu sebelumnya.


“Jo.” Edmund menatap lekat wajah yang selalu membuatnya terpesona itu.


“Ya.” Kini tatapan mereka pun bertemu.


“Aku punya hadiah untukmu, tapi jangan berpikir jika ini hadiah ulang tahun,” ujar Edmund sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.

__ADS_1


Jova menatap Edmund dengan rasa tidak percaya, melihat kotak berukuran sedang di tangan pria itu.


Edmund membuka kotak itu, memperlihatkan kalung dengan liontin berbentuk hati dan ada berlian kecil di tengahnya.


“Ed.” Jova merasa Edmund berlebihan.


“Aku melihatnya dan langsung terpikirkan tentangmu. Jadi, aku berpikir ini akan cocok denganmu,” ujar Edmund kemudian mengambil kalung itu dari kotak, lantas berdiri dan berjalan hingga berada di belakang Jova.


Jova tidak bisa berkata-kata, dia juga tidak bisa menolak karena takut menyakiti hati Edmund, pria yang sangat baik dan mau menampung serta membawanya keluar dari kota yang baginya seperti neraka.


Edmund memakaikan kalung itu di leher Jova, kini kalung dengan liontin berbentuk hati itu menggantung indah di leher wanita yang sangat dicintainya itu.


“Bagaimana?” tanya Edmund kemudian mencium pucuk kepala Jova.


“Sangat cantik,” jawab Jova sambil melirik ke bagian dada, lantas menyentuh liontin itu dengan jemarinya.


“Terima kasih,” ucap Jova kemudian sambil sedikit menengadahkan wajah untuk bisa menatap wajah Edmund.


Edmund mengulas senyum, sebelum kemudian sedikit membungkuk dan mendaratkan permukaan bibir mereka. Dia ******* dan menyesap lembut bibir ranum yang terasa manis itu.


**


Selepas makan malam, Jova berjalan sambil merangkul lengan Edmund. Sesekali dia menyandarkan kepala di lengan Edmund karena bercanda dengan pria itu, bahkan tertawa kecil karena kebahagiaan yang didapatnya.


Saat baru saja akan menginjakkan kaki di lobi restoran. Tanpa disadari seseorang mengamati dari jauh Edmund dan Jova yang sedang berjalan bersama. Memastikan apakah yang dilihatnya benar-benar Jova.

__ADS_1


“Chloe.”


__ADS_2