Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Kecurigaan Luna


__ADS_3

Masih mengenakan lingerie dan kimono dengan warna yang senada, Luna duduk sambil menatap ponselnya. Dia melihat pesan chatnya sudah dibaca oleh Morgan, tapi sang suami tidak membalasnya.


“Apa dia bermain wanita lagi?” Luna bertanya-tanya dengan perasaan cemas.


Luna terdiam sesaat, kenapa nasib pernikahannya dengan Morgan harus seperti ini. Terkadang dia berpikir untuk hamil lagi, tapi jika melahirkan bayi perempuan lagi, mungkin Morgan akan semakin menjauhinya.


Di keluarga Morgan, anak laki-laki sangat dijunjung tinggi derajatnya daripada anak perempuan, hal itu dikarenakan anak laki-laki yang akan meneruskan bisnis keluarga secara turun temurun.


“Apa aku coba menghubunginya? Kalau dia marah bagaimana?” Luna merasa bingung, tapi juga cemas.


Luna terlihat berpikir, hingga kemudian berpikir untuk menghubungi Bastian, asisten suaminya itu terus ikut ke mana pun Morgan pergi, pasti Bastian mau menjawab panggilan darinya.


Luna merasa itu ide yang bagus, lantas memilih mendial nomor Bastian.


Di tempat Bastian sekarang, pria itu panik karena Luna menghubunginya. Dipandangnya Morgan yang sedang menggendong Sean dan terlihat begitu bahagia. Bastian sedikit menjauh agar Morgan tidak tahu kalau Luna menghubunginya, Bastian tahu hal itu akan membuat mood Morgan menjadi buruk, karena sang istri berani mencari tahu informasi tentang Morgan dari bawahannya.


“Halo, Nyonya.” Bastian menjawab panggilan itu.


“Halo, Bas. Kenapa lama menjawab?” tanya Luna dari seberang panggilan.


“Maaf, saya baru saja mengurus kebutuhan Tuan,” jawab Bastian dengan suara pelan.


Di tempat Luna, wanita itu sedikit curiga karena Bastian bicara dengan suara pelan, membuatnya berpikir kalau mungkin saja benar jika Morgan mulai bermain wanita lagi.


“Kalian tidak pulang sesuai rencana, apakah ada kendala di sana? Aku juga mencoba menghubungi suamiku, tapi dia tidak membalas pesanku. Jawab sejujurnya, apakah suamiku bermain wanita lagi? Apa dia tidur dengan wanita panggilan lagi?” tanya Luna dengan ekspresi wajah kesal dan marah.


Di tempat Bastian, pria itu kembali menatap Morgan yang sedang menggendong sambil mengajak bicara Sean, pria dingin dan kejam itu ternyata bisa terus tersenyum saat bersama bayi mungil itu.


“Urusan bisnisnya berjalan lancar, hanya saja ada kemunduran kesepakatan karena waktu itu Tuan tidak enak badan. Akhirnya kami menjadwal ulang, dan baru saja selesai. Mungkin besok kami akan pulang,” jawab Bastian mengatakan yang sebenarnya, meski sedikit menutupi masalah Morgan yang tidak fokus karena memikirkan Jova.


“Apa kamu tidak berbohong? Katakan saja jika dia memang bermain wanita lagi, bukankah itu sudah biasa bagiku,” ucap Luna dari seberang panggilan yang tidak percaya begitu saja dengan penjelasan Bastian.


“Tuan tidak bermain wanita atau mengundang wanita panggilan lagi, saya bisa pastikan itu,” balas Bastian. Ya, bukankah benar kalau Jova bukanlah wanita panggilan, Bastian tidak berbohong dalam masalah ini.


Di kamar Luna, wanita itu terdiam dan berpikir. Selama ini Bastian selalu jujur jika memang Morgan bermain wanita atau tidak pulang karena tidur dengan wanita lain, sehingga kali ini pun Luna percaya.

__ADS_1


“Baiklah, aku percaya kepadamu. Jika ada kesempatan, katakan kepadanya untuk membalas pesanku,” pinta Luna kemudian, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.


Luna kembali terdiam dengan ponsel di tangan.


“Haruskah aku menyewa mata-mata? Kenapa kali ini perasaanku benar-benar tidak tenang.”


Luna merasa seperti itu karena selama dua tahun ini terbiasa dengan buaian Morgan yang tidak lagi bermain wanita, membuatnya kembali posesif ke sang suami, padahal tahu kalau Morgan sangat benci sifat posesif Luna.


**


Morgan melihat Bastian yang baru saja selesai bicara dengan seseorang lewat telepon, hingga mendekat dan tidak disadari oleh asistennya itu.


“Siapa yang menghubungimu?” tanya Morgan begitu berada di belakang Bastian.


Bastian sangat terkejut dan langsung menoleh. Dia panik karena Morgan sudah ada di hadapannya.


