Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Menyalahkan Morgan


__ADS_3

“Kalian tidak menjawab! Kalian menyebut anakku apa?” Morgan kembali membentak karena dua pelayan itu menunduk dan terlihat ketakutan.


Dua pelayan itu semakin ketakutan melihat Morgan yang terlihat murka, bahkan kedua kaki mereka terlihat gemetar. Ella yang merasa tidak bersalah pun ikut takut.


“Apa yang mereka katakan?” tanya Morgan ke Ella karena dua pelayan itu tidak mau bicara.


Ella terlihat takut juga bingung, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dua pelayan itu karena Morgan sudah murka.


“Dia mengatai putraku anak haram.” Jova menjawab pertanyaan Morgan karena tahu kalau Ella juga takut kepada pria itu.


Seketika dua pelayan itu menjatuhkan lutut dan memohong ampun ke Morgan, saat mendengar jawaban Jova.


“Maaf, Tuan. Kami tidak sengaja.”


“Maafkan kami.”


Dua pelayan itu menangkupkan dua tangan, memohon agar dimaafkan atas kesalahan mereka.

__ADS_1


Jova menatap sengit, sekarang saja mereka memohon dan meminta maaf, sedangkan tadi tidak memikirkan bagaimana perasaannya sebagai ibu saat mendengar putranya disebut sebagai anak haram.


“Kalian benar-benar tidak tahu diri! Kalian dipekerjakan di sini untuk bekerja, tapi beraninya kalian mengatakan hal yang tidak-tidak, haH!” Morgan sangat murka mengetahui hal itu, hingga tangan meraih vas bunga di dekatnya dan berniat melemparkannya ke pelayan tadi.


Jova sangat terkejut dengan yang akan dilakukan Morgan, hingga buru-buru menahan pergelangan tangan pria itu agar tidak melukai siapapun di rumah itu.


Morgan menatap Jova yang berdiri di hadapannya masih sambil menggendong Sean, seraya memegang satu pergelangan tangannya. Wanita itu sudah merasa tersakiti, kenapa malah mencegahnya menghukum dua pelayan itu.


“Pecat saja mereka, jangan melakukan kekerasan fisik,” ucap Jova sambil menatap Morgan.


“Tapi dia berani menghina dan membuat Sean terluka,” balas Morgan yang masih tersulut emosi.


Morgan menurunkan tangan yang memegang vas, lantas meletakkan kembali vas itu, menatap Jova sebelum beralih kepada dua pelayan yang ada di hadapannya.


“Kalian dengar. Pergi dari rumah ini, mulai hari ini kalian aku pecat!” Suara Morgan kembali tinggi saat memecat dua pelayan tadi.


Jova sampai memejamkan mata mendengar suara lantang Morgan, sebelum kemudian kembali menatap wajah pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Ella masih diam menunduk, terlihat sesekali melirik dua pelayan yang berlutut di lantai.


Dua pelayan itu terkejut karena dipecat dari rumah itu, tapi mereka tidak bisa protes dan memilih segera bangun dan pergi ke kamar mereka untuk bersiap-siap pergi dari sana.


Morgan menatap Jova, hingga wanita itu memilih memalingkan wajah, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Morgan di sana.


**


Jova membaringkan Sean di kasurnya, putranya itu terlalu lelah menangis hingga akhirnya tertidur sendiri. Ditatapnya kepala Sean yang sedikit bengkak, hatinya mendesir ngeri membayangkan bagaimana tadi saat Sean jatuh.


“Maafin mama, sayang. Mama tidak bisa menjagamu dengan baik,” ucap Jova, sebelum kemudian mencium lembut pipi Jova.


Morgan ternyata menyusul Jova ke kamar Sean, hingga melihat wanita itu yang baru saja membaringkan Sean. Morgan pun berjalan mendekat, sebelum kemudian berhenti tepat di belakang Jova.


Jova mendengar langkah kaki Morgan, lantas menoleh dan melihat pria itu sudah menatapnya.


“Kamu berani mengataiku bajingan?” tanya Morgan yang ingat ucapan kasar Jova.

__ADS_1


Jova ingin rasanya tersenyum mencibir karena Morgan tidak terima dia memaki pria itu, hingga Jova menatap tajam ke Morgan, tidak peduli bagaimana penilaian pria itu dan apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Bukankah itu benar? Jika kamu tidak membawaku ke sini, aku dan Sean tidak akan dihina seperti tadi. Apa kamu pernah memikirkan perasaanku kami? Tidak! Kamu tidak pernah memikirkannya, kamu hanya memikirkan dirimu dan kepuasanmu sendiri saja!” amuk Jova. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Morgan kepadanya. Dia muak dengan sikap pria itu yang selalu semena-mena dan membuatnya menderita.


__ADS_2