Morgan memicingkan mata melihat kepanikan dalam tatapan Bastian, hingga bisa menebak siapa yang baru saja menghubungi.


“Luna menghubungimu? Apa yang ditanyakannya?” tanya Morgan menebak.


“Nyonya tanya apakah ada kendala di sini, juga kenapa Anda tidak membalas pesannya,” jawab Bastian. Dia tidak menceritakan kecurigaan Luna kepada Morgan, karena takut jika akan menghancurkan mood bosnya itu.


“Lalu kamu jawab apa?” tanya Morgan. Dia tahu kalau Bastian pintar, yakin jika asistennya itu tidak mungkin langsung jujur ke Luna.


“Saya berkata kalau awalnya ada kendala sedikit dan sudah diselesaikan, dan Nyonya percaya,” jawab Bastian.


Morgan menatap Bastian dengan ekspresi wajah datar, sebelum kemudian membalikkan badan karena hendak menunggu Jova selesai berkemas.


“Tuan, apakah tidak sebaiknya Anda membalas pesan Nyonya agar dia tidak curiga?” tanya Bastian memberikan ide karena merasa kalau Morgan terlalu mengabaikan Luna.


Morgan menghentikan langkah dan membalikkan badan. Dia lantas merogoh saku jas dan mengeluarkan ponsel, kemudian menyodorkan ke Bastian.


“Balas sesukamu!” perintah Morgan, kemudian kembali melangkah menuju halaman rumah Jova.


Bastian menggaruk kepala tidak gatal, kenapa selalu begini. Dia yang akan diminta membalas pesan dari Luna jika memberikan ide untuk itu.

__ADS_1


Di dalam rumah. Jova sudah selesai berkemas, menatap seluruh ruangan kamar yang akan dirindukannya. Kamar yang sudah menemaninya selama dua tahun ini dan menyimpan banyak kenangan akan kepedihan dan juga kebahagiaan.


“Ingat untuk jaga kesehatanmu demi Sean, jangan hanya karena tertekan, kamu mengabaikan dirimu sendiri,” ucap Helen menasihati.


Jova tersenyum tipis, tahu kalau Helen sebenarnya sangat mencemaskan dirinya.


“Aku tidak akan menjadi lemah hanya karena dibelenggu pria itu. Aku akan tetap berjuang demi Sean,” balas Jova.


Helen menatap Jova dengan iba, lantas memeluk Jova seolah menyalurkan kekuatan ke wanita yang sudah dibantunya selama ini.


Mereka pun keluar dari rumah membawa koper berisi barang-barang pribadi Jova dan Sean. Jova menghentikan langkah saat melihat Sean yang sedang diajak bicara Morgan. Pria dingin dan kejam itu, bagaimana bisa membuat putranya tertawa.


Anak buah Morgan melihat Jova yang keluar membawa koper, mereka dengan sigap menghampiri dan mengambil koper dari tangan Jova dan Helen. Helen sebenarnya masih berat melepas Luna dan Sean, bagaimanapun dialah yang sudah merawat Sean dari lahir dan kini harus dipisahkan darinya.


“Apakah aku masih boleh menggendongnya sebentar saja?” tanya Helen yang cemas jika tidak akan pernah bisa menggendong Sean lagi.


Jova mengangguk kemudian mengajak Helen mendekat ke Morgan.


“Bibi Helen ingin menggendong Sean sebelum pergi,” ucap Jova ke Morgan.


Morgan menatap Jova yang masih memasang wajah tidak senang kepadanya, kemudian memandang ke Helen yang bersiap mengangkat tangan untuk mengambil Sean. Morgan memberikan Sean agar wanita itu bisa mengucapkan salam perpisahan.


“Sean sayang, Bibi pasti merindukanmu. Kamu jangan rewel, hm ….” Helen mencium pipi kanan dan kiri Sean. Air mata mengalir dari kelopak mata karena akan berpisah dengan bayi itu.


Setelah puas berpamitan, Helen memberikan Sean ke Jova lagi. Dia lantas memeluk Jova yang sedang menggendong Sean.


“Jangan lupa sampaikan pesanku ke Edmund, Bi.” Jova bicara lirih agar Morgan tidak dengar.


“Tentu saja,” bisik Helen, tatapannya tertuju ke Morgan yang mengawasi. Pria itu benar-benar menakutkan, membuat Helen cemas apakah Jova akan diperlakukan baik oleh pria itu.


“Ayo!” ajak Morgan dengan nada suara datar.


Jova melepas pelukan, terlihat genangan di pelupuk mata tapi ditahan agar tidak meluap.


Pada akhirnya, Jova benar-benar akan menjadi burung dalam sangkar. Sekuat apa pun dia terbang untuk menghindar, tetap saja tertangkap dan tidak bisa kabur lagi. Menyesal, kenapa kebebasannya begitu singkat.

__ADS_1


__ADS_2